
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Perubahan Budaya Dokumentasi
Jika dibandingkan dengan konser era 2012 saat BIGBANG pertama kali tampil di Indonesia dan konser solo G-Dragon pada 2025, perbedaan paling terasa adalah intensitas dokumentasi.
Dulu, kita datang untuk hadir. Kini, kita juga datang untuk mengabadikan. Semua orang mengangkat ponsel. Semua orang ingin menyimpan, bahkan membagikan momen.
Fansite pun bergeser, dari sekadar komunitas pengalaman menjadi komunitas produksi konten. Di titik itulah batas antara menikmati dan merebut ruang menjadi semakin tipis.
Perlukah Kita Marah?
Marah ketika aturan dilanggar adalah wajar. Protes ketika pandangan terganggu adalah hak penonton. Namun arah kemarahan perlu dijaga agar tetap pada perilaku, bukan identitas.
Kritiklah tindakan yang melanggar. Evaluasi promotor jika pengawasan kurang tegas. Perbaiki sistem pemeriksaan. Namun menggeneralisasi menjadi “orang negara ini begini” atau “kawasan itu begitu” hanya memperluas jurang.
Jika saya menjadi promotor, saya akan memperketat pemeriksaan, menyediakan penitipan resmi yang aman, serta menerapkan konsekuensi yang jelas. Aturan dibuat untuk menjaga keadilan pengalaman, bukan untuk mempersulit pihak tertentu.
Jika saya menjadi fansite dan berkunjung ke negara lain, menghormati aturan adalah keharusan. Terlepas dari jumlah pengikut atau kontribusi dalam fandom, tetaplah kita tamu. Dan tamu yang baik tidak mengambil ruang orang lain.
Jika ingin dokumentasi berkualitas, jalur akreditasi resmi bisa ditempuh. Jika tidak memungkinkan, menerima batasan adalah bagian dari etika bersama. Cinta pada idol tidak boleh melampaui rasa hormat pada sesama penonton.
Pelajaran dari SEAblings
Peristiwa ini menunjukkan bahwa solidaritas Asia Tenggara bisa muncul kuat ketika martabatnya disentuh. Ia juga memperlihatkan betapa cepat konflik kecil membesar ketika diperkuat algoritma.
Lebih dari itu, perdebatan ini mengingatkan bahwa fandom adalah ruang sosial dengan lapisan kelas, akses, dan identitas. Di dalamnya, etika jauh lebih penting daripada eksistensi.
Konser bukan arena untuk menentukan siapa yang paling dekat dengan idol. Ia adalah ruang bersama untuk berbagi pengalaman. Dan mungkin, di situlah pelajaran terbesarnya: bagaimana kita hadir, menikmati, dan saling menghormati tanpa merasa lebih berhak dari yang lain.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "SEAblings vs K-Netz: Konser yang Membakar Asia Tenggara"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang