
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di sana, kue serupa dikenal sebagai xiao roe xiao long, berbahan tepung beras dan isian kacang hijau, dikukus menggunakan cetakan bambu.
Dalam konteks lokal, puthu mengalami adaptasi. Isian kacang hijau digantikan gula aren yang lebih mudah ditemukan.
Jejak puthu juga tercatat dalam Serat Centhini, naskah sastra Jawa abad ke-19, yang menyebut keberadaan jajanan puthu di Jawa Timur sejak abad ke-17.
Ini menunjukkan bahwa puthu adalah hasil akulturasi budaya yang telah mengakar kuat dalam tradisi kuliner Nusantara.
Tradisi yang Terus Hidup
Puthu Lanang menjadi contoh nyata bagaimana pangan lokal tetap relevan di masa kini. Dengan bahan sederhana, proses ramah lingkungan, dan nilai budaya yang kuat, jajanan tradisional seperti ini mampu bertahan di tengah arus modernisasi.
Hampir sembilan dekade sejak Ibu Supiah pertama kali mengukus puthu, aroma bambu, antrean pembeli, dan kehangatan sore hari di gang kecil itu masih terasa sama.
Puthu Lanang bukan sekadar makanan, melainkan cerita tentang keluarga, tradisi, dan rasa yang diwariskan lintas generasi.
Jika berkunjung ke Malang, mampirlah sejenak. Barangkali, dari seporsi puthu hangat, kita belajar bahwa hal-hal yang dirawat dengan sungguh-sungguh akan selalu menemukan tempatnya.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Puthu Lanang Malang: Kuliner Lokal Sejak 1935 yang Bertahan di Era Modern"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang