Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rully Novrianto
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Kenapa Ada Siswa Susah Makan Makanan Program MBG?

Kompas.com, 23 Januari 2025, 12:38 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Ada yang jadi perhatian selama pengenalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) ini ternyata bukan sekadar anggaran maupun logistik, melainkan anak-anak yang susah makan.

Iya, masalah klasik ini ternyata lebih kompleks dari sekadar memilih menu yang sehat. Saya ngomong begini karena keponakan saya sendiri adalah contoh nyata.

Makanan Sehat Kalah dengan Mi Instan

Keponakan saya ini setiap pulang sekolah langsung minta dibuatkan mi instan, nasi goreng, atau telur ceplok.

Padahal ibunya sudah berusaha banget. Dia pesan katering dengan harga Rp48.000 per hari. Tiap hari menunya ganti-ganti. Ada ayam panggang, sup daging, sampai soto. Tapi apa yang terjadi? Tetap saja makanan itu jarang disentuh.

Sebab anak kecil itu simpel: makan bukan soal gizi, tapi soal rasa dan mood. Kalau menu sehat nggak bisa memenuhi ekspektasi lidah mereka, ya sudah selesai.

Apalagi dari beberapa liputan TV yang menampilkan laporan MBG ini, banyak anak-anak yang tidak menghabiskan makanannya atau bahkan tidak dimakan sama sekali karena rasanya yang kurang cocok.

Kalau katering mahal saja sering kalah sama mi instan, bagaimana makanan (mohon maaf) seharga Rp10.000?

Pentingnya Rasa dalam Program Bergizi

Mungkin ya, program MBG ini terlalu fokus pada nutrisi tanpa memikir aspek rasa. Padahal rasa itu kunci untuk bikin anak mau makan. Kalau lauknya hambar, ya wajar kalau mereka tidak menghabiskannya.

Bahkan di sekolah tertentu ada anak yang nggak doyan nasi, sehingga harus diganti dengan kentang goreng. Bayangkan repotnya guru di sekolah yang harus membujuk mereka makan.

Saya nggak tahu bagaimana cara mereka memasaknya dan saya juga bukan ahli gizi. Mungkin saja masalahnya adalah aturan gizi yang kaku. Penyelenggara program takut memberikan bumbu tambahan yang bikin makanan menjadi kurang sehat.

Karena makanan sehat belum tentu enak. Justru yang tidak sehat malah enak. Betul kan?

Strategi Menciptakan Menu yang Ramah Anak

Menciptakan menu bergizi yang ramah anak itu tantangan besar, tapi bukan berarti mustahil. Kuncinya ada pada kombinasi rasa, tampilan, dan sedikit kreativitas.

Kalau makanan sehat bisa bikin anak-anak merasa antusias, setengah dari masalah sudah teratasi. Berikut beberapa strategi yang bisa dicoba:

1. Ubah Presentasi Makanan 

Anak-anak itu makan dengan mata dulu. Kalau bentuk makanannya nggak menarik, sudah pasti mereka ogah.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Es Tawon Malang, Manis yang Bertahan di Tengah Perubahan Kota
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau