
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tentang Medali Emas dan Sisi Manusiawi yang Jarang Terlihat
Sea Games, Thailand, 2025 masih berlangsung. Indonesia untuk sementara menempati urutan ke dua perolehan medali dengan 67 emas, 75 perak dan 76 perunggu (data 17 Desember, pukul 13:46). Melebihi target dari urutan 3.
Dan, salah satu olahraga penyumbang banyak medali emas adalah cabang wushu. Ya, cabang ini meraup 5 emas, melebihi target 3 medali, mengantarkan Indonesia menjadi Juara Umum di cabang wushu di Sea Games 2025 ini.
Salah satu penyumbang medali emas wushu itu adalah seorang gadis berparas ayu, Patricia Geraldine.
Patricia Geraldine menggaet emas untuk nomor taolu, gabungan jurus changquan, jianshu, dan qiangshu.
Ditemui di sekitaran BSD bersama kedua orang tuanya dan adik bungsunya, Patrice terlihat sumringah meski gurat-gurat kelelahan masih terlihat di wajahnya. Iya, pertandingan yang dilewati begitu menegangkan. Intens.
Tidak salah jika yang pertama terpikir olehnya saat dikalungin medali di podium itu adalah pengen langsung pulang.
"Terus rebahan. Istirahat", begitu ujarnya.
Tapi tentu saja perasaan campur aduk dia rasakan dan diungkapkan.
"Lega, bangga, nangis, sama pengen pulang", sambungnya dengan malu-malu. Dia bercerita bagaimana begitu bangganya dia ketika memenangkan pertandingan, karena ini adalah keikutsertaan pertama dia di ajang olahraga multi event internasional.
Meski dia beberapa kali menjuarai turnamen-turnamen wushu, termasuk internasional , tetap saja ada kebanggaan lebih ketika bisa mengharumkan nama bangsa sendiri.
"Bangga banget. Nangis paling kenceng justru setelah selesai bertanding. Tiga hari berturut-turut bertanding, lelah sama tegang.Deg-degan", kata dia.
Kelelahan dan ketegangan yang sedikit demi sedikit menguap ketika dia sudah kembali ke rumahnya di Jakarta dan bertemu papih-mamih serta saudara-saudaranya. Ya, atlet itu manusia biasa, dan keluarga adalah tempat kembali dan meraih ketenangan hati dan jiwa.
Kebayang tiga hari berturut-turut, memainkan tiga jurus yang biasanya terpisah dan mendapat masing-masing medali, sekarang digabung jadi satu.
Keputusan panitia Sea Games Thailand ini membuat tekanan makin besar, karena atlet dituntut untuk perform menghasilkan nilai tinggi di tiap jurus.
"Lawan paling berat sih Malaysia. Tapi, semua lawan berat-berat sih", lanjutnya. Sebuah pernyataan yang menunjukkan motivasi tinggi seorang atlet, menempatkan semua lawan sebagai saingan terberat, dan TIDAK MENYEPELEKAN KEKUATAN LAWAN.
"Ngomong-ngomong, ketika kamu di podium menerima medali, siapa orang pertama yang lewat di kepalamu", iseng saya bertanya biar suasana obrolan lebih ceria dan mengalir. Patrice tidak menjawab. Sepertinya itu strategi yang aman, karena ada papih mamihnya di dekatnya.
***
Menjelang SEA Games ini, Patrice mengikuti pemusatan latihan selama tiga bulanan. Melelahkan. Tetapi lelah adalah hal yang biasa buat dia sebagai seorang atlet. Tidak berarti itu selalu menyenangkan, dan tidak selalu dihadapi dengan tenang hati dan gembira.
"Sering", begitu jawabnya singkat ketika ditanya apakah dia ngerasa capek, gak kuat, dan mau berhenti.
Dia lalu melanjutkan.
"Bukan saat mau Sea Games saja sih. Untuk pertandingan-pertandingan lain juga sama. Bahkan kalau latihan rutin pun sering suka muncul rasa itu. Pengennya berhenti", lanjutnya.
Jawabannya itu seolah memperlihatkan bahwa kesuksesan itu, seperti yang sekarang dia raih dengan menyabet medali emas Sea Games, membutuhkan keuletan dan kerja keras. HARD WORKING.
"Terus, kalau kamu beneran capek banget, atau lagi merasa down karena gerakannya salah terus, gimana cara kamu menyemangatin diri sendiri?", tanya saya penasaran.
Patrice diam sejenak tidak langsung menjawab, seperti sedang merenung dan meresapi perjalanan sampai di titik ini.
Dengan malu-malu dia menjawab.
"Nangis".
Jawaban yang sangat jujur dan manusiawi. Seorang atlet, bahkan dia dalam status sebagai juara dan peraih medali emas, sangat jujur mengatakan hal itu. Seolah Patrice sedang mengatakan bahwa dengan menangis dia sedang menata ulang semangat.
"Kadang nangis sambil nelpon", mamihnya menimpali.
Patrice lalu bercerita kalau dalam kondisi begitu, selain tentunya dia mencari kegiatan mengalihkan perasaan tertekan, baik itu dengan mengobrol dengan rekan sesama atlet atau berjalan-jalan sendiri di kota tempat pertandingan, kebanyakan dia lebih memilih menelepon, mengobrol dengan mamih dan papihnya.
Dan menangis. Seolah dia sedang menunjukkan sisi humanis seorang juara, bahwa dia seorang manusia biasa.
Patricia Geraldine adalah seorang anak. Dia menempatkan mamih papihnya sebagai pelabuhan, sebagai tempat yang aman di mana dia tidak perlu berpura-pura kuat. Di depan orang tuanya, dia menjadi diri sendiri, bukan sebagai seorang peraih medali emas, atau juara pertandingan tingkat dunia sekali pun.
So sweet.
Demikian juga ketika menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang harus dikorbankan untuk meraih apa yang diusahakan sebagai atlet. Ternyata bukan hal-hal yang sophisticated yang dia korbankan, melainkan hal-hal yang sepele. Tentu lah kalau kehilangan waktu bermain sepertinya bisa dia atasi, dengan membuat keseruan sendiri dengan teman-teman sepelatihan. Tapi, yang menurutnya dia korbankan adalah:
"Gak bisa ikutan kerja kelompok, karena harus latihan".
Terbayang anak-anak seusianya yang justru sedang berusaha menghindari kerja kelompok, tapi ternyata hal-hal yang seperti itu, momen-momen melelahkan seorang pelajar, justru menjadi hal-hal alamiah yang Patrice rindukan. Hal seperti itu menjadi kemewahan yang dia tidak bisa beli. Seperti juga ujian sekolah barengan. Dia rindukan.
Ternyata pengorbanan terbesar seorang pahlawan olahraga itu bukan soal keringat atau darah, melainkan kehilangan "normalitas".
Dan di sinilah mamih papihnya memegang peranan dan tetap selalu mendampinginya. Termasuk dengan sering membuka obrolan tentang pendidikan, baik sekarang atau ke depannya agar setelah tidak aktif sebagai atlet, dia mandiri dan tetap menjadi seorang pribadi yang berhasil dalam kehidupannya. Patrice sekarang sedang menjalani perkuliahan S2 di bidang Bisnis di Binus University.
***
Sebenarnya masih ada hal lain yang saya ingin tahu lebih banyak. Tetapi dia dan ibunya ada urusan lain yang perlu kehadiran mereka.
Hal itu tidak sempat ditanyakan karena ya kita cenderung ngobrol, tidak seperti berbentuk wawancara, termasuk obrolan ringan tentang hadiah uang yang dia terima dan rencana penggunaan hadiah itu.
Namun demikian, saya kirimkan satu pertanyaan melalui pesan whatsapps untuk dia jawab saja ketika dia senggang. Pertanyaannya adalah:
"Kalau Patrice ketemu diri Patrice waktu masih kecil dulu, apa yang mau Patrice katakan ke dia?"
Dan jawaban dia singkat, sederhana tapi sangat menyentuh.
"Hai Pat kecil. Jangan takut ya. Jalani aja semuanya. You can do it".
Patricia Geraldine menutup pesan whatsapps dengan pesan senada berupa saran untuk perempuan muda di luar sana yang ingin berprestasi seperti dia tapi masih ragu untuk memulainya.
Buat kalian yang punya mimpi, JANGAN TAKUT UNTUK MELANGKAH. GAGAL ITU HAL BIASA, tapi TETAP KONSISTEN dan YAKIN kalau KAMU ITU BISA!!
Sederhana, namun dalam. Pesan dari Patrice ini mengingatkan kita bahwa emas yang berkilau di podium SEA Games itu bukan berasal dari tidak adanya rasa takut, melainkan dari keberanian untuk terus melangkah di tengah segala keraguan.
Selamat ya Patrice atas medali emasnya. Terima kasih sudah mengharumkan nama Indonesia. Apresiasi juga buat orang tuanya, Pak Kurnia Djuhari dan Bu Yanti, yang telah melahirkan talenta-talenta hebat dan membimbing anak-anaknya menjadi tumpuan wushu Indonesia. Jessica, Patrice, Lawrence dan Richard.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Patricia Geraldine, Sang Peraih Emas SEA Games: "Jangan Takut, Jalani Saja Semuanya""
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang