Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser

Kompas.com, 22 Februari 2026, 09:38 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ketika aturan konser dilanggar dan ruang pandang penonton terganggu, mengapa konflik kecil bisa berubah menjadi perdebatan lintas negara? Apakah ini sekadar soal kamera, atau ada akumulasi emosi yang lebih dalam di baliknya?

Saya mulai menonton konser K-pop sejak 2012, terutama saat era BIGBANG dan G-Dragon. Terakhir, saya kembali masuk venue pada 26 Juli 2025 di Indonesia Arena.

Jika dihitung, lebih dari satu dekade saya menyaksikan evolusi fandom dari masa lightstick yang masih sederhana hingga sekarang, ketika konser terasa seperti produksi film mini dengan ribuan kamera ponsel menyala serempak.

Selama bertahun-tahun itu, ada satu aturan yang hampir selalu konsisten: larangan membawa kamera profesional. Namun, dalam praktiknya, tetap saja ada yang merasa aturan tersebut tidak berlaku untuk mereka.

Saya masih mengingat beberapa konser di Indonesia. Di pintu masuk, promotor sudah memasang pengumuman besar:

DSLR dan kamera profesional dilarang. Tas diperiksa di tengah antrean panjang. Sebagian besar penonton mematuhi aturan. Namun sesekali, ada satu-dua orang dengan lensa tele panjang melenggang masuk, seolah venue adalah studio pribadi.

Yang mengusik bukan hanya ukuran kameranya, melainkan kesan yang menyertainya—sebuah rasa bahwa ada pihak yang merasa lebih berhak.

Konser adalah Ruang Bersama

Konser pada dasarnya adalah ruang kolektif. Kita membeli tiket dengan harga yang relatif setara. Kita mengantre dengan kesabaran yang sama. Kita berdiri atau duduk dengan harapan yang serupa: melihat idol tanpa terhalang.

Ketika seseorang mengangkat kamera profesional besar tepat di depan wajah penonton lain, dampaknya nyata. Ruang pandang terganggu, ruang bernapas terasa sempit, dan momen yang seharusnya dinikmati bersama menjadi kurang nyaman.

Dalam sejumlah konser K-pop yang saya datangi, cukup sering kamera profesional dibawa oleh fansite luar negeri, khususnya dari Korea. Tentu, tidak semua demikian. Namun frekuensi kejadian itu cukup untuk membentuk kesan tersendiri.

Maka ketika istilah “SEAblings vs K-Netz” sempat viral, saya tidak terlalu terkejut. Potongan-potongan kecil situasi seperti itu sudah lama terlihat di venue.

Dari Kuala Lumpur ke Linimasa

Konflik yang ramai diperbincangkan itu bermula dari konser DAY6 di Kuala Lumpur. Seorang fansite asal Korea disebut membawa kamera profesional besar, meskipun aturan venue melarangnya.

Penonton lokal keberatan. Video dan keluhan menyebar di media sosial. Perdebatan pun melebar menjadi adu argumen antara warganet Asia Tenggara dan Korea.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau