
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Benarkah memilih barang yang lebih murah selalu berarti berhemat? Atau jangan-jangan, keputusan yang tampak ekonomis di awal justru membuat kita membayar lebih mahal di kemudian hari?
Beberapa waktu lalu, saya pernah membeli sepatu dengan harga sekitar seratus ribuan. Alasannya sederhana: ingin berhemat.
Dalam pikiran saya saat itu, sepatu toh hanya soal fungsi yang penting ukurannya pas, modelnya sesuai, dan bisa dipakai beraktivitas. Merek tidak terlalu menjadi pertimbangan.
Namun, sepatu tersebut ternyata tidak bertahan lama. Baru tiga atau empat bulan dipakai, bahannya mulai rusak.
Lebih dari itu, sepatu itu terasa kurang nyaman. Setiap kali digunakan berjalan atau berdiri dalam waktu lama, kaki terasa pegal.
Pengalaman itu membuat saya mempertimbangkan pilihan berbeda. Saya akhirnya membeli sepatu dengan merek yang lebih dikenal, dengan harga hampir lima kali lipat lebih mahal.
Hasilnya terasa signifikan. Sepatu tersebut nyaman dipakai berjam-jam, tidak membuat lelah, dan tetap awet hingga bertahun-tahun.
Di situlah saya mulai memahami bahwa merek tidak selalu sekadar soal gengsi. Dalam banyak kasus, merek juga mencerminkan kualitas bahan, proses riset, standar produksi, hingga tanggung jawab terhadap konsumen.
Cost per Use, Ketika Mahal Justru Lebih Hemat
Pengalaman tersebut memperkenalkan saya pada konsep cost per use dengan biaya per pemakaian. Jika dihitung secara sederhana, sepatu yang lebih mahal justru menjadi lebih ekonomis karena dipakai lebih lama dan lebih sering.
Nilainya bukan hanya pada daya tahan, tetapi juga pada kenyamanan, kesehatan kaki, dan rasa percaya diri.
Hal serupa saya temui saat memilih produk perawatan tubuh. Produk dengan harga sangat terjangkau sering kali tidak memberikan hasil yang signifikan.
Perubahan tak terlihat, kita terdorong menambah produk lain seperti serum tambahan, toner berbeda, krim pelengkap, bahkan perawatan di klinik.
Padahal, jika sejak awal memilih satu produk yang lebih berkualitas, meskipun harganya lebih tinggi, kebutuhan untuk “menumpuk” berbagai produk bisa dihindari. Selain lebih efisien, kulit pun tidak perlu terpapar terlalu banyak bahan yang belum tentu memberikan manfaat nyata.
Ketika Harga Murah Mendorong Overkonsumsi