
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Seberapa sering sebuah perjalanan mendaki gunung mengubah cara kita memandang alam?
Bisakah seekor monyet yang sedang mencari makan menghadirkan pertanyaan tentang sejarah panjang sebuah lanskap yang selama ini kita anggap biasa?
Sehari sebelum berangkat menuju Gunung Andong, Anne sudah membagikan berbagai informasi kepada kami. Ia menjelaskan bahwa gunung ini memiliki beberapa jalur pendakian, seperti Pendem, Sawit, Gogik, dan Temu Kidul. Masing-masing bahkan memiliki rute lama dan rute baru.
Dari penjelasannya, saya mengetahui bahwa kami akan naik melalui jalur Gogik dan turun lewat Sawit. Anne juga mengirimkan video perjalanan sebagai bekal agar kami memiliki gambaran mengenai medan yang akan dilalui.
Sayangnya, video itu justru membuat saya semakin gugup.
Perhatian saya tertuju pada sebuah tanjakan yang dikenal dengan nama Jembatan Setan. Nama itu saja sudah cukup membuat imajinasi saya bekerja.
Pikiran saya langsung melayang pada istilah lain yang sering muncul dalam kisah-kisah pendakian, yakni Pasar Setan. Saya sempat ingin bertanya apakah keduanya memiliki kaitan.
Namun, sebelum pertanyaan itu terlontar, suara Anne sudah memecah lamunan.
"Sudah sampai!"
Peta yang Tak Selalu Mudah Dipahami
Area parkir di jalur Gogik pagi itu sudah cukup ramai. Seorang petugas mengarahkan kendaraan kami menuju halaman rumah warga yang difungsikan sebagai lokasi parkir tambahan. Sambil tersenyum ia berkata bahwa kami datang agak terlambat.
Saya spontan melihat jam tangan: pukul 08.30 WIB.
Baru kali itu saya mengetahui bahwa bagi sebagian pendaki, waktu tersebut sudah dianggap kesiangan.
Sementara saya menikmati suasana sekitar, Anne dan Eva menuju loket registrasi. Mereka ingin memastikan kondisi terbaru jalur pendakian sekaligus mengambil peta.
Tak lama kemudian mereka kembali membawa bukti registrasi dan lembar peta.
Saya cukup terkejut karena biaya pendakian ternyata relatif terjangkau. Selain tiket masuk dan parkir, pendaki juga memperoleh informasi mengenai jalur, estimasi waktu tempuh, hingga nomor darurat yang dapat dihubungi apabila terjadi sesuatu.
Saya lalu memperhatikan peta yang dibawa Anne.
"Ini kok cuma sampai Alap-Alap? Jalur turun lewat Sawit yang mana?"
Anne sempat kembali ke loket untuk meminta peta lain yang dianggap lebih lengkap.
Namun, setelah dibandingkan, kami tetap tidak benar-benar memahami perbedaannya. Sejak saat itu, "peta versi Anne" menjadi bahan candaan sepanjang perjalanan.
Menyusuri Jalur yang Lebih Sepi
Anne berjalan paling depan sambil menggenggam peta. Di belakangnya ada Tiwi, saya, dan Eva.
Kami melewati pondok pesantren, jalan setapak, serta beberapa percabangan kecil sebelum akhirnya Anne menghentikan langkah.
"Kok kalian ke kanan?" Kami saling berpandangan. "Lho, bukannya lewat jalur baru?"
Beberapa detik kemudian kami menyadari bahwa Anne kembali salah membaca arah.
Akhirnya Tiwi mengambil alih posisi terdepan, sementara Anne menerima dengan lapang dada bahwa pagi itu ia kembali menjadi sasaran candaan.
Jalur baru ternyata jauh lebih sepi dibandingkan jalur utama.
Pepohonan besar menaungi perjalanan, vegetasi tumbuh rapat di sisi kanan dan kiri, sementara rumpun-rumpun bambu sesekali muncul seperti gerbang alami yang mengantar kami menuju lanskap berikutnya.
Di tengah perjalanan itulah saya mulai memahami alasan pendakian ini dilakukan. Perjalanan ini bukan sekadar mengantar Eva sebelum melanjutkan studi.
Tiwi dan Eva rupanya ingin membantu Anne berdamai dengan pengalaman buruk yang pernah dialaminya saat mendaki sekitar sepuluh tahun lalu.
Anne bercerita bahwa ketika itu ia dimarahi karena berjalan terlalu lambat. Ia juga tidak mendapatkan penjelasan yang memadai mengenai perlengkapan maupun cara menghadapi cuaca di gunung.
Pengalaman tersebut membuatnya enggan kembali mendaki selama bertahun-tahun. Akan tetapi, di tengah cerita yang cukup serius itu, Anne tiba-tiba berkata,
"Tapi aku masih ingat baksonya. Enak."
Kalimat sederhana itu langsung mengundang tawa. Tiwi dan Eva mengaku baru pertama kali mendengar bahwa bakso ternyata menjadi bagian penting dari kisah traumatis tersebut.
Gunung yang Menyimpan Jejak Budaya
Semakin mendaki, dari kejauhan terdengar suara pengajian, kasidah, hingga irama tari Soreng.
Suara-suara itu mengingatkan saya pada beberapa seniman rakyat yang pernah saya temui di kawasan Andong dan Telomoyo.
Suatu ketika saya pernah bertanya mengapa pertunjukan Soreng justru menghadirkan Arya Penangsang sebagai tokoh utama, padahal sejarah lebih sering menempatkan para pemenang sebagai pusat cerita.
Jawaban mereka sederhana: tontonan itu tuntunan.
Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak hanya belajar dari teladan yang baik, tetapi juga dari berbagai kesalahan yang pernah terjadi.
Barangkali, di situlah seni rakyat menyimpan cara pandangnya sendiri terhadap sejarah.
Seekor Monyet dan Sebuah Pertanyaan
Lamunan saya terhenti ketika Eva meminta kami berhenti sejenak. Tiwi dan Anne segera memeriksanya.
Wajar saja, ketiganya memang berasal dari bidang ilmu kesehatan sehingga percakapan mereka dipenuhi istilah-istilah medis yang hanya bisa saya dengarkan sambil tersenyum.
Sambil menunggu Eva pulih, saya memperhatikan vegetasi di sekitar jalur pendakian. Tiba-tiba Tiwi menunjuk ke atas.
"Itu... ada monyet."
Seekor monyet ekor panjang tampak sedang memakan buah pinus. Entah mengapa, pemandangan itu justru membuat saya berpikir lebih jauh.
Pandangan saya mengikuti lereng-lereng di sekitar jalur. Semakin jauh berjalan, semakin dominan pohon pinus yang terlihat.
Ingatan saya kemudian melayang pada sebuah peta lama yang diterbitkan Dinas Topografi kolonial di Weltevreden pada akhir abad ke-19.
Dalam peta tersebut, kawasan Andong digambarkan memiliki vegetasi yang jauh lebih beragam.
Pinus memang sudah ada. Namun hidup berdampingan dengan bambu, aren, cemara, rerumputan, serta berbagai jenis vegetasi lain yang membentuk ekosistem pegunungan.
Jika sejak lebih dari seabad lalu pinus sudah menjadi bagian dari lanskap Andong, maka pertanyaannya mungkin bukan lagi tentang keberadaan pinus itu sendiri.
Yang menarik justru bagaimana manusia terus mengulang pilihan yang sama mengenai vegetasi apa yang dianggap penting untuk ditanam.
Padahal bagi masyarakat pegunungan, aren bukan hanya penghasil gula. Begitu pula bambu yang membantu menjaga kelembapan tanah sekaligus menyaring aliran air menuju mata air dan sungai-sungai kecil.
Pengetahuan seperti ini lahir dari pengalaman panjang masyarakat hidup berdampingan dengan alam.
Sementara itu, monyet di atas pohon pinus terus menikmati buah yang ditemukannya. Saya memandangnya cukup lama.
Di ruang kuliah sejarah, saya terbiasa melihat perubahan dalam rentang waktu yang panjang.
Namun pagi itu, perubahan terasa begitu dekat, melainkan hadir dalam sosok seekor primata yang sedang berusaha bertahan hidup di lanskap yang telah dibentuk oleh berbagai pilihan manusia selama lebih dari satu abad.
Mungkin, pendakian tidak selalu memberi kita jawaban. Kadang, ia justru menghadirkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hubungan manusia, alam, dan sejarah yang terus berjalan berdampingan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Monyet yang Makan Buah Pinus"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang