
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana perempuan memaknai dirinya di tengah berbagai peran dan tantangan hidup dan apa yang bisa kita pelajari dari kisah-kisah yang mereka jalani?
Menjadi seorang perempuan bukanlah sebuah pilihan, melainkan anugerah kehidupan yang membawa beragam makna.
Dalam perjalanan memaknainya, tidak semua perempuan langsung melihatnya dari sudut pandang yang utuh dan positif. Ada fase ketika menjadi perempuan terasa berat, bahkan dipenuhi berbagai tantangan yang tidak selalu mudah dijelaskan.
Seiring waktu, pemaknaan itu dapat berubah. Menjadi perempuan bukan semata tentang nilai yang dilekatkan oleh orang lain, melainkan tentang bagaimana seseorang menemukan dan membangun nilai dirinya sendiri.
Proses ini tentu tidak singkat, terlebih dalam konteks budaya yang masih kental dengan pola patriarki seperti di Indonesia. Upaya menuju kesetaraan kerap menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan keteguhan.
Di sisi lain, penghargaan terhadap diri tidak selalu harus datang dari luar. Justru, ia sering kali berawal dari dalam dari cara perempuan memandang, menerima, dan menghargai dirinya sendiri.
Kisah dan Rasa yang Beragam
Suatu ketika, di sebuah ruang tunggu, saya menyaksikan percakapan antara dua perempuan. Salah satunya tampak menyimpan beban yang berat.
Nah, dengan suara yang tertahan, ia menceritakan kehidupannya tentang anak-anak yang harus ia biayai, lebih dari tiga orang, dan tentang suami yang belum mampu menjalankan peran sebagaimana yang ia harapkan.
Di balik cerita itu, tersimpan pengalaman yang tidak mudah. Ia pernah melewati masa persalinan tanpa pendampingan, menjalani hari-hari setelah melahirkan dengan segala keterbatasan, bahkan mengurus kebutuhan rumah tangga seorang diri. Air matanya mengalir ketika mengisahkan hal tersebut.
Kisah itu mungkin selama ini ia simpan rapat-rapat. Ketika akhirnya terucap, terasa betapa besar beban yang telah ia tanggung sendirian. Dalam diam, ia menjalani perannya dengan keteguhan yang luar biasa.
Di kesempatan lain, saya bertemu perempuan berbeda dengan aura yang hangat dan penuh semangat. Ia dikenal ramah, mudah tertawa, dan selalu menyambut orang lain dengan energi positif. Namun di balik itu, ia juga menyimpan perjalanan hidup yang tidak sederhana.
Ia pernah menjalani rutinitas kerja yang panjang berangkat sebelum fajar dan pulang ketika anak-anaknya telah terlelap.
Situasi itu berlangsung lebih dari dua tahun, hingga akhirnya ia mengambil keputusan besar: berhenti dari pekerjaan tersebut demi bisa lebih hadir dalam tumbuh kembang anak-anaknya.
Keputusan itu tentu bukan tanpa konsekuensi. Ia memilih pekerjaan lain yang lebih dekat dengan keluarga, meski harus menerima perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.