
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah kita perlu khawatir ketika anak memilih bacaan yang terasa “terlalu serius” untuk usianya, atau justru melihatnya sebagai tanda rasa ingin tahu yang sedang tumbuh?
Beberapa tahun lalu, kami membeli sebuah buku di salah satu toko buku besar, Gramedia. Bukan karena rekomendasi guru, bukan pula karena tugas sekolah. Anak saya yang memilihnya sendiri. Saat itu ia masih duduk di kelas 5 SD; kini ia telah menginjak kelas 7 SMP.
Di antara rak-rak yang dipenuhi buku cerita bergambar, dongeng berwarna cerah, komik jenaka, dan ensiklopedia anak, tangannya justru berhenti pada buku bersampul kelabu: sejarah Perang Dunia.
Hingga hari ini, buku-buku itu masih tersimpan rapi di meja belajarnya, berdampingan dengan buku pelajaran sekolah.
Pilihan yang Mengagetkan Orang Tua
Sebagai orang tua, reaksi pertama saya tentu heran. Bahkan sedikit khawatir. Bukankah anak-anak seharusnya menikmati bacaan yang ringan, imajinatif, dan menyenangkan? Mengapa justru perang, senjata, dan sejarah kelam manusia yang menarik perhatiannya?
Keheranan itu bertambah ketika seorang petugas toko buku mendekat dan meminta anak saya difoto sambil memegang buku tersebut. Entah untuk dokumentasi, promosi, atau sekadar momen unik. Ekspresi petugas itu memperlihatkan keterkejutan yang sama: anak sekecil ini membaca buku tentang perang dunia?
Momen itu singkat, tetapi cukup membekas.
Ketika Anak Tidak Selalu Sesuai Ekspektasi
Kita sering lupa bahwa anak bukanlah versi mini dari orang dewasa, tetapi juga bukan sosok polos tanpa rasa ingin tahu yang kompleks. Mereka memiliki minat yang kadang tidak sesuai dengan kategori “normal” menurut standar orang tua.
Kita terbiasa membingkai bacaan anak dalam kotak-kotak sederhana:
Padahal, minat baca tidak selalu berjalan linear mengikuti usia. Ada anak yang tertarik pada dinosaurus sejak usia lima tahun, ada yang mengoleksi peta, ada yang gemar membaca ensiklopedia tubuh manusia, dan ada pula yang penasaran pada sejarah perang.
Pilihan itu lahir begitu saja. Ia melihat, tertarik, lalu memilih. Sesederhana itu.
Rasa Ingin Tahu yang Perlu Dihargai
Anak-anak adalah penanya yang gigih. Mereka ingin tahu “mengapa” sebelum memahami “bagaimana”.