
Bahan yang tersedia di alam ditangkap, diolah, diwariskan cara memasaknya, lalu diperkenalkan kepada tamu. Dari proses panjang itulah sebuah makanan perlahan dapat menjadi bagian dari identitas.
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Pengalaman paling menarik tentu ketika gonggong sampai di meja. Untuk orang yang baru pertama kali mencobanya, cara menyantapnya saja sudah menjadi pengalaman tersendiri.
Tusuk kecil digunakan untuk mengait dan menarik daging dari cangkang. Kadang berhasil dalam sekali tarikan, kadang perlu sedikit kesabaran. Ada kepuasan kecil ketika akhirnya seluruh daging berhasil dikeluarkan dengan utuh.
Gonggong rebus menurut saya justru menarik karena tidak membutuhkan terlalu banyak bumbu. Garam, jahe, atau serai dapat digunakan untuk memperkuat aroma tanpa menghilangkan karakter asli dagingnya.
Setelah dikeluarkan dari cangkang, daging bisa langsung dinikmati atau dicocol ke dalam saus cabai. Perpaduan tekstur yang kenyal, rasa gurih-manis alami, dan pedas sambal membuat hidangan sederhana ini terasa istimewa.
Di restoran, gonggong kini berkembang mengikuti selera pengunjung. Ada yang memasaknya dengan saus Padang, saus mentega, atau berbagai bumbu yang lebih kuat.
Sementara dalam tradisi rumah tangga masyarakat Melayu, daging gonggong dapat hadir dalam olahan yang lebih kaya rempah, termasuk gulai, masak lemak, sambal tumis, hingga dicampurkan dalam mi goreng. Satu bahan yang sama ternyata dapat memiliki banyak wajah, bergantung pada siapa yang memasaknya dan untuk siapa ia disajikan.
Dari sisi pangan, gonggong juga menarik karena merupakan sumber protein hewani dan mengandung sejumlah mineral. Namun, bagi saya, daya tarik terbesarnya bukan terletak pada klaim bahwa makanan tertentu memiliki khasiat luar biasa.
Nilainya justru terdapat pada kenyataan bahwa masyarakat pesisir mampu mengolah sumber daya yang tersedia di lingkungannya menjadi makanan yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya.
Dari Siput Laut Menjadi Identitas Kepulauan Riau
Semakin mengenal gonggong, saya semakin tertarik pada perjalanan sosial makanan ini. Dahulu, masyarakat pesisir dapat mengumpulkannya secara tradisional ketika kondisi perairan memungkinkan.
Gonggong kemudian dimasak sebagai lauk keluarga. Sesuatu yang berasal dari keseharian masyarakat nelayan itu perlahan memasuki restoran, menjadi incaran wisatawan, dan akhirnya ikut diperkenalkan sebagai kuliner khas Kepulauan Riau.
Jejak identitas tersebut bahkan melampaui meja makan. Bentuk cangkang gonggong yang unik telah menjadi inspirasi berbagai representasi visual daerah. Di Tanjungpinang, misalnya, kita mengenal Gedung Gonggong di kawasan tepi laut yang bentuk arsitekturnya mengambil inspirasi dari cangkang biota tersebut.
Sebuah siput laut yang dahulu dekat dengan dapur masyarakat pesisir kini memperoleh ruang dalam wajah kota. Bagi saya, ini contoh menarik bagaimana kuliner dapat berkembang menjadi simbol kebudayaan sekaligus pariwisata.