
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah menahan pengeluaran selalu berarti hidup hemat, atau justru bisa berubah menjadi sikap pelit yang tanpa sadar membebani keluarga?
Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mengikuti sebuah talkshow bertema pengelolaan keuangan keluarga.
Narasumbernya seorang perencana keuangan yang cukup dikenal, wajahnya sering muncul di berbagai acara televisi.
Materi yang disampaikan terasa ringan, tetapi menyentuh persoalan yang sangat dekat dengan keseharian banyak keluarga.
Salah satu hal yang langsung menarik perhatian saya adalah judul buku yang pernah ia tulis: Habiskan Saja Gajimu.
Judulnya terdengar provokatif, bahkan cenderung bertentangan dengan nasihat klasik tentang menabung dan berhemat. Namun setelah dijelaskan lebih jauh, maknanya justru masuk akal.
“Menghabiskan gaji” bukan berarti membelanjakan uang tanpa kendali. Yang dimaksud adalah mengalokasikan seluruh pendapatan sesuai posnya, hingga tak bersisa secara acak.
Begitu gaji diterima, uang harus segera diatur: ada pos belanja rumah tangga, biaya sekolah anak, kebutuhan harian, cicilan, tabungan, dana darurat, hingga pos rekreasi dan sedekah. Semuanya ditempatkan secara sadar dan terencana.
Dalam konteks inilah, menghabiskan gaji berarti memastikan setiap rupiah bekerja sesuai fungsinya. Bukan dihabiskan untuk berfoya-foya, melainkan untuk menopang kebutuhan dan tujuan keluarga.
Ayah yang teratur secara finansial adalah ayah yang memahami prioritas. Ia tahu ke mana uang harus diarahkan, sehingga penghasilan tidak sekadar lewat begitu saja tanpa bekas.
Dari sini pula muncul satu pernyataan yang cukup menggelitik para peserta talkshow: ayah hemat ternyata berbeda dengan ayah pelit. Sekilas perbedaannya tampak tipis, tetapi sesungguhnya sangat nyata.
Ketika Penghasilan Terasa Tidak Pernah Cukup
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta mengajukan pertanyaan yang terdengar sederhana, tetapi sering terlintas di benak banyak orang. “Kalau uangnya memang tidak ada, apa yang bisa diatur?”
Narasumber mengakui bahwa hidup jarang berjalan ideal. Banyak kondisi berada di luar kendali, termasuk soal penghasilan. Karena itu, selain mengatur pengeluaran, ayah juga dituntut ulet dalam mencari peluang menambah pemasukan.
Menambah sumber pendapatan tidak selalu berarti meninggalkan pekerjaan utama. Ada banyak cara yang bisa dilakukan tanpa mengorbankan tanggung jawab utama sebagai pencari nafkah.
Seorang suami yang bekerja sebagai karyawan, misalnya, bisa mendukung istri yang berdagang dari rumah. Suami dapat membantu memasarkan dagangan kepada rekan-rekan di kantor, tentu dengan pengaturan waktu yang bijak.
Hobi pun bisa menjadi sumber penghasilan tambahan. Mereka yang gemar menulis bisa mengikuti lomba atau mencari pekerjaan lepas. Yang memiliki keterampilan bermusik bisa mengisi acara di kafe atau ruang publik.
Bahkan memanfaatkan akhir pekan untuk berjualan sederhana di pusat keramaian pun bisa menjadi pilihan, tanpa perlu merasa gengsi.
Pada akhirnya, upaya menambah penghasilan perlu diiringi dengan sikap hemat. Bukan semata untuk menekan pengeluaran, tetapi sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras yang telah dilakukan untuk memperoleh uang tersebut.
Hemat dan Pelit, Dua Hal yang Berbeda
Pertanyaan yang sejak awal mengemuka pun kembali dilontarkan: apa sebenarnya perbedaan antara hemat dan pelit?
Jawaban narasumber cukup tegas. Hemat adalah berbelanja sesuai kebutuhan. Sementara pelit adalah enggan membelanjakan uang, bahkan ketika kebutuhan nyata sudah di depan mata. Kuncinya terletak pada kemampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Makan dan minum jelas merupakan kebutuhan dasar. Namun pilihan menu, tempat makan, dan suasananya sering kali sudah masuk wilayah keinginan.
Makan gado-gado di warung pinggir jalan atau di restoran mahal, misalnya, sama-sama mengenyangkan, tetapi keputusan memilihnya lebih banyak dipengaruhi selera, gaya hidup, dan lingkungan pergaulan.
Keinginan memang tidak lahir begitu saja. Ia dibentuk oleh lingkungan sosial, lingkar pertemanan, bahkan citra diri yang ingin ditampilkan.
Oleg karena itu, hidup hemat sering kali menuntut keberanian untuk menurunkan ego dan gengsi, serta memilih lingkungan yang sefrekuensi dengan nilai hidup yang dijalani.
Ayah hemat adalah ayah yang mampu menyusun skala prioritas. Ia memahami bahwa kebutuhan besar keluarga—seperti rumah, pendidikan anak, atau kendaraan—memerlukan pengorbanan.
Gaya hidup yang tidak mendukung tujuan tersebut perlu disisihkan, meski terkadang terasa berat.
Kebiasaan kecil pun bisa menjadi bagian dari sikap hemat. Membawa bekal dari rumah, memilih tempat pertemuan yang sederhana, serta disiplin menjaga pos keuangan agar tidak tercampur dengan keinginan pribadi adalah contoh-contohnya.
Ayah hemat bukan berarti hidup serba kekurangan. Ia tetap bisa mengatur variasi menu agar keluarga tidak bosan, serta menyisihkan dana untuk rekreasi bersama. Semua dilakukan secara terencana, bukan impulsif.
Sebaliknya, ayah pelit cenderung menahan pengeluaran tanpa pertimbangan kebutuhan. Uang terus disimpan, sementara kesenangan diri dan keluarga kerap diabaikan.
Ironisnya, dalam banyak kasus, selalu ada celah di mana uang yang disimpan itu justru habis tanpa arah yang jelas.
Di akhir sesi, narasumber menegaskan kembali pesannya. Menjadi ayah hemat adalah soal kebijaksanaan dalam mengelola uang demi kebaikan keluarga.
Menjadi ayah pelit, sebaliknya, sering kali berangkat dari ketakutan yang tidak dikelola dengan baik.
Sekilas mirip, tetapi dampaknya sangat berbeda—bagi ayah itu sendiri, dan terutama bagi keluarga yang ia pimpin.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menjadi Ayah Hemat Beda dengan Ayah Pelit"
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang