Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Yayuk Sulistiyowati M.V.
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Yayuk Sulistiyowati M.V. adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Hampir Satu Abad Puthu Lanang Menjaga Rasa dan Tradisi

Kompas.com, 21 Desember 2025, 22:11 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Tepung beras dimasukkan ke dalam tabung bambu, diisi gula merah, lalu dikukus hingga matang. Proses sederhana ini menghasilkan aroma khas yang sulit tergantikan oleh metode modern.

Pada awalnya, Ibu Supiah hanya menjual kue puthu. Seiring waktu dan permintaan pelanggan, menu pun bertambah: cenil, lupis, klepon, hingga tumpeng jajanan pasar berisi tiwul, gatot, gethuk, ketan, dan grontol. Meski variasinya semakin beragam, resep dan teknik pengolahan tetap dijaga seperti semula.

Semua berangkat dari prinsip sederhana yang diwariskan turun-temurun: “jual mau, beli mau.” Artinya, apa yang dijual harus layak dan aman untuk dikonsumsi sendiri. Prinsip ini menjaga kualitas bahan, kebersihan proses, serta rasa yang konsisten dari generasi ke generasi.

Dari Rakyat hingga Kepala Negara

Popularitas Puthu Lanang tak hanya dirasakan oleh warga lokal. Pada era 1980-an, Presiden RI ke-2 Soeharto pernah memesan langsung dan meminta Siswoyo membuat puthu di kediaman Cendana. Permintaan serupa terjadi lebih dari sekali.

Tak hanya itu, pelanggan mancanegara pun pernah menjadi bagian dari kisah Puthu Lanang. Sejumlah warga Belanda dan Jepang yang pernah tinggal di Malang kerap kembali hanya untuk mencicipi jajanan ini.

Kemampuan Ibu Supiah berbahasa Jepang kala itu membuat interaksi terasa lebih akrab dan berkesan.

Tetap Ramai di Gang Sempit

Meski berjualan di gang kecil, Puthu Lanang tak pernah sepi peminat. Mereka buka setiap hari pukul 17.00–21.00 WIB, meski kerap tutup lebih awal karena dagangan habis.

Nah, dengan harga sekitar Rp15.000 per porsi, jajanan ini tetap terjangkau bagi berbagai kalangan.

Menu yang ada di Puthu Lanang antara lain adalah:

  • 8 biji puthu
  • 8 biji kelepon
  • 8 biji cenil
  • 8 biji lupis
  • 8 biji campur (puthu, kelepon, cenil, lupis)

Puthu Lanang juga melayani tumpeng jajan pasar mulai dari harga Rp 150.000,- yang biasanya untuk perayaan atau event-event tertentu; ulang tahun, dan lain sebagainya

Selain porsi harian, Puthu Lanang juga melayani pesanan tumpeng jajanan pasar untuk berbagai acara. Kebertahanannya menunjukkan bahwa jajanan pasar bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian dari ingatan kolektif masyarakat.

Jejak Panjang Kue Puthu

Kue puthu sendiri memiliki sejarah panjang. Kudapan ini diyakini berasal dari tradisi kuliner Tiongkok yang dibawa oleh para imigran ke Nusantara.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Liburan yang Tak Terlupakan karena Cacar Air
Kata Netizen
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Realitas Keuangan ASN yang Jarang Orang Ketahui
Kata Netizen
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Di Balik Semua Stereotip ASN, Mana yang Benar?
Kata Netizen
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Main-main ke Kabupaten Semarang, Ada Wisata Apa?
Kata Netizen
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Mainan Tradisional Mengajarkan Kreativitas di Lingkungan Sekolah
Kata Netizen
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Bukan Sekadar Arisan, Ada Cerita yang Menyatukan Keluarga
Kata Netizen
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
AI Mengubah Cara Bekerja, Bukan Menghapus Kesempatan
Kata Netizen
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Antara Uang Kuliah dan Nilai Akademik
Kata Netizen
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Mengapa Sekolah Negeri Kini Sepi Peminat?
Kata Netizen
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Pelajaran Ekologi dari Seekor Monyet di Gunung Andong
Kata Netizen
Kok 'Gaji Sesuai UMR' Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kok "Gaji Sesuai UMR" Menjadi Benefit dalam Lowongan Kerja?
Kata Netizen
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Merawat Hobi di Tengah Budaya FOMO
Kata Netizen
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Bu Tuminah dan Segelas Jamu yang Menolak Lekang oleh Zaman
Kata Netizen
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Ketika Pillow Talk Tak Lagi Menjadi Pengantar Tidur
Kata Netizen
'Osob Kiwalan', Bahasa Identitas Orang Malang
"Osob Kiwalan", Bahasa Identitas Orang Malang
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau