Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Billy Steven Kaitjily
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Billy Steven Kaitjily adalah seorang yang berprofesi sebagai Dosen. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Embung Jakarta untuk Banjir dan Ketahanan Pangan

Kompas.com, 19 November 2025, 12:10 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bisakah satu infrastruktur kota menjalankan dua peran penting sekaligus—melindungi warga dari banjir dan menyediakan sumber pangan segar?

Pertanyaan ini mengemuka ketika melihat bagaimana embung-embung di Jakarta ternyata menyimpan potensi yang jauh lebih besar dari yang kita bayangkan.

Jejak Prestasi Ketahanan Pangan Jakarta

Dalam dua tahun terakhir, upaya Pemprov DKI Jakarta menjaga ketersediaan pangan mendapat apresiasi nasional. Pada 2024, Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) meraih penghargaan Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan.

Setahun sebelumnya, Badan Pangan Nasional menetapkan Jakarta sebagai provinsi dengan peningkatan ketahanan pangan terbaik.

Prestasi ini menunjukkan keseriusan pemerintah kota dalam memastikan pangan mudah diakses, terjangkau, dan aman bagi seluruh warga.

Langkah konkret terlihat dari pelaksanaan Pasar Sembako Murah yang digelar di lima wilayah, terutama saat harga kebutuhan pokok melonjak.

Untuk memastikan stok tetap aman, Jakarta memperkuat kerja sama dengan 36 kabupaten/kota di sembilan provinsi. Enam komoditas utama—beras, daging sapi, daging ayam, telur, cabai, dan bawang merah—selama ini dipasok melalui jejaring tersebut.

Namun keberhasilan ini juga memperlihatkan sisi lain: ketergantungan penuh pada pasokan luar daerah membuat Jakarta sangat rentan ketika terjadi gangguan distribusi atau bencana di wilayah produsen.

Embung sebagai Pengendali Banjir

Sebagai kota hilir yang dialiri banyak sungai, Jakarta menghadapi tantangan banjir hampir setiap tahun. BPBD DKI mencatat setidaknya 25 kelurahan berada dalam kategori rawan banjir.

Untuk mengurangi banjir dari hulu, pemerintah pusat membangun Bendungan Ciawi dan Sukamahi di Kabupaten Bogor.

Sementara di hilir, Pemprov DKI membangun dan memperluas fungsi embung—kolam penampungan air berukuran kecil yang menahan limpasan air hujan.

Saat ini Jakarta memiliki 45 embung aktif dan dua embung baru dalam pembangunan, yakni Embung Pondok Labu dan Embung Kebagusan.

Fungsinya jelas dan vital: menahan air, memperlambat aliran ke sungai, dan memberikan ruang resapan agar banjir tidak meluas.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Nilai Terbaik Anak Tidak Selalu Tertulis di Dalam Rapor
Nilai Terbaik Anak Tidak Selalu Tertulis di Dalam Rapor
Kata Netizen
Sepak Bola Plastik dan Masa Kecil yang Masih Hidup
Sepak Bola Plastik dan Masa Kecil yang Masih Hidup
Kata Netizen
Ketahanan Pangan yang Tumbuh dari Sebidang Lahan Hibah
Ketahanan Pangan yang Tumbuh dari Sebidang Lahan Hibah
Kata Netizen
SPMB Jalur Domisili Zona 1 dan Pentingnya Akurasi Data
SPMB Jalur Domisili Zona 1 dan Pentingnya Akurasi Data
Kata Netizen
Dear Presiden, Pendidikan dan Kesehatan Itu Fondasi!
Dear Presiden, Pendidikan dan Kesehatan Itu Fondasi!
Kata Netizen
Pertamax dan Mesin-mesin Kecil yang Menopang Kehidupan
Pertamax dan Mesin-mesin Kecil yang Menopang Kehidupan
Kata Netizen
Ketika Wajah Perempuan Terlalu Cepat Dinilai
Ketika Wajah Perempuan Terlalu Cepat Dinilai
Kata Netizen
Dua Ekor Domba Betina dan Harapan yang Terus Bertumbuh
Dua Ekor Domba Betina dan Harapan yang Terus Bertumbuh
Kata Netizen
Komik Lipat dan Kenangan Manis di Balik Bungkus Jajanan
Komik Lipat dan Kenangan Manis di Balik Bungkus Jajanan
Kata Netizen
Saat Gelas Bekas Menjadi Harapan Baru bagi Bibit Bugenvil
Saat Gelas Bekas Menjadi Harapan Baru bagi Bibit Bugenvil
Kata Netizen
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kesempatan dan Keadaan untuk Menabung Semakin Menyempit
Kata Netizen
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Menghadirkan Alam di Sudut Sederhana Pekarangan
Kata Netizen
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Lebih dari Sekadar Mengajar, Dosen Bertumbuh Bersama Mahasiswa
Kata Netizen
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Hubungan Ayah dan Anak: Canggung, Diam, tetapi Penuh Sayang
Kata Netizen
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Pelajaran tentang Adaptasi, dari Bonsai ke Bougenville
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau