Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Aidhil Pratama
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Aidhil Pratama adalah seorang yang berprofesi sebagai Administrasi. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ketika Pekerjaan Aman, Hati Merasa Tidak Bertumbuh

Kompas.com, 23 November 2025, 21:49 WIB

Akan tiba satu masa: pekerjaan terasa aman, gaji berjalan lancar, tetapi hati justru terasa kosong dan tidak lagi menemukan makna. Mengapa kondisi yang terlihat nyaman justru bisa membuat kita merasa terjebak?

Fenomena ini ternyata dialami banyak pekerja. Kita sering menganggap rasa bosan sebagai tanda kurang bersyukur atau kurang motivasi.

Namun, dari sudut pandang lain, rasa bosan yang berkepanjangan bisa menjadi sinyal bahwa ada bagian dari diri kita yang sedang meminta perhatian. Kondisi ini dikenal sebagai boreout—kebalikan dari burnout.

Jika burnout muncul karena terlalu banyak tekanan, boreout justru datang karena terlalu sedikit tantangan. Bukan sekadar bosan, tetapi perasaan kehilangan arah dan tidak lagi melihat relevansi diri dalam pekerjaan.

Zona Nyaman yang Ternyata Tak Benar-benar Nyaman

Dari luar, pekerjaan yang ringan, stabil, dan penuh kepastian tampak seperti situasi ideal. Namun bagi sebagian orang, kondisi yang terlalu tenang justru memunculkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.

Ibarat burung dalam sangkar emas, tubuh mungkin aman, tetapi pikiran terasa terkurung. Manusia secara alami butuh tantangan untuk merasakan kemajuan.

Ketika pekerjaan berjalan monoton dari hari ke hari, ritme hidup ikut melambat. Fisik hadir di kantor, namun pikiran melayang ke mana-mana.

Dalam jangka panjang, ketiadaan tantangan membuat seseorang merasa berhenti bertumbuh. Datang ke kantor setiap pagi, tetapi semangat tidak ikut hadir.

Saat Potensi Tidak Mendapat Ruang

Setiap orang ingin merasa berguna dan berdampak. Ketika potensi diri tidak terpakai, muncul rasa tidak relevan dan kehilangan harga diri.

Pekerjaan yang terlalu mudah, terlalu sedikit, atau terlalu repetitif perlahan mengikis rasa percaya diri.

Bahkan tips-tips ringan seperti mendengarkan musik, merapikan meja, atau mencoba suasana baru sering kali hanya menyelesaikan masalah di permukaan.

Nah, yang sebenarnya kita cari adalah rasa bermakna—keyakinan bahwa waktu dan kemampuan yang kita miliki digunakan untuk sesuatu yang berharga.

Jangan Abaikan Sinyal dari Dalam Diri

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Sepiring Gonggong dan Sensasi yang Tidak Biasa
Kata Netizen
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
MBG Hadir, Kantin Sekolah Tetap Punya Cerita
Kata Netizen
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Pertemanan yang Merenggang Tak Selalu Berarti Putus
Kata Netizen
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Ada Perjuangan di Balik Mual dan Emosi Ibu Hamil
Kata Netizen
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Setelah Gempa Berlalu, Bagaimana Mengembalikan Rasa Aman?
Kata Netizen
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Seharian di Cipete dan Sekitarnya
Kata Netizen
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Belajar Ketahanan Pangan dari Hutan Kota di Seniman Pangan
Kata Netizen
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Dulu Maba, Kini Sarjana: Apa yang Berubah dari Cara Berpikir?
Kata Netizen
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
El Nino Bukan Sekadar Musim Kemarau, Ini Dampaknya bagi Kita
Kata Netizen
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Membawa Kincung, Sedikit Bagian dari Kampung Halaman
Kata Netizen
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
(Tidak) Semua Pertemanan Mesti Bertahan Selamanya
Kata Netizen
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Yang Tertinggal Setelah Seorang Dosen Pergi
Kata Netizen
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Menanam Nangka di Pekarangan, Menikmati Buahnya, Merasakan Hematnya
Kata Netizen
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Sejuknya Hutan, Hangatnya Cerita tentang Petani Kopi
Kata Netizen
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kemerdekaan yang Belum Selesai, Korupsi Menggerogoti Hak Rakyat
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Terpopuler
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau