Bentuk fisik rumah kuno itu memang telah berubah dan pengelolanya pun telah berganti. Namun, ada satu hal yang menarik untuk dicermati: fungsi lahan tersebut tetap berkaitan dengan dunia pendidikan.
Area yang dahulu menjadi bagian dari cerita awal hadirnya sekolah untuk anak perempuan, kini masih digunakan sebagai tempat anak-anak menuntut ilmu.
Bagi saya, kesinambungan tersebut menjadi bagian yang menarik dari perjalanan sejarah tempat ini.
Saya juga merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam tim penulis buku Cor Unum et Anima Una. Kesempatan tersebut tidak hanya membawa saya lebih dekat dengan sejarah Cor Jesu, tetapi juga mempertemukan saya dengan Jenneke Arens, seorang perempuan Belanda yang merupakan salah satu cicit Stucky dari garis mama.
Jenneke berkunjung ke Cor Jesu dalam rangka napak tilas perjalanan sejarah keluarganya di Malang.
Pertemuan tersebut memberi pengalaman tersendiri. Sejarah yang selama ini saya kenal melalui catatan dan penelusuran akhirnya memiliki wajah dan cerita manusia yang dapat ditemui secara langsung.
Menolak Lupa pada Pintu yang Pernah Terbuka
Saat ini, nama keluarga Stucky mungkin tidak banyak muncul dalam percakapan mengenai sejarah populer Kota Malang.
Jejak fisik keberadaan mereka juga telah banyak berubah seiring perjalanan zaman. Bahkan, batu nisan Ferdinand Stucky di Pemakaman Belanda Sukun kini disebut nyaris tak terawat dan belum banyak mendapat perhatian.
Namun, sejarah tidak selalu dapat diukur dari megahnya prasasti atau seberapa sering sebuah nama disebut.
Cerita keluarga Stucky memberikan pelajaran bahwa perubahan sosial dan sejarah yang panjang terkadang bermula dari langkah-langkah kecil yang pada awalnya mungkin tidak banyak mendapat perhatian.
Ketika melihat perempuan-perempuan di Kota Malang saat ini memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi, kita dapat melihatnya sebagai bagian dari proses panjang.
Pendidikan perempuan tidak hadir dalam satu waktu. Ada gagasan yang dirintis, ada pintu yang dibuka, ada orang-orang yang memberikan dukungan, dan ada generasi yang kemudian melanjutkan perjalanan tersebut.
Di balik tokoh-tokoh besar yang berdiri di panggung depan sejarah, sering kali terdapat orang-orang yang mengambil peran tanpa banyak disebut.
Mereka mungkin bukan pendiri, bukan pula tokoh utama yang namanya tercatat dalam banyak buku. Namun, keputusan kecil yang mereka ambil pada suatu masa dapat ikut membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.
Keluarga Stucky adalah salah satu bagian dari kisah tersebut.
Sebuah keluarga yang pernah membuka pintu rumahnya bagi para suster Ursulin, dan dari pintu itu, sebuah perjalanan pendidikan kemudian berkembang jauh melampaui apa yang mungkin mereka bayangkan pada zamannya.
Mungkin, itulah salah satu cara sejarah mengajarkan kita tentang arti sebuah pintu yang terbuka.
Kadang-kadang, kita tidak pernah tahu sejauh apa perjalanan yang akan dimulai dari sana. Salam Lestari!
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Keluarga Stucky dan Jejak Awal Pendidikan Perempuan di Kota Malang"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya