
Tahun-tahun kemudian berlalu. Takdir kembali mempertemukan kami di ruang kuliah S2, dalam mata kuliah Filsafat.
Di tengah perkuliahan, saya sempat mendengar bisikan dari beberapa rekan di barisan belakang yang mempertanyakan latar belakang pribadi dan keyakinan beliau. Karena saya merupakan alumnus baru dari kampus tersebut sekaligus mahasiswa yang paling muda, pertanyaan itu kemudian diarahkan kepada saya.
Saya hanya menggeleng dan memilih tidak ikut menanggapinya. Bagi saya, selama beliau berdiri di depan kelas dan memberikan ilmu, kebaikan, serta kebijaksanaan, kehidupan pribadinya merupakan wilayah yang tidak perlu saya hakimi.
Kita tidak perlu mengurangi rasa hormat kepada seorang guru hanya karena dorongan untuk menilai jalan hidupnya, terlebih ketika sesuatu yang dibicarakan pun belum tentu benar.
Kenangan Terakhir di Koridor Kampus
Momen indah terakhir bersama beliau terjadi di sebuah koridor kampus.
Saat itu saya sedang duduk gelisah menunggu dosen pembimbing tesis. Beliau lewat, kemudian tiba-tiba menghentikan langkah. Tatapannya tertuju kepada saya. Dalam beberapa detik, ingatannya seperti kembali bekerja.
Beliau masih mengingat saya sebagai mahasiswa pers yang dulu cukup sering datang ke ruangannya.
Kami pun tertawa bersama, mengenang masa-masa yang telah lama berlalu.
Tawa itu sederhana. Hangat dan ringan. Namun, setelah kepergiannya, percakapan singkat tersebut justru menjadi salah satu kenangan terakhir yang paling saya ingat tentang beliau.
Kini, setelah beliau berpulang dan saya sendiri telah berdiri di depan kelas sebagai seorang dosen, kepergiannya menghadirkan pertanyaan yang berbeda.
Saya mulai melihat ruang kelas dari sudut pandang yang lain. Di hadapan saya ada mahasiswa-mahasiswa yang datang dengan kecemasan, harapan, kepolosan, dan sesekali kepanikan.
Mereka mengingatkan saya pada diri sendiri puluhan tahun lalu: seorang mahasiswa yang datang mengetuk pintu ruang Wakil Rektor dengan napas terburu-buru karena sebuah persoalan.
Dari situlah refleksi itu menjadi semakin personal. Apakah saya sanggup mendedikasikan sisa hidup untuk menjadi pendidik seperti beliau?
Apakah saya memiliki ketulusan untuk tetap membuka pintu dan menghadirkan senyum bagi mahasiswa yang sedang berada dalam kesulitan, bahkan ketika saya sendiri sedang lelah, jenuh, atau menghadapi persoalan pribadi?