
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Tepung beras dimasukkan ke dalam tabung bambu, diisi gula merah, lalu dikukus hingga matang. Proses sederhana ini menghasilkan aroma khas yang sulit tergantikan oleh metode modern.
Pada awalnya, Ibu Supiah hanya menjual kue puthu. Seiring waktu dan permintaan pelanggan, menu pun bertambah: cenil, lupis, klepon, hingga tumpeng jajanan pasar berisi tiwul, gatot, gethuk, ketan, dan grontol. Meski variasinya semakin beragam, resep dan teknik pengolahan tetap dijaga seperti semula.
Semua berangkat dari prinsip sederhana yang diwariskan turun-temurun: “jual mau, beli mau.” Artinya, apa yang dijual harus layak dan aman untuk dikonsumsi sendiri. Prinsip ini menjaga kualitas bahan, kebersihan proses, serta rasa yang konsisten dari generasi ke generasi.
Dari Rakyat hingga Kepala Negara
Popularitas Puthu Lanang tak hanya dirasakan oleh warga lokal. Pada era 1980-an, Presiden RI ke-2 Soeharto pernah memesan langsung dan meminta Siswoyo membuat puthu di kediaman Cendana. Permintaan serupa terjadi lebih dari sekali.
Tak hanya itu, pelanggan mancanegara pun pernah menjadi bagian dari kisah Puthu Lanang. Sejumlah warga Belanda dan Jepang yang pernah tinggal di Malang kerap kembali hanya untuk mencicipi jajanan ini.
Kemampuan Ibu Supiah berbahasa Jepang kala itu membuat interaksi terasa lebih akrab dan berkesan.
Tetap Ramai di Gang Sempit
Meski berjualan di gang kecil, Puthu Lanang tak pernah sepi peminat. Mereka buka setiap hari pukul 17.00–21.00 WIB, meski kerap tutup lebih awal karena dagangan habis.
Nah, dengan harga sekitar Rp15.000 per porsi, jajanan ini tetap terjangkau bagi berbagai kalangan.
Menu yang ada di Puthu Lanang antara lain adalah:
Puthu Lanang juga melayani tumpeng jajan pasar mulai dari harga Rp 150.000,- yang biasanya untuk perayaan atau event-event tertentu; ulang tahun, dan lain sebagainya
Selain porsi harian, Puthu Lanang juga melayani pesanan tumpeng jajanan pasar untuk berbagai acara. Kebertahanannya menunjukkan bahwa jajanan pasar bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Jejak Panjang Kue Puthu
Kue puthu sendiri memiliki sejarah panjang. Kudapan ini diyakini berasal dari tradisi kuliner Tiongkok yang dibawa oleh para imigran ke Nusantara.