
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah program Makanan Bergizi Gratis benar-benar sudah menjawab kebutuhan siswa dan guru di sekolah, atau masih menyisakan pekerjaan rumah dalam hal pelaksanaan dan keberlanjutan di lapangan?
Setelah dua pekan absen dari rutinitas sekolah, program Makanan Bergizi Gratis (MBG) kembali hadir pada hari pertama pembelajaran Semester Genap, 8 Januari 2025.
Kehadirannya sempat terasa hilang, terutama bagi siswa yang menjadikan MBG sebagai tambahan energi untuk memulai hari belajar mereka.
Di sekolah kami, antusiasme siswa cukup terasa. Sejak pagi, sebagian sudah menantikan paket MBG.
Ada yang membuka bekalnya bersama teman sebangku, ada pula yang menyantapnya sambil berbincang ringan. Suasana ini menjadi pemandangan yang menyenangkan setelah masa libur panjang.
Namun hari itu rupanya menghadirkan kejutan lain. Bukan hanya siswa yang menerima MBG, para guru pun mendapati paket serupa sudah tersaji di meja masing-masing.Tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa penjelasan khusus. Sekadar hadir begitu saja.
Sebuah kejutan kecil yang memunculkan senyum, saling pandang, dan tentu saja tanda tanya.
Di satu sisi, kebijakan ini terasa sebagai perhatian yang manis. Guru juga manusia yang kerap berangkat pagi-pagi, langsung mengajar, dan tak selalu sempat sarapan.
MBG bagi guru bisa menjadi tambahan energi sebelum berhadapan dengan jam-jam kelas yang panjang. Bahkan bagi sebagian guru, ini dibaca sebagai bentuk penghargaan atas peran mereka di sekolah.
Namun di sisi lain, pembagian MBG kepada guru turut membuka kembali persoalan lama yang belum sepenuhnya terselesaikan: sisa makanan siswa.
Ketika MBG Juga Sampai ke Meja Guru
Tidak dapat dimungkiri, ada guru yang menyambut baik MBG ini. Setidaknya, mereka tidak perlu membeli makanan tambahan di kantin atau menahan lapar hingga jam istirahat.
Dalam konteks keseharian sekolah, hal kecil semacam ini bisa berdampak pada kenyamanan mengajar.
Meski demikian, kehadiran MBG untuk guru tidak serta-merta menutup persoalan lain yang sejak awal mengiringi program ini.
Fakta di lapangan menunjukkan tidak semua siswa menghabiskan makanan mereka. Ada yang tidak hadir, ada pula yang memilih tidak menyentuh menu tertentu.