Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Wida Reza Hardiyanti
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Wida Reza Hardiyanti adalah seorang yang berprofesi sebagai Ilmuwan. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Problematika Ibu Pekerja, Antara Karier atau Mengurus Anak

Kompas.com, 5 Desember 2022, 16:02 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Menjadi ibu rumah tangga merupakan keputusan yang mereka ambil dan mungkin disebabkan juga oleh faktor-faktor yang sudah disebutkan tadi.

Akan tetapi, ada temuan menarik terkait menjadi ibu rumah tangga yang dinilai banyak orang tidak akan bisa bahagia.

Sebuah survei yang dilakukan oleh sebuah perusahaan asuransi di Inggris dengan melibatkan 3.000 nasabah perempuannya menyatakan bahwa sebanyak 87,2% merasa hidupnya bahagia ketika menjadi ibu rumah tangga.

Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan 86,3% ibu yang bekerja di bidang kreatif dan seni, 84,4% ibu yang bekerja di ranah sosial, dan 83,9% ibu yang bekerja di industri wisata.

Hasil survei tersebut kemudian diperkuat oleh hasil penelitian Office for National Statistics di UK tahun 2020. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa ibu rumah tangga merasa dan meyakini bahwa dirinya juga berharga layaknya ibu bekerja.

Akan tetapi, tidak semua perempuan bisa mendapat pilihan apakah menjadi ibu rumah tangga, ibu pekerja, atau keduanya sekaligus. Banyak di antara mereka yang justru harus bekerja karena menjadi tulang punggung keluarganya akibat suami yang jatuh sakit atau telah tiada.

Selain itu ada juga di antara mereka yang penghasilan suaminya ternyata belum mampu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga sehingga alasan ekonomi tersebut memaksa keduanya (suami-istri) untuk bekerja.

Banyak riset yang memang menunjukkan bahwa faktor utama yang mendorong perempuan bekerja adalah kebutuhan ekonomi.

Salah satunya adalah sebuah riset yang dilakukan oleh Manalu dkk. (2021) di PT. Inti Indosawit Subur Muara Bulian Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi.

Hasil riset itu menyebutkan bahwa faktor ekonomi yang menyebabkan perempuan ingin bekerja antara lain tingkat pendapatan suami yang relatif rendah, ingin membantu perekonomian keluarga, jumlah tanggungan keluarga yang relatif banyak, dan memenuhi kebutuhan pribadinya sebagai perempuan.

Work From Home Menjadi Alternatif Terbaik bagi Ibu Pekerja

Dari semua permasalahan yang dialami oleh kaum ibu pekerja sebenarnya ada sebuah solusi yang bisa diterapkan, yaitu WFA (Work From Anywhere) atau WFH (Work From Home).

Dengan melakukan WFH, maka akan memungkinkan seorang ibu pekerja untuk mengawasi anak sekaligus bisa menyelesaikan pekerjaannya di rumah secara bersamaan.

Selain itu ibu pekerja yang menerapkan sistem WFH juga bisa sekaligus mengembangkan potensi anak dengan optimal karena bisa secara langsung mendidik anak di masa-masa emasnya.

Hal lain yang menjadi keuntungan menerapkan sistem WFH bagi kaum ibu pekerja adalah dapat mengurangi risiko terjadinya kekerasan pada anaknya yang dilakukan oleh pengasuh. Sebab, pengasuh akan selalu ada dalam pengawasan majikannya di rumah.

WFH bagi ibu pekerja juga akan menciptakan keseimbangan antara bekerja dan urusan pribadi (work life balance), lebih fleksibel, lebih dekat dengan keluarga, dan menurunkan tingkat stres ketika bekerja.

Lagi-lagi sayangnya, masih sedikit perusahaan atau kantor di Indonesia yang menerapkan sistem WFH ini bagi para pekerjanya.

Oleh karena itu, perempuan sebenarnya bisa menciptakan sendiri peluang kerjanya dengan membuka usaha rumahan atau online shop yang bisa dilakukan di rumah.

Spillover effect atau dampak yang dihasilkan bagi lingkungan sekitarnya juga menjadi jauh lebih besar karena memungkinkan dirinya membuka peluang kerja bagi perempuan lain di sekitarnya.

Referensi

  • BPS. 2022. Persentase Tenaga Kerja Formal Menurut Jenis Kelamin (Persen), 2019-2021.
  • Kemenkeu. 2021. Bekerja dari Rumah.
  • Manalu, A. (2014). Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Wanita Bekerja Sebagai Buruh Harian Lepas (Bhl) Di PT. Inti Indosawit Subur Muara Bulian Kecamatan Maro Sebo Ilir Kabupaten Batanghari. Jurnal Ilmiah Sosio-Ekonomika Bisnis, 17(2).
  • Office of National Statistics UK. 2020. Family and Household Survey.
  • SAKERNAS. 2021. Survei Angkatan Kerja Nasional.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau