
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Jika ada satu menu favorit yang tak pernah benar-benar membosankan—meski disajikan lagi dan lagi-- kira-kira apa?
Menu yang begitu melekat pada lidah dan kenangan, hingga hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat ingin menyendok nasi?
Bagi saya, menu “anti bosan” itu adalah ikan asap masak santan, hidangan sederhana namun selalu berhasil menghadirkan kenyamanan.
Aroma ikan asap yang berpadu dengan santan ringan membawa saya pada masa-masa kecil. Ibu saya, yang piawai meracik masakan rumahan, sering menyiapkan hidangan bersantan yang beliau sebut kothokan.
Mirip lodeh, tetapi lebih kaya rasa karena diberi tambahan ikan asap atau iwak pe (ikan pari asap).
Isinya tak pernah jauh dari tahu, tempe, dan suwiran ikan asap yang pedas gurih ala dapur Jawa Timur. Kombinasi yang, bagi saya, selalu berhasil membuat makan jadi momen yang dinanti.
Ketika kemudian saya merantau ke Makassar dan berkeluarga, rupanya hidangan serupa juga akrab di dapur keluarga suami yang berasal dari Bone.
Bedanya, di sana biasanya digunakan ikan asap jenis lain—sering kali mirip tuna. Saya pun menyebutnya “ikan asap saja”, karena tak selalu yakin jenis ikan apa yang diasap. Yang jelas, rasanya tetap nikmat.
Nah, yang membuat saya makin akrab dengan menu ini adalah tetangga saya, yang berasal dari Bone juga. Ia kerap membawa oleh-oleh ikan asap setiap pulang kampung.
Sebuah kebaikan kecil yang diam-diam sangat saya syukuri, karena selalu berakhir menjadi hidangan bersantan hangat di meja makan kami.
Ketika Masakan Sederhana Menjadi Penghangat Rumah
Meracik ikan asap masak santan sebenarnya tidak sulit. Bahkan dengan bumbu yang minimalis, hidangan ini tetap terasa memanjakan.
Namun, jika bumbunya lengkap, aromanya akan jauh lebih kaya dan menonjol. Berikut versi sederhana yang biasa saya buat:
Bahan:
Cara membuat: