
Di tengah berbagai persoalan itu, ada satu pertanyaan yang terasa semakin mendesak untuk kita renungkan: akankah kita menjadi generasi terakhir yang masih bisa melihat langsung megahnya hutan Kalimantan seperti yang pernah kita kenal?
Melihat perubahan bentang alam dan berbagai ancaman terhadap hutan, kekhawatiran tersebut bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja. Perubahan kawasan hutan menjadi perkebunan monokultur, jika berlangsung tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan, dapat mengurangi keragaman ekosistem dan mengubah habitat berbagai satwa.
Bukan tidak mungkin, suatu hari nanti generasi setelah kita hanya mengenal sebagian hutan Kalimantan melalui cerita orang tua, buku pelajaran, dokumentasi, atau foto-foto lama. Mereka mungkin masih melihat hamparan hijau dari udara, tetapi tidak lagi menemukan keragaman kehidupan yang dahulu menjadi ciri khas hutan hujan tropis.
Orangutan, burung rangkong, dan berbagai satwa lainnya membutuhkan habitat yang sesuai untuk bertahan hidup. Keberadaan mereka berkaitan erat dengan kondisi hutan, ketersediaan makanan, dan kesinambungan kawasan yang memungkinkan mereka bergerak serta berkembang biak. Ketika habitat terpecah atau rusak, keberlangsungan hidup satwa tersebut ikut terancam.
Kita juga perlu membayangkan bagaimana perubahan itu akan memengaruhi cara generasi mendatang memahami Kalimantan. Hutan yang dahulu dikenal sebagai ekosistem alami yang kaya dapat semakin sering mereka jumpai dalam bentuk perkebunan dengan vegetasi yang seragam. Bentang alamnya mungkin tetap terlihat hijau, tetapi kehijauan itu tidak selalu berarti bahwa keanekaragaman hayatinya masih terjaga.
Perkebunan memiliki fungsi ekonomi dan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Namun, keberadaannya tidak dapat disamakan begitu saja dengan hutan alam yang memiliki susunan vegetasi, habitat, dan proses ekologis yang kompleks. Karena itu, pembangunan ekonomi perlu berjalan dengan memperhatikan perlindungan hutan serta keberlanjutan lingkungan.
Jika kita tidak sungguh-sungguh menjaga hutan yang tersisa, generasi berikutnya berisiko mewarisi lanskap yang telah banyak berubah. Mereka mungkin masih mengenal nama Kalimantan sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan alam yang besar, tetapi hanya memiliki sedikit kesempatan untuk menyaksikan sendiri sebagian kekayaan tersebut.
Ketika hari itu tiba, kita perlu bertanya pada diri sendiri tentang apa yang telah dilakukan generasi saat ini. Apakah kita sudah cukup serius menjaga hutan, atau justru membiarkan kerusakan berlangsung karena manfaat ekonomi jangka pendek terasa lebih mendesak daripada keberlanjutan lingkungan?
Hutan Kalimantan bukan sekadar latar indah dalam kenangan masa kecil saya. Ia adalah bagian dari kekayaan alam Indonesia, ruang hidup bagi masyarakat setempat, habitat bagi beragam satwa, sekaligus salah satu unsur penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kehilangannya akan membawa dampak yang jauh melampaui batas pulau itu sendiri.
Karena itu, menjaga hutan bukan hanya soal mempertahankan pemandangan hijau atau merawat kenangan generasi terdahulu. Ini juga tentang memastikan bahwa anak cucu kita masih memiliki kesempatan untuk mengenal hutan sebagai ekosistem yang hidup, bukan sekadar gambar di halaman buku atau arsip digital.
Saya tidak ingin suatu hari nanti harus menjelaskan kepada generasi berikutnya bahwa hutan Kalimantan yang pernah saya kenal kini tinggal cerita. Saya ingin mereka tetap bisa melihat pepohonan yang menjulang, mendengar suara satwa liar, dan memahami bahwa hutan memiliki nilai yang jauh melampaui apa yang dapat dihitung melalui angka-angka ekonomi.
Pada akhirnya, kita masih memiliki kesempatan untuk menentukan warisan seperti apa yang akan ditinggalkan. Kebijakan yang berpihak pada perlindungan lingkungan, pengawasan yang tegas, penegakan hukum yang adil, serta penghormatan terhadap masyarakat adat perlu berjalan bersama agar kerusakan tidak terus berulang.
Jangan sampai generasi kita dikenang sebagai generasi yang menyaksikan hilangnya hutan, tetapi terlambat mengambil tindakan untuk menyelamatkannya. Sebab, ketika sebuah ekosistem rusak dan keanekaragaman hayati menghilang, tidak semua yang hilang dapat dikembalikan seperti semula.
Semoga kita tidak menjadi generasi terakhir yang melihat langsung megahnya hutan Kalimantan. Semoga kita justru menjadi generasi yang memilih untuk menjaganya, sehingga anak cucu kita kelak tidak hanya mengenal hutan itu melalui cerita, melainkan dapat menyaksikan sendiri keindahan dan kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Akankah Kita Jadi Generasi Terakhir yang Melihat Langsung Hutan Kalimantan?"
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.