
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apa yang membuatmu rindu pada suara alam di sekitar rumah sendiri? Apakah kamu juga menyadari bahwa kupu-kupu, lebah, dan serangga kecil kini semakin jarang terlihat di lingkungan tempat tinggal?
Mungkinkah ruang hijau sederhana di rumah mampu menghadirkan kembali kehidupan-kehidupan kecil yang dulu akrab dengan keseharian kita?
Berada di kawasan permukiman yang cukup padat, rumah kami berada di dalam gang kecil, tepat di belakang rumah bapak mertua. Ruang terbuka yang tersisa di sekitar rumah sebenarnya tidak banyak.
Hanya ada sebidang lahan kosong di samping rumah kakak ipar, luasnya sekitar 10 tumbak, yang kabarnya suatu hari nanti akan dibangun rumah. Jika itu terjadi, kami membayangkan lingkungan sekitar akan semakin dipenuhi bangunan.
Untuk menuju rumah dengan lebih cepat, kami biasanya melewati ruang tengah rumah bapak mertua. Jika tidak, kami harus memutar melewati beberapa rumah lain dengan gang yang semakin sempit.
Meski masih ada sedikit ruang terbuka di dekat rumah, suasananya belum terasa sejuk. Yang tumbuh sebagian besar hanya rerumputan liar dan semak belukar. Sesekali bahkan ada orang yang membuang sampah di sana.
Pepohonan pun semakin jarang ditemukan, kecuali di lahan-lahan terbuka yang letaknya cukup jauh dari rumah. Udara terasa berbeda dibandingkan dulu, tidak lagi sesegar yang kami rasakan ketika tinggal di kampung halaman.
Kerinduan pada Kehidupan Alam yang Perlahan Menghilang
Ketika pertama kali pindah ke rumah ini sekitar tiga tahun lalu, saya mulai menyadari betapa jarangnya melihat kupu-kupu beterbangan atau lebah hinggap di bunga.
Suara tonggeret yang dulu begitu akrab di telinga ketika tinggal di desa juga hampir tidak pernah terdengar lagi.
Sebagai seseorang yang lahir dan tumbuh di pedesaan, keberadaan serangga-serangga kecil itu selalu menghadirkan rasa tenang tersendiri.
Kerinduan terhadap suasana alam biasanya baru sedikit terobati saat pulang kampung ke Panawangan, Ciamis, meski hanya dua atau tiga hari.
Menciptakan Ruang Hijau dari Sudut Rumah yang Sederhana
Karena sering merasa gerah dan merindukan suasana yang lebih segar, kami mulai berpikir untuk menciptakan ruang hijau kecil di rumah sendiri. Kebetulan, saat memperbaiki dapur, ada sisa lahan berukuran sekitar 4 x 2,5 meter yang kemudian kami jadikan halaman belakang sekaligus area jemuran terbuka tanpa atap.
Dari situlah keinginan menghadirkan ruang hijau mulai tumbuh. Kami ingin memiliki sudut kecil yang membuat udara terasa lebih lega dan nyaman untuk ditempati. Tentu semuanya tidak terjadi dalam waktu singkat. Prosesnya perlahan dan membutuhkan kesabaran.