Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser

Kompas.com, 22 Februari 2026, 09:38 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Sekilas, persoalan ini terdengar sepele. Namun konflik jarang meledak hanya karena satu kejadian. Biasanya ada akumulasi pengalaman dan emosi yang belum terselesaikan.

Di Asia Tenggara, ada memori kolektif tentang perasaan diremehkan dalam berbagai konteks. Ketika muncul komentar yang terdengar merendahkan kawasan ini, responsnya sering kali bukan sekadar soal konser, melainkan soal martabat.

Istilah “SEAblings” yang mana itu adalah gabungan Southeast Asia dan siblings dan muncul sebagai simbol solidaritas regional. Solidaritas ini bukan lahir dari perjanjian formal, melainkan dari pengalaman emosional yang dirasakan bersama.

Padahal, Asia Tenggara merupakan pasar besar K-pop. Penggemar di kawasan ini membeli album, tiket, dan merchandise dengan antusiasme yang sama seperti di negara lain. Namun perasaan diposisikan sebagai “kelas dua” terkadang masih muncul dalam percakapan daring.

Fansite, Status, dan Ruang

Fansite memiliki peran unik dalam ekosistem fandom. Mereka menghasilkan foto definisi tinggi dan video dokumentasi yang banyak dinikmati penggemar lain. Tidak sedikit yang mengapresiasi kontribusi tersebut.

Namun kontribusi tidak otomatis memberi hak untuk melanggar aturan. Ketika kamera profesional dibawa ke negara lain dan aturan venue diabaikan, persoalan yang muncul bukan hanya teknis, tetapi juga simbolik.

Ada kesan hierarki seolah sebagian orang memiliki legitimasi lebih tinggi dibanding penonton lain. Saya pribadi tidak pernah terlibat fanwar.

Namun saya pernah berdiri dengan leher pegal, berusaha mengintip dari sela bahu penonton yang memegang kamera besar. Saya pernah mendengar keluhan pelan, bahkan dari pemegang tiket VVIP. Pengalaman-pengalaman kecil itu membentuk memori kolektif.

Karena itu, ketika ada kabar pelanggaran serupa di Malaysia, banyak yang merasa déjà vu.

Tidak Semua Sama

Tetap penting untuk bersikap adil. Tidak semua fansite Korea bersikap demikian. Tidak semua warganet Korea rasis. Masalah selalu berawal dari oknum. Sayangnya, internet tidak bekerja dengan nuansa yang lembut.

Satu tangkapan layar bisa mewakili seluruh negara. Komentar bernada merendahkan bisa membuka luka lama. Konflik pun melebar, melampaui isu awal tentang kamera.

Jika dikupas lebih dalam, persoalan ini menyentuh etika ruang publik, privilese dalam fandom, identitas regional, hingga cara algoritma media sosial memperbesar emosi.

Di venue, pelanggaran kamera mungkin selesai dalam hitungan menit—ditegur, diamankan, selesai. Di internet, konflik hidup dari klik. Komentar paling pedas naik ke permukaan. Meme paling sarkas menyebar cepat. Algoritma tidak menilai benar atau salah; ia hanya memperkuat yang paling memancing perhatian.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
SEAblings dan Etika di Balik Panggung Konser
Kata Netizen
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Melihat Mantan Menikah, Ketika Luka Jadi Pelajaran
Kata Netizen
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Pendidikan Gratis, Janji Kebijakan, dan Realitas Keluarga Indonesia
Kata Netizen
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Mantan Menikah, Saat Undangan Pernikahan Membuka Laci Kenangan
Kata Netizen
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba
Kata Netizen
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Perpustakaan Keliling dan Upaya Menghidupkan Budaya Baca di Sekolah
Kata Netizen
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau