Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
agus hendrawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama agus hendrawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Perlukah Ranking Akademik Masih Dicantumkan di Rapor?

Kompas.com, 19 Desember 2025, 13:41 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah perubahan sistem pendidikan yang kian menekankan proses dan perkembangan, masihkah peringkat akademik perlu dituliskan di rapor anak, atau justru cukup disimpan sebagai catatan pendamping?

Saat pembagian rapor semester ini, saya kembali dihadapkan pada satu perubahan yang cukup terasa dalam dunia pendidikan: ranking kelas tidak lagi tercantum di rapor siswa.

Bagi sebagian orangtua dan murid, ini mungkin hal biasa. Namun bagi generasi yang tumbuh dengan budaya peringkat, perubahan ini membawa perasaan yang campur aduk.

Dulu, ranking adalah momen yang ditunggu. Ada rasa bangga ketika nama berada di urutan atas, ada cerita yang dibawa pulang, ada senyum kecil yang menjadi bahan obrolan keluarga. Kini, ranking sebenarnya tidak benar-benar hilang.

Nilai tetap diolah, pemetaan akademik tetap dibuat. Hanya saja, posisinya disimpan sebagai catatan internal wali kelas, tidak diumumkan dan tidak dituliskan secara terbuka.

Perubahan ini tentu lahir dari niat baik. Dunia pendidikan sedang bergerak menuju pendekatan yang lebih manusiawi—tidak lagi menempatkan angka sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.

Namun, di titik inilah muncul pertanyaan yang wajar: apa yang kita peroleh dari perubahan ini, dan apa yang mungkin kita lepaskan?

Ketika Orangtua Masih Bertanya Soal Peringkat

Dalam praktiknya, tidak sedikit orangtua yang masih datang dengan pertanyaan yang sama seperti dulu: “Anak saya ranking berapa?” Pertanyaan ini bukan bentuk ketidakpatuhan, melainkan refleksi dari kebiasaan panjang dalam memahami capaian belajar anak.

Tantangannya bukan pada pertanyaan itu sendiri, melainkan pada bagaimana menjawabnya. Alih-alih berhenti pada angka, guru kini diajak membuka percakapan yang lebih luas: tentang perkembangan anak, kekuatan yang menonjol, serta area yang masih perlu pendampingan.

Ranking tidak menjadi label, melainkan pintu masuk untuk memahami anak secara lebih utuh.

Ranking dan Makna Apresiasi

Pada masanya, ranking pernah menjadi “panggung kecil” bagi sebagian anak. Tidak semua siswa menonjol di bidang olahraga atau seni, dan peringkat akademik memberi ruang bagi mereka yang tekun belajar untuk mendapatkan pengakuan.

Masalah muncul ketika ranking diperlakukan secara kaku—diumumkan tanpa empati, dijadikan pembanding mutlak, bahkan melekat sebagai identitas permanen.

Di titik ini, yang perlu dikritisi bukan keberadaan ranking itu sendiri, melainkan cara kita memaknainya. Angka seharusnya membantu membaca proses, bukan menentukan nilai diri seorang anak.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan
Kata Netizen
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan 'P'
Mengapa Saya Tidak Pernah Membalas Pesan "P"
Kata Netizen
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Menanam dari Biji, Memanen Kebahagiaan Bersama Keluarga
Kata Netizen
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Pacaran dengan AI Itu Nyaman, tetapi Benarkah Sehat?
Kata Netizen
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Ketika “Ikan Pembersih” Mengancam Ekosistem Sungai
Kata Netizen
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kukusan, Pilihan Sederhana di Tengah Dominasi Gorengan
Kata Netizen
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kembali ke DPRD atau Memperbaiki Demokrasi?
Kata Netizen
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Mengapa Waktu Mengubah Nilai Uang Kita?
Kata Netizen
'Mata Industri', Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
"Mata Industri", Sikap Sering Lebih Berharga dari Angka
Kata Netizen
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Self-Reward Gen Z, antara Kebutuhan Mental dan Risiko Finansial
Kata Netizen
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
MBG, Guru, dan Persoalan Sisa Makanan
Kata Netizen
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit
Kata Netizen
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Jumlah Penonton dan Antusiasme: Membaca Ulang Kesuksesan Film Kita
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau