
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa banyak siswa SMP yang memiliki prestasi akademik maupun nonakademik lebih memilih melanjutkan ke SMA? Apakah hal itu semata-mata karena pilihan karier, atau ada faktor lain dalam sistem penerimaan yang turut memengaruhi keputusan mereka?
Setiap musim Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), saya selalu menyaksikan dinamika yang hampir serupa. Berkas pendaftaran terus berdatangan, statistik calon peserta didik berubah dari hari ke hari, tetapi ada satu pertanyaan yang terus muncul di benak saya.
Mengapa lulusan SMP yang memiliki rekam jejak prestasi—baik juara olimpiade, debat, olahraga, maupun berbagai kompetisi tingkat provinsi dan nasional—lebih banyak memilih SMA dibandingkan SMK?
Sebagai kepala sekolah di sebuah SMK negeri, fenomena ini menjadi bahan refleksi yang terus berulang setiap tahun. Di satu sisi, pemerintah terus mendorong penguatan pendidikan vokasi melalui berbagai program, peningkatan sarana prasarana, hingga kampanye yang menegaskan bahwa SMK merupakan pilihan yang mampu menghasilkan lulusan siap kerja dan kompetitif.
Namun, di sisi lain, masih ada tantangan pada tahap awal, yakni bagaimana sistem penerimaan mampu menghadirkan rasa percaya diri bagi siswa-siswa berprestasi untuk memilih SMK sebagai tujuan pendidikan berikutnya.
Persepsi yang Terbentuk Sejak Awal Pendaftaran
Jika mencermati petunjuk teknis (juknis) SPMB, terdapat perbedaan yang cukup terlihat antara mekanisme penerimaan di SMA dan SMK.
Pada jenjang SMA, masyarakat mengenal adanya Jalur Prestasi yang berdiri sebagai salah satu jalur penerimaan tersendiri, berdampingan dengan jalur domisili, afirmasi, maupun mutasi.
Keberadaan jalur tersebut memberi sinyal yang cukup kuat bahwa prestasi akademik maupun nonakademik memperoleh ruang khusus dalam proses seleksi.
Sementara itu, pada sebagian mekanisme penerimaan SMK, jalur yang tersedia umumnya terdiri atas Jalur Reguler, Afirmasi, dan Mutasi. Prestasi memang tetap diperhitungkan, tetapi diintegrasikan sebagai komponen penilaian dalam jalur reguler.
Secara administratif, mekanisme tersebut tentu memiliki dasar dan pertimbangannya sendiri. Namun dari sudut pandang masyarakat, terutama orang tua dan calon peserta didik, penyajian informasi semacam ini dapat membentuk persepsi yang berbeda.
Tidak sedikit yang kemudian menganggap bahwa SMA menyediakan ruang yang lebih jelas bagi siswa berprestasi, sedangkan di SMK penghargaan terhadap prestasi tidak tampak secara eksplisit.
Kepastian Menjadi Pertimbangan
Saya memahami bahwa dalam sistem penerimaan SMK, prestasi tetap memiliki nilai tambah. Piagam penghargaan dapat dikonversi menjadi poin yang kemudian digabungkan dengan nilai rapor maupun hasil tes sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari sisi perhitungan, sistem tersebut tentu dirancang agar objektif.