
Pertanyaan-pertanyaan itu mungkin tidak akan pernah selesai saya jawab.
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kepergian beliau membuat saya kembali menyadari sesuatu yang mungkin sering terlupakan dalam dunia akademik.
Pada akhirnya, mahasiswa belum tentu mengingat seluruh teori yang pernah dituliskan dosen di papan tulis. Mereka mungkin juga tidak lagi mengingat setiap slide presentasi atau angka yang pernah tertera di lembar hasil studi.
Namun, ada hal lain yang mungkin justru menetap jauh lebih lama: bagaimana seorang dosen membuat mereka merasa dihargai sebagai manusia.
Barangkali seorang mahasiswa tidak selalu membutuhkan jawaban yang rumit. Ada kalanya mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau membuka pintu, mendengarkan persoalan, atau memberikan sedikit ruang ketika keadaan sedang tidak berpihak kepada mereka.
Dan itulah yang saya rasakan dari sosok dosen yang hari ini saya kenang.
Pertanyaan yang kemudian muncul di dalam diri saya adalah: ketika waktuku tiba nanti, akan dikenang seperti apakah saya oleh mahasiswa?
Apakah saya hanya akan diingat sebagai seorang pengajar yang datang ke kelas, menyampaikan materi, memberi nilai, lalu menyelesaikan kewajiban?
Ataukah saya pernah menjadi seseorang yang membuka jalan ketika seorang mahasiswa merasa tidak memiliki jalan keluar?
Mengenang beliau hari ini akhirnya bukan hanya tentang kehilangan seorang dosen favorit. Ini juga menjadi kesempatan bagi saya untuk melihat kembali seperti apa dosen yang ingin saya jalani di masa depan.
Beliau telah menyelesaikan tugasnya di dunia dan meninggalkan jejak berupa kebaikan serta kehangatan yang masih saya rasakan sampai hari ini.
Kini, tongkat estafet itu terasa seperti berpindah ke tangan saya.
Semoga setiap kali melangkah ke ruang kelas, saya selalu mengingat pintu yang dahulu terbuka, senyum yang tidak mudah goyah, dan kebaikan yang pernah diberikan kepada seorang mahasiswa yang datang dalam kepanikan.
Sebab mungkin, pada akhirnya, warisan seorang dosen bukan hanya ilmu yang pernah diajarkan, melainkan kebaikan yang membuat seorang mahasiswa ingin meneruskannya kepada orang lain.
Ketika waktunya tiba nanti, semoga ada mahasiswa yang masih mengingat bahwa pernah ada seorang dosen yang membuat mereka merasa didengar, dihargai, dan tidak sendirian dalam perjalanan mereka.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Saat Waktunya Tiba, Bagaimana Dosen akan Dikenang?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.