Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk CJ
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk CJ adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Hampir Satu Abad Puthu Lanang Menjaga Rasa dan Tradisi

Kompas.com, 21 Desember 2025, 22:11 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Apa yang membuat sebuah jajanan sederhana mampu bertahan hampir satu abad, tetap dicari, dan terus hidup di tengah gempuran kuliner modern?

Hujan kerap menghadirkan keinginan sederhana: menikmati kudapan hangat yang manis dan menenangkan. Di Kota Malang, salah satu pilihan yang sejak lama menemani suasana seperti itu adalah kue puthu.

Dari sekian banyak penjual, nama Puthu Lanang menempati tempat tersendiri di hati warga.

Suatu sore selepas Magrib, saya kembali menyambangi Puthu Lanang yang berada di sebuah gang buntu di kawasan Jalan Jaksa Agung Suprapto. Tempatnya sederhana, bahkan nyaris tersembunyi.

Namun pemandangannya selalu sama: antrean pembeli yang sabar menunggu, seolah sudah menjadi bagian dari ritual sore hari di sudut kota ini.

Setiap senja, area kecil di dekat studio foto itu berubah menjadi titik keramaian. Aroma khas gula merah yang meleleh, kelapa parut, dan uap bambu kukusan menguar, memancing siapa pun yang melintas untuk berhenti sejenak.

Jajanan tradisional ini telah hadir sejak 1935 dan tetap bertahan di tengah perubahan zaman—sebuah bukti bahwa kesederhanaan yang dijaga dengan konsisten memiliki daya hidup yang panjang.

Dari Puthu Celaket hingga Menjadi Puthu Lanang

Sejarah Puthu Lanang bermula dari sosok Ibu Supiah, yang mulai berjualan kue puthu pada tahun 1935. Kala itu, masyarakat mengenalnya sebagai Puthu Celaket, sesuai dengan lokasi awal tempat ia berjualan.

Popularitasnya terus meluas, bahkan hingga ke luar Kota Malang. Nama “Puthu Celaket” pun sempat digunakan oleh banyak penjual lain.

Perubahan nama menjadi Puthu Lanang baru terjadi pada awal 2000-an. Siswoyo, putra Ibu Supiah sekaligus penerus usaha keluarga, menceritakan bahwa penamaan tersebut berangkat dari obrolan sederhana di dalam keluarga.

“Saat itu ibu saya belum punya cucu laki-laki. Saya bilang saja pakai nama ‘Puthu Lanang’. Selain itu kan sudah ada puthu ayu, jadi sekalian ada pasangannya,” tutur Siswoyo.

Nama tersebut kemudian dipatenkan secara resmi dengan bantuan salah seorang pelanggan yang berprofesi sebagai notaris. Sejak saat itu, identitas Puthu Lanang semakin kuat sebagai bagian dari sejarah kuliner Malang.

Resep Lama, Rasa yang Tetap Dijaga

Hingga kini, Puthu Lanang masih setia menggunakan cara pembuatan tradisional.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau