Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana masa tanam jagung di daerah yang mengandalkan pertanian tradisional menghadapi gempuran varietas hibrida?
Apakah ketahanan pangan lebih kuat bila kita mempertahankan jagung lokal, atau justru mempercepat peralihan ke jagung nonlokal?
Musim hujan yang mulai hadir di banyak wilayah Nusa Tenggara Timur menandai dimulainya musim tanam.
Jika di Kabupaten Timor Tengah Selatan, aktivitas para petani kembali menggeliat. Lahan-lahan mulai dibersihkan, dan benih-benih mulai disiapkan.
Jagung menjadi salah satu tanaman pertama yang ditanam—bukan hanya karena kebutuhan, tetapi karena jagung merupakan makanan pokok masyarakat di daerah ini.
Dan seperti yang terjadi secara turun-temurun, banyak petani masih memilih varietas jagung lokal yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur mereka.
Ragam Jagung Lokal yang Turun-temurun
Di masyarakat, jagung lokal dibedakan berdasarkan warna dan teksturnya.
Dari teksturnya, terdapat:
Ada pula jagung hibrida lokal seperti pen li’at yang dikenal berbatang pendek dengan umur panen lebih singkat, serta pen boto yang biasa digunakan untuk membuat popcorn.
Setiap jenis memiliki tempat tersendiri dalam dapur dan budaya masyarakat.
Masuknya Jagung Nonlokal
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah semakin menguatkan program pertanian, termasuk pemberian bantuan alat tani, pupuk, dan benih jagung hibrida. Varietas inilah yang oleh masyarakat disebut pen kase atau jagung nonlokal.
Jagung nonlokal ini memang cepat panen dan hasilnya lebih besar, tetapi penggunaannya memiliki dinamika tersendiri bila dibandingkan dengan jagung lokal yang telah lama menjadi bagian dari sistem pangan tradisional.
Perbandingan Jagung Lokal dan Jagung Nonlokal
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya