
Namun, popularitas juga membawa tantangan. Semakin banyak orang ingin menikmati gonggong, semakin besar pula perhatian yang perlu diberikan terhadap keberlanjutan sumber dayanya.
Gonggong bergantung pada kualitas ekosistem pesisir, termasuk hamparan lamun yang menjadi bagian penting habitatnya. Kerusakan pesisir, pencemaran, reklamasi yang tidak terkendali, maupun eksploitasi berlebihan pada akhirnya dapat mengganggu keberadaan biota tersebut.
Di sinilah pengalaman makan membawa saya pada pemikiran yang lebih luas. Kita sering membicarakan pariwisata kuliner dari sisi promosi: makanan dibuat menarik, dipasarkan, difoto, lalu diunggah ke media sosial.
Padahal, ada satu pertanyaan yang tidak kalah penting: apakah bahan pangan khas itu masih akan tersedia bagi generasi berikutnya?
Menjadikan gonggong sebagai ikon kuliner seharusnya berjalan bersama upaya menjaga laut yang membuatnya dapat terus hidup.
Pulang Membawa Cerita, Bukan Sekadar Rasa
Perjalanan ke Tanjungpinang akhirnya membuat saya melihat makanan dengan cara yang sedikit berbeda. Gonggong memang hanya salah satu dari begitu banyak kekayaan kuliner Nusantara.
Namun, di balik cangkangnya yang kecil tersimpan cerita mengenai bentang pesisir, kehidupan nelayan, kebiasaan makan masyarakat Melayu, kreativitas pengolahan makanan, pariwisata, hingga persoalan keberlanjutan lingkungan.
Kuliner seperti gonggong juga menunjukkan bahwa pembangunan pariwisata tidak selalu harus dimulai dari menciptakan sesuatu yang baru. Sering kali, aset terbaik justru sudah hidup di tengah masyarakat.
Tugas pembangunan adalah mengenalinya, meningkatkan nilainya tanpa mencabut akar budayanya, membuka manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat lokal, sekaligus memastikan sumber daya alam yang menopangnya tetap terjaga.
Saya membayangkan wisatawan yang datang ke Tanjungpinang kemudian pulang membawa ingatan tentang gonggong. Ia mungkin lupa nama restoran tempat makan, bahkan lupa berapa harga seporsinya.
Namun, pengalaman mengambil cangkang, memasukkan tusuk kecil, menarik daging perlahan, mencelupkannya ke sambal, kemudian merasakan teksturnya yang kenyal akan jauh lebih sulit dilupakan.
Pengalaman sederhana semacam itulah yang membuat kuliner mempunyai kekuatan sebagai bagian dari citra sebuah destinasi.
Bagi saya, itulah kenangan yang tertinggal dari Tanjungpinang. Lautnya memberikan gonggong, masyarakatnya mengubahnya menjadi tradisi, dan pariwisata memperkenalkannya kepada orang-orang yang datang dari berbagai tempat.
Saya datang sebagai pengunjung yang ingin menikmati seafood, tetapi pulang dengan pemahaman bahwa terkadang cerita sebuah daerah dapat ditemukan bukan pada monumen yang besar, melainkan di balik cangkang kecil yang tersaji di atas meja makan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mencicipi Gonggong, Kuliner Siput Unik Khas Pesisir Kepulauan Riau"
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT