
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Pergeseran Kurikulum, Pergeseran Cara Pandang
Kurikulum saat ini menempatkan perkembangan anak sebagai pusat perhatian. Penilaian tidak lagi bertanya “siapa yang paling unggul”, melainkan “sejauh apa anak bertumbuh”. Guru didorong memberi umpan balik deskriptif, bukan sekadar skor.
Itulah sebabnya ranking tidak lagi ditampilkan di rapor. Bukan karena tidak penting, melainkan karena tidak ingin anak tumbuh dengan identitas yang disempitkan oleh posisi akademik semata.
Setiap anak memiliki keunikan, dan tidak semua harus menonjol di bidang yang sama untuk disebut berhasil.
Namun, di sisi lain, ada kegelisahan kecil yang juga patut didengar: anak-anak yang berusaha keras dan konsisten, tetapi merasa capaian mereka “tidak terlihat”.
Menjaga Keseimbangan antara Melindungi dan Mengakui
Di sinilah dilema pendidikan modern hadir. Kita ingin melindungi anak dari luka perbandingan, tetapi juga tidak ingin mengabaikan pentingnya apresiasi atas usaha.
Menghapus ranking dari rapor bisa menenangkan, tetapi penghargaan terhadap kerja keras tetap dibutuhkan—bukan untuk meninggikan satu anak dan merendahkan yang lain, melainkan untuk menegaskan bahwa proses belajar layak dihargai.
Barangkali yang dibutuhkan bukan menghidupkan kembali ranking seperti dulu, melainkan menemukan cara baru untuk mengapresiasi capaian anak: lebih personal, lebih dialogis, dan lebih membangun.
Antara Kebutuhan Data dan Pesan Pendidikan
Dalam praktiknya, penilaian dan pemeringkatan tetap diperlukan, terutama untuk keperluan seleksi pendidikan lanjutan melalui jalur prestasi. Data tetap diolah dan digunakan oleh sistem.
Namun yang sedang diupayakan di ruang kelas adalah perubahan pesan: angka berfungsi sebagai alat bantu, bukan penentu jati diri.
Di sinilah peran pendidik menjadi krusial—menjaga agar anak memahami bahwa dirinya lebih dari sekadar peringkat di daftar nilai.
***
Pada akhirnya, pertanyaan tentang ranking tidak perlu dimusuhi, tetapi juga tidak harus diagungkan. Ia adalah bagian dari sejarah pendidikan kita, sekaligus pintu masuk menuju percakapan yang lebih dewasa.