
Bagi sebagian orang, kuliner mungkin hanya bagian dari perjalanan, tetapi bagi yang lain, sepiring makanan bisa menjadi pintu untuk memahami laut, kebiasaan masyarakat, sejarah, hingga identitas sebuah daerah.
Ada makanan yang menikmati karena rasanya, tetapi ada pula yang membuatmu mengingat sebuah tempat. Bagi saya, perjalanan ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, meninggalkan kenangan jenis kedua.
Di tengah aneka hidangan laut yang tersaji, mulai dari ikan, udang, kepiting, hingga berbagai olahan hasil laut lainnya, perhatian saya justru tertuju pada sepiring siput bercangkang yang sebelumnya tidak terlalu akrab bagi saya: gonggong.
Sekilas, tampilannya sederhana. Gonggong yang direbus datang bersama cangkangnya, ditemani sambal dan tusuk kecil untuk mengeluarkan dagingnya. Tidak ada tampilan yang berlebihan. Namun, justru di situlah pengalaman dimulai.
Daging yang tersembunyi di balik cangkang harus ditarik perlahan sebelum disantap. Rasanya cenderung manis alami dan gurih, dengan tekstur kenyal yang khas. Sederhana, tetapi cukup membuat tangan ingin mengambil cangkang berikutnya.
Saya kemudian menyadari bahwa mencicipi gonggong di Tanjungpinang sebenarnya bukan sekadar urusan makan. Ada hubungan antara laut, kebiasaan masyarakat, sejarah kuliner, dan identitas daerah yang bertemu dalam satu hidangan.
Dari meja makan itulah saya semakin memahami bahwa terkadang cara terbaik mengenal sebuah kota bukan hanya dengan mendatangi tempat wisatanya, tetapi juga dengan mencicipi apa yang sejak lama menjadi bagian dari keseharian masyarakatnya.
Ketika Tanjungpinang Bercerita Melalui Meja Makan
Sebagai kota kepulauan, Tanjungpinang tentu sulit dipisahkan dari laut. Nuansa itu terasa pula ketika berbicara tentang kulinernya.
Seafood bukan sekadar pilihan menu bagi wisatawan, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat yang tumbuh bersama lingkungan pesisir. Maka, tidak mengherankan apabila menikmati hidangan laut terasa seperti salah satu agenda yang sayang dilewatkan ketika berkunjung ke kota ini.
Di antara beragam hidangan tersebut, gonggong mempunyai kedudukan yang menarik. Biota yang dikenal secara ilmiah sebagai Laevistrombus canarium ini merupakan siput laut yang banyak dijumpai di perairan dangkal dengan dasar berpasir atau berlumpur dan berkaitan erat dengan ekosistem padang lamun.
Kondisi pesisir Kepulauan Riau menyediakan habitat yang sesuai bagi kehidupannya. Karena mudah ditemukan dan sejak lama dimanfaatkan masyarakat pesisir, gonggong kemudian berkembang menjadi bagian dari tradisi pangan Melayu setempat.
Menariknya, siput laut sejenis tidak hanya ditemukan di Kepulauan Riau. Ia juga dikenal di kawasan perairan Malaysia dan Singapura. Kedekatan geografis membuat tradisi menikmati hasil laut di kawasan ini memiliki sejumlah persinggungan.
Nama gonggong pun cukup dikenal di negeri tetangga, selain sebutan seperti siput tarik, dog conch, atau pearl conch. Namun, bagi Kepulauan Riau, gonggong memperoleh makna yang lebih jauh karena telah melekat sebagai salah satu penanda kuliner daerah.
Hal tersebut mengingatkan saya bahwa kekhasan kuliner tidak selalu ditentukan oleh apakah bahan makanan itu hanya terdapat di satu wilayah. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana masyarakat membangun hubungan dengannya selama bertahun-tahun.