
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika persoalan sampah semakin nyata dan kapasitas tempat pembuangan semakin terbatas, sejauh mana kebiasaan kecil yang kita lakukan di rumah dapat membantu mengurangi beban lingkungan?
Setiap hari, ribuan ton sampah diproduksi oleh masyarakat. Sebagian besar mungkin berakhir begitu saja di tempat pembuangan akhir, tanpa pernah kita pikirkan lagi setelah meninggalkan rumah.
Padahal, perjalanan sampah tidak berhenti ketika truk pengangkut datang. Di baliknya ada persoalan lingkungan, kesehatan, hingga keselamatan yang terus menjadi tantangan di berbagai daerah.
Salah satu gambaran paling nyata dapat dilihat di TPST Bantargebang, yang sejak 1989 menjadi lokasi pengolahan sampah utama bagi warga DKI Jakarta. Setiap hari sekitar 7.400–8.000 ton sampah masuk ke kawasan tersebut hingga membentuk gunungan sampah yang tingginya setara gedung sekitar 16 lantai.
Besarnya volume sampah bukan hanya menghadirkan persoalan lingkungan. Berbagai penelitian juga menunjukkan adanya dampak sosial yang dirasakan masyarakat di sekitar kawasan, mulai dari aspek kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan.
Belum lama ini, longsor sampah di Zona IV TPST Bantargebang kembali menjadi pengingat bahwa persoalan sampah dapat membawa konsekuensi yang sangat serius. Longsoran tersebut terjadi ketika sejumlah truk tengah mengantre membuang muatan dan menyebabkan korban jiwa serta kerusakan di sekitar lokasi.
Peristiwa itu mengingatkan pada tragedi Leuwigajah di Bandung pada 2005 yang menelan ratusan korban jiwa dan masih dikenang sebagai salah satu bencana persampahan terbesar di Indonesia.
Saat Pengelolaan Sampah Memasuki Babak Baru
Berbagai peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah mulai mendorong perubahan dalam pengelolaan sampah.
Mulai Agustus 2026, TPST Bantargebang direncanakan hanya menerima sampah residu dalam jumlah yang lebih terbatas. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebutkan bahwa nantinya hanya sekitar separuh sampah residu yang akan dibuang ke Bantargebang.
Kebijakan ini tentu menjadi sinyal bahwa pengelolaan sampah tidak lagi bisa sepenuhnya bergantung pada tempat pembuangan akhir. Kota-kota penyangga Jakarta pun perlu mulai memperkuat sistem pengelolaan sampah di wilayah masing-masing agar tidak menghadapi persoalan serupa di kemudian hari.
Berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, sebagian besar sampah yang masuk ke Bantargebang berasal dari sisa makanan dan sampah plastik. Dua jenis sampah inilah yang sesungguhnya dapat dikurangi sejak dari rumah melalui kebiasaan sederhana.
Sampahku, Tanggung Jawabku
Beberapa waktu lalu dunia kembali memperingati Hari Tanpa Kantong Plastik Sedunia dengan tema Breaking Free from Single-Use Plastics: Towards a Sustainable Future.
Tema tersebut mengajak masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai dan mulai membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Tentu bukan perkara mudah untuk benar-benar lepas dari plastik. Banyak kebutuhan sehari-hari yang masih memanfaatkannya. Namun, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai tetap menjadi langkah yang realistis untuk dilakukan.
Pada akhirnya, persoalan sampah bukan semata-mata urusan pemerintah atau petugas kebersihan. Ada bagian yang juga menjadi tanggung jawab setiap orang, yaitu mengelola sampah yang dihasilkan dari rumah masing-masing.
Memanfaatkan Kembali Reusable Bag