
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bukan hanya sebagai warisan budaya, pantun juga menjadi penanda peradaban yang menjunjung kecerdasan dan kesantunan berbahasa.
Pemikiran ini sejalan dengan warisan intelektual Raja Ali Haji, tokoh besar sastra Melayu abad ke-19.
Melalui karya seperti Gurindam Dua Belas, ia menempatkan sastra sebagai sarana pendidikan moral, pembentuk budi pekerti, sekaligus penjaga akal dan bahasa. Pantun, dalam kerangka itu, bukan hiburan semata, melainkan instrumen pembentukan karakter.
Tantangan Merawat Warisan
Pengakuan UNESCO membawa pantun melampaui batas geografisnya. Negara-negara serumpun di Asia Tenggara—Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga Thailand—memahami betul bagaimana pantun hidup dalam denyut keseharian masyarakat.
Namun pengakuan global saja tidak cukup. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan pantun tetap digunakan, bukan sekadar dikenang. Jangan sampai pantun hanya hadir sebentar di buku pelajaran, lalu menghilang dari praktik sehari-hari.
Hari Pantun Nasional seharusnya menjadi momen refleksi berkelanjutan: sejauh mana kita memberi ruang bagi bahasa dan sastra tradisional dalam kehidupan modern?
Pantun tidak membutuhkan panggung megah. Ia hanya membutuhkan ruang untuk diucapkan—di rumah, di sekolah, di ruang publik, dan kini, di ruang digital.
Bagi generasi muda, media sosial justru membuka peluang baru. Pantun dapat hidup kembali dalam balutan humor, kritik sosial, atau ekspresi kreatif lain yang sesuai zamannya. Bukan mengubah jiwanya, melainkan memperpanjang napasnya.
Merawat Kata, Merawat Peradaban
Pada akhirnya, perayaan pantun mengingatkan kita pada satu hal sederhana: peradaban tidak hanya dibangun oleh teknologi dan kemajuan material, tetapi juga oleh cara kita memperlakukan kata-kata.
Selama pantun masih diucapkan dan dimaknai, selama ia tetap menjadi cara kita berpikir dan bersikap, pantun akan terus hidup—menjadi bagian dari ingatan kolektif yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Akhir pekan mendaki Gamalama,
Persiapannya bisa berhari-hari
Pantun bukan sekadar kata lama,
Ia ingatan yang menjaga diri.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Pantun dalam Ingatan Kolektif Kita"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang