
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah selalu mengiyakan permintaan orang lain benar-benar membuat kita menjadi pribadi yang baik, atau justru perlahan mengorbankan diri sendiri? Pernah berada di situasi seperti ini?
Diajak teman nongkrong di kafe mahal, kita tetap ikut karena merasa tidak enak menolak, padahal kondisi keuangan sedang pas-pasan.
Ada teman yang sering meminjam uang, dan kita selalu memberi karena takut dicap pelit, meski akhirnya kesulitan menagih ketika sedang membutuhkan.
Di kantor, diminta membantu tugas rekan kerja, kita mengiyakan karena merasa sungkan—apalagi sebagai anak baru hingga akhirnya pekerjaan tambahan itu seolah menjadi kewajiban rutin.
Situasi-situasi tersebut bisa menjadi gambaran seseorang yang dikenal sebagai people pleaser.
Secara sederhana, people pleaser adalah perilaku menyenangkan orang lain secara berlebihan, sering kali dengan mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Istilah ini merujuk pada individu yang sulit berkata tidak, terutama karena takut mengecewakan, ditolak, atau dinilai negatif.
Ketika Tidak Enak Menjadi Kebiasaan
Orang yang cenderung menjadi people pleaser biasanya mengalami beberapa pola berikut:
1. Sulit menolak permintaan orang lain, meskipun sedang kesulitan.
Misalnya, ketika kondisi keuangan sedang terbatas, tetap meminjamkan uang karena khawatir dianggap tidak peduli. Atau ketika beban kerja sudah menumpuk, tetap membantu rekan kerja hingga harus lembur, walau bantuan tersebut tak selalu dihargai.
Rasa kecewa mungkin muncul. Namun ketika permintaan serupa datang lagi, kita tetap mengiyakan. Siklus ini bisa berlangsung terus-menerus hingga menimbulkan kelelahan mental.
2. Menghindari konflik dengan memilih diam atau selalu setuju.
Tidak semua orang yang enggan berdebat adalah people pleaser. Ada yang memang memilih menghindari perdebatan karena tidak ingin memperpanjang masalah.
Namun bagi people pleaser, kecenderungan untuk selalu setuju sering kali didorong oleh ketakutan terhadap konflik. Mereka menahan pendapat demi menjaga suasana tetap nyaman.
Sekilas, sikap ini terlihat baik. Namun jika terus dilakukan, seseorang bisa kehilangan keberanian untuk menyampaikan pendapatnya sendiri.