
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika aturan konser dilanggar dan ruang pandang penonton terganggu, mengapa konflik kecil bisa berubah menjadi perdebatan lintas negara? Apakah ini sekadar soal kamera, atau ada akumulasi emosi yang lebih dalam di baliknya?
Saya mulai menonton konser K-pop sejak 2012, terutama saat era BIGBANG dan G-Dragon. Terakhir, saya kembali masuk venue pada 26 Juli 2025 di Indonesia Arena.
Jika dihitung, lebih dari satu dekade saya menyaksikan evolusi fandom dari masa lightstick yang masih sederhana hingga sekarang, ketika konser terasa seperti produksi film mini dengan ribuan kamera ponsel menyala serempak.
Selama bertahun-tahun itu, ada satu aturan yang hampir selalu konsisten: larangan membawa kamera profesional. Namun, dalam praktiknya, tetap saja ada yang merasa aturan tersebut tidak berlaku untuk mereka.
Saya masih mengingat beberapa konser di Indonesia. Di pintu masuk, promotor sudah memasang pengumuman besar:
DSLR dan kamera profesional dilarang. Tas diperiksa di tengah antrean panjang. Sebagian besar penonton mematuhi aturan. Namun sesekali, ada satu-dua orang dengan lensa tele panjang melenggang masuk, seolah venue adalah studio pribadi.
Yang mengusik bukan hanya ukuran kameranya, melainkan kesan yang menyertainya—sebuah rasa bahwa ada pihak yang merasa lebih berhak.
Konser adalah Ruang Bersama
Konser pada dasarnya adalah ruang kolektif. Kita membeli tiket dengan harga yang relatif setara. Kita mengantre dengan kesabaran yang sama. Kita berdiri atau duduk dengan harapan yang serupa: melihat idol tanpa terhalang.
Ketika seseorang mengangkat kamera profesional besar tepat di depan wajah penonton lain, dampaknya nyata. Ruang pandang terganggu, ruang bernapas terasa sempit, dan momen yang seharusnya dinikmati bersama menjadi kurang nyaman.
Dalam sejumlah konser K-pop yang saya datangi, cukup sering kamera profesional dibawa oleh fansite luar negeri, khususnya dari Korea. Tentu, tidak semua demikian. Namun frekuensi kejadian itu cukup untuk membentuk kesan tersendiri.
Maka ketika istilah “SEAblings vs K-Netz” sempat viral, saya tidak terlalu terkejut. Potongan-potongan kecil situasi seperti itu sudah lama terlihat di venue.
Dari Kuala Lumpur ke Linimasa
Konflik yang ramai diperbincangkan itu bermula dari konser DAY6 di Kuala Lumpur. Seorang fansite asal Korea disebut membawa kamera profesional besar, meskipun aturan venue melarangnya.
Penonton lokal keberatan. Video dan keluhan menyebar di media sosial. Perdebatan pun melebar menjadi adu argumen antara warganet Asia Tenggara dan Korea.
Sekilas, persoalan ini terdengar sepele. Namun konflik jarang meledak hanya karena satu kejadian. Biasanya ada akumulasi pengalaman dan emosi yang belum terselesaikan.
Di Asia Tenggara, ada memori kolektif tentang perasaan diremehkan dalam berbagai konteks. Ketika muncul komentar yang terdengar merendahkan kawasan ini, responsnya sering kali bukan sekadar soal konser, melainkan soal martabat.
Istilah “SEAblings” yang mana itu adalah gabungan Southeast Asia dan siblings dan muncul sebagai simbol solidaritas regional. Solidaritas ini bukan lahir dari perjanjian formal, melainkan dari pengalaman emosional yang dirasakan bersama.
Padahal, Asia Tenggara merupakan pasar besar K-pop. Penggemar di kawasan ini membeli album, tiket, dan merchandise dengan antusiasme yang sama seperti di negara lain. Namun perasaan diposisikan sebagai “kelas dua” terkadang masih muncul dalam percakapan daring.
Fansite, Status, dan Ruang
Fansite memiliki peran unik dalam ekosistem fandom. Mereka menghasilkan foto definisi tinggi dan video dokumentasi yang banyak dinikmati penggemar lain. Tidak sedikit yang mengapresiasi kontribusi tersebut.
Namun kontribusi tidak otomatis memberi hak untuk melanggar aturan. Ketika kamera profesional dibawa ke negara lain dan aturan venue diabaikan, persoalan yang muncul bukan hanya teknis, tetapi juga simbolik.
Ada kesan hierarki seolah sebagian orang memiliki legitimasi lebih tinggi dibanding penonton lain. Saya pribadi tidak pernah terlibat fanwar.
Namun saya pernah berdiri dengan leher pegal, berusaha mengintip dari sela bahu penonton yang memegang kamera besar. Saya pernah mendengar keluhan pelan, bahkan dari pemegang tiket VVIP. Pengalaman-pengalaman kecil itu membentuk memori kolektif.
Karena itu, ketika ada kabar pelanggaran serupa di Malaysia, banyak yang merasa déjà vu.
Tidak Semua Sama
Tetap penting untuk bersikap adil. Tidak semua fansite Korea bersikap demikian. Tidak semua warganet Korea rasis. Masalah selalu berawal dari oknum. Sayangnya, internet tidak bekerja dengan nuansa yang lembut.
Satu tangkapan layar bisa mewakili seluruh negara. Komentar bernada merendahkan bisa membuka luka lama. Konflik pun melebar, melampaui isu awal tentang kamera.
Jika dikupas lebih dalam, persoalan ini menyentuh etika ruang publik, privilese dalam fandom, identitas regional, hingga cara algoritma media sosial memperbesar emosi.
Di venue, pelanggaran kamera mungkin selesai dalam hitungan menit—ditegur, diamankan, selesai. Di internet, konflik hidup dari klik. Komentar paling pedas naik ke permukaan. Meme paling sarkas menyebar cepat. Algoritma tidak menilai benar atau salah; ia hanya memperkuat yang paling memancing perhatian.
Perubahan Budaya Dokumentasi
Jika dibandingkan dengan konser era 2012 saat BIGBANG pertama kali tampil di Indonesia dan konser solo G-Dragon pada 2025, perbedaan paling terasa adalah intensitas dokumentasi.
Dulu, kita datang untuk hadir. Kini, kita juga datang untuk mengabadikan. Semua orang mengangkat ponsel. Semua orang ingin menyimpan, bahkan membagikan momen.
Fansite pun bergeser, dari sekadar komunitas pengalaman menjadi komunitas produksi konten. Di titik itulah batas antara menikmati dan merebut ruang menjadi semakin tipis.
Perlukah Kita Marah?
Marah ketika aturan dilanggar adalah wajar. Protes ketika pandangan terganggu adalah hak penonton. Namun arah kemarahan perlu dijaga agar tetap pada perilaku, bukan identitas.
Kritiklah tindakan yang melanggar. Evaluasi promotor jika pengawasan kurang tegas. Perbaiki sistem pemeriksaan. Namun menggeneralisasi menjadi “orang negara ini begini” atau “kawasan itu begitu” hanya memperluas jurang.
Jika saya menjadi promotor, saya akan memperketat pemeriksaan, menyediakan penitipan resmi yang aman, serta menerapkan konsekuensi yang jelas. Aturan dibuat untuk menjaga keadilan pengalaman, bukan untuk mempersulit pihak tertentu.
Jika saya menjadi fansite dan berkunjung ke negara lain, menghormati aturan adalah keharusan. Terlepas dari jumlah pengikut atau kontribusi dalam fandom, tetaplah kita tamu. Dan tamu yang baik tidak mengambil ruang orang lain.
Jika ingin dokumentasi berkualitas, jalur akreditasi resmi bisa ditempuh. Jika tidak memungkinkan, menerima batasan adalah bagian dari etika bersama. Cinta pada idol tidak boleh melampaui rasa hormat pada sesama penonton.
Pelajaran dari SEAblings
Peristiwa ini menunjukkan bahwa solidaritas Asia Tenggara bisa muncul kuat ketika martabatnya disentuh. Ia juga memperlihatkan betapa cepat konflik kecil membesar ketika diperkuat algoritma.
Lebih dari itu, perdebatan ini mengingatkan bahwa fandom adalah ruang sosial dengan lapisan kelas, akses, dan identitas. Di dalamnya, etika jauh lebih penting daripada eksistensi.
Konser bukan arena untuk menentukan siapa yang paling dekat dengan idol. Ia adalah ruang bersama untuk berbagi pengalaman. Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya: bagaimana kita hadir, menikmati, dan saling menghormati tanpa merasa lebih berhak dari yang lain.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "SEAblings vs K-Netz: Konser yang Membakar Asia Tenggara"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang