Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Masykur Mahmud
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Masykur Mahmud adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan

Kompas.com, 17 Mei 2026, 18:01 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

“Mungkinkah menanam sayur di halaman rumah?”

Pertanyaan itu sempat terlintas di benak saya ketika mulai mencoba menyemai biji sawi sekitar sebulan lalu. Awalnya ada rasa ragu. Saya membayangkan menanam sayuran membutuhkan lahan luas, perawatan rumit, atau biaya yang tidak sedikit.

Namun, keraguan itu perlahan berubah menjadi rasa antusias ketika benih-benih kecil mulai tumbuh dari media tanam.

Ternyata, menanam sayuran di lahan terbatas tidak sesulit yang dibayangkan. Dengan polybag, beberapa pot bunga, dan media tanah sederhana, halaman rumah bisa disulap menjadi ruang hijau yang produktif.

Modal yang dibutuhkan pun relatif terjangkau. Saya membeli satu kantong benih sawi seharga sekitar lima ribu rupiah, puluhan polybag sekitar dua belas ribu rupiah, serta beberapa kantong tanah sebagai media tanam dengan total kurang lebih dua puluh ribu rupiah.

Jika media tanam sudah tersedia di rumah, tentu biaya yang diperlukan akan jauh lebih hemat.

Sebagian sawi ditanam di polybag, sebagian lagi di pot bunga. Totalnya sekitar dua puluh wadah tanam, dan menariknya, benih sawi masih tersisa cukup banyak untuk digunakan kembali.

Pada masa awal penyemaian, proses pertumbuhan memang membutuhkan kesabaran. Penyiraman harus dilakukan dengan hati-hati agar tanah tetap lembap, tetapi tidak terlalu basah. Setelah tanaman mulai tumbuh, perawatannya terasa jauh lebih mudah.

Saya hanya perlu menyiramnya sekali sehari dan memastikan tanaman mendapatkan sinar matahari pagi yang cukup.

Sawi termasuk jenis sayuran yang relatif mudah tumbuh. Dalam waktu sekitar satu bulan setelah penyemaian, daunnya sudah bisa dipanen.

Menariknya, tanaman ini tidak perlu dicabut seluruhnya. Cukup menggunting daun yang siap dipanen agar tunas baru bisa tumbuh kembali. Dengan cara itu, tanaman dapat dipanen secara bertahap dan berulang.

Kini, sawi yang tumbuh di rumah bisa dipetik hampir setiap hari. Jika di pasar satu ikat sawi dijual sekitar dua hingga tiga ribu rupiah, maka menanam sendiri jelas membantu menghemat pengeluaran rumah tangga.

Dari langkah sederhana ini, saya belajar bahwa berkebun di lahan sempit ternyata bisa menjadi aktivitas yang praktis, murah, dan bermanfaat.

Selain mudah ditanam, sawi juga dikenal sebagai sayuran yang kaya nutrisi. Kandungan vitamin A, C, E, dan K di dalamnya cukup tinggi. Sayuran ini juga mengandung serat, zat besi, fosfor, mineral, dan kalium yang baik untuk tubuh.

Konsumsi sayuran seperti sawi dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan, mendukung daya tahan tubuh, serta baik untuk kesehatan tulang dan jantung.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Cerita Menanam Sayur di Rumah, dari Polybag ke Meja Makan
Kata Netizen
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Perspektif Lain Profesi MC yang “Gak Cuma Modal Ngomong”
Kata Netizen
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Ketika Jurusan Baru SMK Tidak Selalu Menjadi Jawaban
Kata Netizen
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Menyusuri Jejak Pecinan di Pedalaman Wonogiri
Kata Netizen
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Sebelum Membeli Hewan Kurban, Sudahkah Memastikan Ada SKKH?
Kata Netizen
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Saat Hamil, Setiap Asupan Menentukan Masa Depan
Kata Netizen
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Sepat, Sajian Sederhana yang Menyimpan Kekayaan Rasa dan Tradisi
Kata Netizen
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kelas Menengah di Persimpangan, antara Bertahan dan Bertumbuh
Kata Netizen
'Hamil Kebo', Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
"Hamil Kebo", Ringan di Awal, tetapi Penuh Perjuangan di Akhir
Kata Netizen
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kisah dan Rasa Perempuan dalam Bingkai Cerita
Kata Netizen
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Bukan Sekadar Wisata, Museum Bisa Jadi Ruang Refleksi
Kata Netizen
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Batu Baginde dan Cara Kita Melihat Waktu
Kata Netizen
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Titik Balik Hidup, Saat Semua Mengajarkan Pentingnya Menjaga Diri
Kata Netizen
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Soto Tanpa Nama dan Cerita tentang Harga Plastik yang Digunakan
Kata Netizen
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Merawat Inner Child Lewat Bacaan Masa Kecil
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau