
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
3. Menjadikan Macet “Sekolah Kesabaran”
Alih-alih menganggap macet sebagai penderitaan, saya menjadikannya latihan melatih emosi. Kalau bisa melewati dua jam perjalanan tanpa marah, rasanya mental jadi lebih kuat.
4. Istirahat Sejenak di Tengah Jalan
Ketika lelah atau kantuk menyerang, saya memilih berhenti sejenak. Kadang sekadar menikmati semangkuk bakso pinggir jalan. Momen sederhana ini justru memberi energi baru.
5. Mensyukuri Perjalanan Panjang
Daripada mengeluh soal jarak, saya lebih memilih bersyukur masih diberi kesehatan, pekerjaan, dan kesempatan untuk pulang pergi dengan selamat. Rasa syukur inilah yang menjadi kunci terpenting.
Bagi banyak orang, commuting adalah sumber stres. Namun bagi saya, perjalanan jauh setiap hari justru menjadi ruang belajar—tentang sabar, ikhlas, dan rasa syukur.
Di balik jalanan yang macet, ternyata selalu ada ruang untuk refleksi, untuk doa, bahkan untuk menikmati semangkuk bakso hangat di pinggir jalan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Bisa Karena Biasa: 5 Caraku Mengatasi Commuting Stress"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang