
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Kapan kamu terakhir kali ke toko buku? Pernah membayangkan bagaimana jika kita saja jarang ke toko buku lalu toko buku tersebut terpaksa gulung tikar?
Itulah realitas bisnis. Toko buku ada yang bertahan, tetapi ada pula toko buku alternatif yang selalu melakukan segala cara demi bisa mendekatkan buku kepada para pembaca: dari ngebuka lapak sampai digitalisasi toko buku.
Hiruk-pikuk pusat kota metropolitan meramaikan seisi telinga dan kepala siang lalu; bisingnya kendaraan yang berjajar di lampu merah, belum lagi suara knalpot yang ikut mengalun --begitulah suasana kawasan Pasar Senen yang sarat akan nuansa kota, sungguh aktif dan tak pernah sepi.
Melewati pasar buku, mata ini disapa oleh tumpukan buku-buku yang terpajang sunyi di antara lorong dan sejumlah gerai toko yang tutup, "sudah lama betul nggak mampir," ucap saya dalam hati. Dari banyaknya gerai, hanya 1-2 toko buku yang buka.
Di samping itu, terlihat pelapak buku bekas tertunduk lesu. Sesekali membaca, sesekali melihat layar handphone, tak lain menunggu pelanggan yang datang.
Toko Ramai Melalui Layar, Dalam Satu Genggaman
Cukup berbeda, ketika sejenak saya membuka handphone dan tertuju pada pasar online (marketplace). Pelapak buku berjejer dan ramai.
Buku-buku dipajang rapi sesuai kategori, pelapak tetap aktif menawarkan dan memperlihatkan fisik buku, pelanggan pun lalu-lalang ikut berinteraksi tawar-menawar harga sampai deal.
Tentu, menjadi dua pemandangan yang berbeda. Saya akui pula, kalau dahulu lebih sering berkeliling mencari buku fisik secara langsung, namun kini jauh lebih mudah berkeliling mencari buku di pasar online.
Di pasar online (marketplace), pelapak buku bukan sekadar upload foto dan mengharapkan pelanggan datang, melainkan ikut melakukan inovasi baru di mana konsep toko buku disesuaikan dengan model dan kesukaan pembaca khususnya generasi milenial dan z.
Sesederhana pemberian promo dan voucher, sistem bundling, gratis ongkir, bebas nego, hingga bonus aksesoris seperti pembatas buku dan sticker.
Meningkatnya Penjualan Berkat Live Streaming
Tidak lagi sekadar masuk ke satu per satu toko yang ada untuk melihat dan mencari buku, melainkan jauh lebih mudah lagi melalui akses live streaming.
Di pasar online (marketplace), pelapak buku memanfaatkan live streaming untuk menawarkan, memperlihatkan kondisi, dan membuka kesempatan tawar-menawar buku.
"Boleh kak bukunya, spesial live cuma 35 ribu aja",
"Oke kak, dikasih nih bukunya dari 50 jadi 30 aja, saya ganti dulu harganya sebentar",
"Buku novel di etalase 3 kak, ada horor dan misteri, kalau mau yang romansa ada di etalase 4 ya kak,"