
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bisakah pola makan sederhana menjadi bagian dari proses penyembuhan, bukan hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk hati dan cara kita melihat hidup?
Cedera yang pernah saya alami dari luka robek di punggung kaki, fraktur tibia-fibula, hingga operasi dan masa rehabilitasi.
Itu semua mengajarkan saya bahwa tubuh tidak semata-mata “mesin” yang harus segera kembali normal. Itu adalah anugerah: tempat jiwa berdiam, tempat cinta dan budaya bertemu, serta ruang di mana kita belajar bertahan dan pulih.
Karena itu, ketika saya menengok kembali konsep clean eating, saya tidak lagi memandangnya sebagai tren populer atau diet sesaat, melainkan sebagai cara merawat tubuh dengan lebih sadar.
Pikiran ini muncul setelah membaca tulisan Pak Merza, seorang Kompasianer senior yang menuliskan bahwa clean eating adalah bentuk penghormatan kepada makanan dan sumbernya.
Kalimat itu terasa sangat dekat dengan perjalanan saya sendiri, perjalanan menyusun ulang hidup setelah cedera yang tidak hanya mematahkan tulang, tetapi juga hati saya.
Menghormati Tubuh yang Sedang Berusaha Bangkit
Masa pemulihan memaksa saya berhenti sejenak. Saya belajar kembali mendengarkan tubuh, yang selama berminggu-minggu harus diam, menahan nyeri, lalu perlahan bergerak lagi melalui fisioterapi. D
alam jeda panjang itulah saya mulai menyadari bahwa tubuh tidak hanya butuh pulih, tetapi juga dihargai.
Clean eating hadir sebagai wujud rasa sayang kepada tubuh yang telah bekerja keras melewati fase sulit. Bukan pola makan yang menuntut kesempurnaan, melainkan cara memberi “bahan bakar terbaik” untuk proses penyembuhan.
Literatur nutrisi pemulihan menunjukkan bahwa setelah cedera atau operasi, kebutuhan akan protein, lemak sehat, karbohidrat kompleks, serta mikronutrien meningkat.
Protein membantu perbaikan jaringan, omega-3 meredam inflamasi, dan karbohidrat kompleks menjadi energi yang stabil bagi tubuh.
Dalam konteks ini, clean eating menjadi bentuk penghormatan: sebuah usaha memberi yang terbaik agar tubuh dapat sembuh tanpa terburu-buru.
Menghargai Sumbernya: Alam, Budaya, dan Nilai
Filosofi clean eating juga mengajak saya melihat makanan sebagai jembatan antara tubuh, alam, dan budaya.