Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Galuh Ambar
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Galuh Ambar adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong

Kompas.com, 20 Juli 2026, 14:57 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Seberapa sering sebuah perjalanan mendaki gunung mengubah cara kita memandang alam?

Bisakah seekor monyet yang sedang mencari makan menghadirkan pertanyaan tentang sejarah panjang sebuah lanskap yang selama ini kita anggap biasa?

Sehari sebelum berangkat menuju Gunung Andong, Anne sudah membagikan berbagai informasi kepada kami. Ia menjelaskan bahwa gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian, seperti Pendem, Sawit, Gogik, dan Temu Kidul. Masing-masing bahkan memiliki rute lama dan rute baru.

Dari penjelasannya, saya mengetahui bahwa kami akan naik melalui jalur Gogik dan turun lewat Sawit. Anne juga mengirimkan video perjalanan sebagai bekal agar kami memiliki gambaran mengenai medan yang akan dilalui.

Sayangnya, video itu justru membuat saya semakin gugup.

Perhatian saya tertuju pada sebuah tanjakan yang dikenal dengan nama Jembatan Setan. Nama itu saja sudah cukup membuat imajinasi saya bekerja.

Pikiran saya langsung melayang pada istilah lain yang sering muncul dalam kisah-kisah pendakian, yakni Pasar Setan. Saya sempat ingin bertanya apakah keduanya memiliki kaitan.

Namun, sebelum pertanyaan itu terlontar, suara Anne sudah memecah lamunan.

"Sudah sampai!"

Peta yang Tak Selalu Mudah Dipahami

Area parkir di jalur Gogik pagi itu sudah cukup ramai. Seorang petugas mengarahkan kendaraan kami menuju halaman rumah warga yang difungsikan sebagai lokasi parkir tambahan. Sambil tersenyum ia berkata bahwa kami datang agak terlambat.

Saya spontan melihat jam tangan: pukul 08.30 WIB.

Baru kali itu saya mengetahui bahwa bagi sebagian pendaki, waktu tersebut sudah dianggap kesiangan.

Sementara saya menikmati suasana sekitar, Anne dan Eva menuju loket registrasi. Mereka ingin memastikan kondisi terbaru jalur pendakian sekaligus mengambil peta.

Tak lama kemudian mereka kembali membawa bukti registrasi dan lembar peta.

Saya cukup terkejut karena biaya pendakian ternyata relatif terjangkau. Selain tiket masuk dan parkir, pendaki juga memperoleh informasi mengenai jalur, estimasi waktu tempuh, hingga nomor darurat yang dapat dihubungi apabila terjadi sesuatu.

Saya lalu memperhatikan peta yang dibawa Anne.

"Ini kok cuma sampai Alap-Alap? Jalur turun lewat Sawit yang mana?"

Anne sempat kembali ke loket untuk meminta peta lain yang dianggap lebih lengkap.

Namun, setelah dibandingkan, kami tetap tidak benar-benar memahami perbedaannya. Sejak saat itu, "peta versi Anne" menjadi bahan candaan sepanjang perjalanan.

Menyusuri Jalur yang Lebih Sepi

Anne berjalan paling depan sambil menggenggam peta. Di belakangnya ada Tiwi, saya, dan Eva.

Kami melewati pondok pesantren, jalan setapak, serta beberapa percabangan kecil sebelum akhirnya Anne menghentikan langkah.

"Kok kalian ke kanan?" Kami saling berpandangan. "Lho, bukannya lewat jalur baru?"

Beberapa detik kemudian kami menyadari bahwa Anne kembali salah membaca arah.

Akhirnya Tiwi mengambil alih posisi terdepan, sementara Anne menerima dengan lapang dada bahwa pagi itu ia kembali menjadi sasaran candaan.

Jalur baru ternyata jauh lebih sepi dibandingkan jalur utama.

Pepohonan besar menaungi perjalanan, vegetasi tumbuh rapat di sisi kanan dan kiri, sementara rumpun-rumpun bambu sesekali muncul seperti gerbang alami yang mengantar kami menuju lanskap berikutnya.

Di tengah perjalanan itulah saya mulai memahami alasan pendakian ini dilakukan. Perjalanan ini bukan sekadar mengantar Eva sebelum melanjutkan studi.

Tiwi dan Eva rupanya ingin membantu Anne berdamai dengan pengalaman buruk yang pernah dialaminya saat mendaki sekitar sepuluh tahun lalu.

Anne bercerita bahwa ketika itu ia dimarahi karena berjalan terlalu lambat. Ia juga tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai perlengkapan maupun cara menghadapi cuaca di gunung.

Pengalaman tersebut membuatnya enggan kembali mendaki selama bertahun-tahun. Akan tetapi, di tengah cerita yang cukup serius itu, Anne tiba-tiba berkata,

"Tapi aku masih ingat baksonya. Enak."

Kalimat sederhana itu langsung mengundang tawa. Tiwi dan Eva mengaku baru pertama kali mendengar bahwa bakso ternyata menjadi bagian penting dari kisah traumatis tersebut.

Gunung yang Menyimpan Jejak Budaya

Semakin mendaki, dari kejauhan terdengar suara pengajian, kasidah, hingga irama tari Soreng.

Suara-suara itu mengingatkan saya pada beberapa seniman rakyat yang pernah saya temui di kawasan Andong dan Telomoyo.

Suatu ketika saya pernah bertanya mengapa pertunjukan Soreng justru menghadirkan Arya Penangsang sebagai tokoh utama, padahal sejarah lebih sering menempatkan para pemenang sebagai pusat cerita.

Jawaban mereka sederhana: tontonan itu tuntunan.

Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak hanya belajar dari teladan yang baik, tetapi juga dari berbagai kesalahan yang pernah terjadi.

Barangkali, di situlah seni rakyat menyimpan cara pandangnya sendiri terhadap sejarah.

Seekor Monyet dan Sebuah Pertanyaan

Lamunan saya terhenti ketika Eva meminta kami berhenti sejenak. Tiwi dan Anne segera memeriksanya.

Wajar saja, ketiganya memang berasal dari bidang ilmu kesehatan sehingga percakapan mereka dipenuhi istilah-istilah medis yang hanya bisa saya dengarkan sambil tersenyum.

Sambil menunggu Eva pulih, saya memperhatikan vegetasi di sekitar jalur pendakian. Tiba-tiba Tiwi menunjuk ke atas.

"Itu... ada monyet."

Seekor monyet ekor panjang tampak sedang memakan buah pinus. Entah mengapa, pemandangan itu justru membuat saya berpikir lebih jauh.

Pandangan saya mengikuti lereng-lereng di sekitar jalur. Semakin jauh berjalan, semakin dominan pohon pinus yang terlihat.

Ingatan saya kemudian melayang pada sebuah peta lama yang diterbitkan Dinas Topografi kolonial di Weltevreden pada akhir abad ke-19.

Dalam peta tersebut, kawasan Andong digambarkan memiliki vegetasi yang jauh lebih beragam.

Pinus memang sudah ada. Namun hidup berdampingan dengan bambu, aren, cemara, rerumputan, serta berbagai jenis vegetasi lain yang membentuk ekosistem pegunungan.

Jika sejak lebih dari seabad lalu pinus sudah menjadi bagian dari lanskap Andong, maka pertanyaannya mungkin bukan lagi tentang keberadaan pinus itu sendiri.

Yang menarik justru bagaimana manusia terus mengulang pilihan yang sama mengenai vegetasi apa yang dianggap penting untuk ditanam.

Padahal bagi masyarakat pegunungan, aren bukan hanya penghasil gula. Begitu pula bambu yang membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus menyaring aliran air menuju mata air dan sungai-sungai kecil.

Pengetahuan seperti ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat hidup berdampingan dengan alam.

Sementara itu, monyet di atas pohon pinus terus menikmati buah yang ditemukannya. Saya memandangnya cukup lama.

Di ruang kuliah sejarah, saya terbiasa melihat perubahan dalam rentang waktu yang panjang.

Namun pagi itu, perubahan terasa begitu dekat, melainkan hadir dalam sosok seekor primata yang sedang berusaha bertahan hidup di lanskap yang telah dibentuk oleh berbagai pilihan manusia selama lebih dari satu abad.

Mungkin, pendakian tidak selalu memberi kita jawaban. Kadang, ia justru menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hubungan manusia, alam, dan sejarah yang terus berjalan berdampingan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Monyet yang Makan Buah Pinus"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Lulusan SMP Berprestasi Masih Jarang Memilih SMK, Kenapa?
Kata Netizen
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Mengapa Lingkaran Pertemanan Makin Kecil Saat Dewasa?
Kata Netizen
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Bapana, Tradisi Memanah Ikan di Tengah Masyarakat Bajau
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau