
Mengapa gula lempeng dari nira lontar begitu mudah ditemukan ketika kemarau datang, tetapi seolah menghilang ketika hujan mulai turun? Di balik pasang surut ketersediaannya, ada hubungan yang cukup erat antara karakter pohon lontar, perubahan musim, pekerjaan para pengiris tuak, dan cara masyarakat Nusa Tenggara Timur membaca alam di sekitarnya.
Membahas pohon lontar atau tuak (Borassus flabellifer) dan manfaatnya bagi kehidupan masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) seolah tidak pernah ada habisnya. Musim terus berganti, tetapi pohon tuak tetap hadir dengan beragam manfaat yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Banyak warga menggantungkan kehidupan pada pohon yang kerap disebut sebagai pohon "kehidupan" bagi masyarakat NTT ini. Daunnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kerajinan dan alat kesenian, sementara bagian lainnya digunakan sebagai bahan dinding dan atap rumah. Dari pohon yang sama pula, masyarakat mengambil nira untuk diolah menjadi gula lempeng.
Mayang dari pohon lontar dipotong dan diikat, kemudian air niranya ditampung menggunakan haik, yakni wadah anyaman dari daun lontar. Selanjutnya, nira tersebut dapat diolah menjadi sopi atau gula lempeng.
Ketika musim kemarau menyelimuti Kota Kupang dan wilayah Nusa Tenggara Timur pada umumnya, tanah mulai mengering dan sebagian vegetasi lain meranggas.
Namun, justru di tengah teriknya kemarau panjang, aktivitas para pengiris tuak mencapai masa yang penting. Di balik teriknya matahari, ada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat yang berlangsung dari pohon-pohon lontar hingga ke pasar.
Di sudut-sudut pasar tradisional hingga pinggir jalan utama Kota Kupang, piringan-piringan gula lempeng dengan aroma karamel yang khas terlihat melimpah.
Sebaliknya, ketika hujan mulai mengguyur bumi Flobamora, piringan manis berbahan dasar nira lontar ini seolah semakin sulit ditemukan.
Fenomena pasang surut ketersediaan gula lempeng atau gula aren lontar ini bukan semata-mata persoalan stok barang di pasar.
Ada hubungan antara perubahan musim, karakteristik pohon lontar (Borassus flabellifer), kualitas nira, hingga pola hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil pohon tersebut.
Siklus Alam Lontar dan Kualitas Nira
Secara biologis, pohon lontar dikenal mampu beradaptasi dengan iklim kering. Tanaman ini berbunga dan menghasilkan nira secara produktif ketika cuaca panas.
Pada musim kemarau, konsentrasi gula dalam cairan nira atau air tuak dapat menjadi lebih tinggi. Tingkat penguapan yang besar serta kondisi tanah yang relatif lebih kering membuat nira yang dihasilkan terasa lebih manis dan pekat.
Air tuak yang disadap pada musim kemarau pun terasa lebih manis dan kental. Dalam kondisi yang tepat, nira juga relatif tidak cepat mengalami perubahan kualitas.
Ketika musim hujan tiba, kondisinya dapat berubah. Pohon lontar memperoleh pasokan air yang lebih banyak dari tanah. Nira yang dihasilkan dapat menjadi lebih cair, sementara kadar gulanya menurun sehingga rasa yang dihasilkan cenderung lebih hambar atau asam.