
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Sekilas, persoalan ini terdengar sepele. Namun konflik jarang meledak hanya karena satu kejadian. Biasanya ada akumulasi pengalaman dan emosi yang belum terselesaikan.
Di Asia Tenggara, ada memori kolektif tentang perasaan diremehkan dalam berbagai konteks. Ketika muncul komentar yang terdengar merendahkan kawasan ini, responsnya sering kali bukan sekadar soal konser, melainkan soal martabat.
Istilah “SEAblings” yang mana itu adalah gabungan Southeast Asia dan siblings dan muncul sebagai simbol solidaritas regional. Solidaritas ini bukan lahir dari perjanjian formal, melainkan dari pengalaman emosional yang dirasakan bersama.
Padahal, Asia Tenggara merupakan pasar besar K-pop. Penggemar di kawasan ini membeli album, tiket, dan merchandise dengan antusiasme yang sama seperti di negara lain. Namun perasaan diposisikan sebagai “kelas dua” terkadang masih muncul dalam percakapan daring.
Fansite, Status, dan Ruang
Fansite memiliki peran unik dalam ekosistem fandom. Mereka menghasilkan foto definisi tinggi dan video dokumentasi yang banyak dinikmati penggemar lain. Tidak sedikit yang mengapresiasi kontribusi tersebut.
Namun kontribusi tidak otomatis memberi hak untuk melanggar aturan. Ketika kamera profesional dibawa ke negara lain dan aturan venue diabaikan, persoalan yang muncul bukan hanya teknis, tetapi juga simbolik.
Ada kesan hierarki seolah sebagian orang memiliki legitimasi lebih tinggi dibanding penonton lain. Saya pribadi tidak pernah terlibat fanwar.
Namun saya pernah berdiri dengan leher pegal, berusaha mengintip dari sela bahu penonton yang memegang kamera besar. Saya pernah mendengar keluhan pelan, bahkan dari pemegang tiket VVIP. Pengalaman-pengalaman kecil itu membentuk memori kolektif.
Karena itu, ketika ada kabar pelanggaran serupa di Malaysia, banyak yang merasa déjà vu.
Tidak Semua Sama
Tetap penting untuk bersikap adil. Tidak semua fansite Korea bersikap demikian. Tidak semua warganet Korea rasis. Masalah selalu berawal dari oknum. Sayangnya, internet tidak bekerja dengan nuansa yang lembut.
Satu tangkapan layar bisa mewakili seluruh negara. Komentar bernada merendahkan bisa membuka luka lama. Konflik pun melebar, melampaui isu awal tentang kamera.
Jika dikupas lebih dalam, persoalan ini menyentuh etika ruang publik, privilese dalam fandom, identitas regional, hingga cara algoritma media sosial memperbesar emosi.
Di venue, pelanggaran kamera mungkin selesai dalam hitungan menit—ditegur, diamankan, selesai. Di internet, konflik hidup dari klik. Komentar paling pedas naik ke permukaan. Meme paling sarkas menyebar cepat. Algoritma tidak menilai benar atau salah; ia hanya memperkuat yang paling memancing perhatian.