Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk Sulistiyowati M.V.
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk Sulistiyowati M.V. adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang

Kompas.com, 16 September 2026, 18:41 WIB

Bentuk fisik rumah kuno itu memang telah berubah dan pengelolanya pun telah berganti. Namun, ada satu hal yang menarik untuk dicermati: fungsi lahan tersebut tetap berkaitan dengan dunia pendidikan.

Area yang dahulu menjadi bagian dari cerita awal hadirnya sekolah untuk anak perempuan, kini masih digunakan sebagai tempat anak-anak menuntut ilmu.

Bagi saya, kesinambungan tersebut menjadi bagian yang menarik dari perjalanan sejarah tempat ini.

Saya juga merasa bersyukur karena mendapat kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam tim penulis buku Cor Unum et Anima Una. Kesempatan tersebut tidak hanya membawa saya lebih dekat dengan sejarah Cor Jesu, tetapi juga mempertemukan saya dengan Jenneke Arens, seorang perempuan Belanda yang merupakan salah satu cicit Stucky dari garis mama.

Jenneke berkunjung ke Cor Jesu dalam rangka napak tilas perjalanan sejarah keluarganya di Malang.

Pertemuan tersebut memberi pengalaman tersendiri. Sejarah yang selama ini saya kenal melalui catatan dan penelusuran akhirnya memiliki wajah dan cerita manusia yang dapat ditemui secara langsung.

Menolak Lupa pada Pintu yang Pernah Terbuka

Saat ini, nama keluarga Stucky mungkin tidak banyak muncul dalam percakapan mengenai sejarah populer Kota Malang.

Jejak fisik keberadaan mereka juga telah banyak berubah seiring perjalanan zaman. Bahkan, batu nisan Ferdinand Stucky di Pemakaman Belanda Sukun kini disebut nyaris tak terawat dan belum banyak mendapat perhatian.

Namun, sejarah tidak selalu dapat diukur dari megahnya prasasti atau seberapa sering sebuah nama disebut.

Cerita keluarga Stucky memberikan pelajaran bahwa perubahan sosial dan sejarah yang panjang terkadang bermula dari langkah-langkah kecil yang pada awalnya mungkin tidak banyak mendapat perhatian.

Ketika melihat perempuan-perempuan di Kota Malang saat ini memiliki kesempatan untuk menuntut ilmu hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi, kita dapat melihatnya sebagai bagian dari proses panjang.

Pendidikan perempuan tidak hadir dalam satu waktu. Ada gagasan yang dirintis, ada pintu yang dibuka, ada orang-orang yang memberikan dukungan, dan ada generasi yang kemudian melanjutkan perjalanan tersebut.

Di balik tokoh-tokoh besar yang berdiri di panggung depan sejarah, sering kali terdapat orang-orang yang mengambil peran tanpa banyak disebut.

Mereka mungkin bukan pendiri, bukan pula tokoh utama yang namanya tercatat dalam banyak buku. Namun, keputusan kecil yang mereka ambil pada suatu masa dapat ikut membuka jalan bagi perubahan yang lebih besar.

Keluarga Stucky adalah salah satu bagian dari kisah tersebut.

Sebuah keluarga yang pernah membuka pintu rumahnya bagi para suster Ursulin, dan dari pintu itu, sebuah perjalanan pendidikan kemudian berkembang jauh melampaui apa yang mungkin mereka bayangkan pada zamannya.

Mungkin, itulah salah satu cara sejarah mengajarkan kita tentang arti sebuah pintu yang terbuka.

Kadang-kadang, kita tidak pernah tahu sejauh apa perjalanan yang akan dimulai dari sana. Salam Lestari!

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Keluarga Stucky dan Jejak Awal Pendidikan Perempuan di Kota Malang"

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Brokoli Kuning dan Cara Sederhana Membuat Taman Lebih Hidup
Kata Netizen
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Keluarga Stucky, di Balik Awal Pendidikan Perempuan di Malang
Kata Netizen
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Tak Pamer Harta, Benarkah Itu Tanda Rendah Hati?
Kata Netizen
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Di Balik Peran Dosen, Ada Tempat bagi Kecemasan Mahasiswa
Kata Netizen
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Punya Banyak Dompet Digital, Benarkah Lebih Untung?
Kata Netizen
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Radio dan Sebuah Ruang untuk Menyalurkan Keresahan
Kata Netizen
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Mengenal Tangerang Lewat Motif Batiknya
Kata Netizen
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Bandung, Kota yang Memberi Ruang bagi Tumbuhnya Bakat
Kata Netizen
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Bisakah Lelaki dan Perempuan Benar-benar Hanya Bersahabat?
Kata Netizen
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Hak Cuti ASN, Kebutuhan Pegawai Bertemu Beban Kerja
Kata Netizen
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau