
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah lonjakan jutaan penonton film Indonesia benar-benar mencerminkan antusiasme publik? Atau, justru menyisakan pertanyaan tentang cara kita memaknai angka sebagai ukuran kesuksesan?
Tahun 2025 tampaknya akan dikenang sebagai salah satu periode paling gemilang dalam sejarah sinema Indonesia.
Ada dua judul besar, Agak Laen: Menyala Pantiku! dan film animasi Jumbo, sama-sama menembus angka fantastis 10 juta penonton.
Capaian ini menunjukkan betapa besarnya potensi pasar domestik sekaligus menegaskan bahwa film Indonesia memiliki tempat yang kuat di hati penontonnya.
Dengan raihan tersebut, Agak Laen: Menyala Pantiku! pun tercatat sebagai film Indonesia terlaris sepanjang masa, menggeser posisi Jumbo.Angka-angka ini tentu layak dirayakan.
Namun, di balik gegap gempita perayaan statistik, ada kegelisahan yang perlahan mengemuka—sebuah pertanyaan lama yang kembali relevan: sejauh mana angka penonton yang kita banggakan benar-benar merepresentasikan antusiasme yang tulus?
Dalam lanskap perfilman yang sehat, penonton bukan sekadar target pemasaran, melainkan mitra berpikir bagi para pembuat film.
Reaksi mereka, pilihan mereka untuk datang atau tidak datang ke bioskop, menjadi cermin jujur bagi kualitas karya.
Namun, ketika angka jutaan mulai diposisikan sebagai satu-satunya tolok ukur keberhasilan, muncul kekhawatiran bahwa penonton perlahan bergeser dari subjek apresiasi menjadi sekadar objek strategi promosi.
Fenomena “Penonton Gaib” di Kursi Bioskop
Jumlah penonton sejatinya dapat menjadi indikator penting untuk membaca arah industri. Dari data tersebut, kita bisa melihat genre apa yang diminati, tema apa yang resonan, hingga sejauh mana kualitas teknis film kita diterima.
Masalah muncul ketika angka-angka itu terasa terlalu mudah dipoles demi membangun validitas semu di mata publik.
Pengalaman pribadi pernah membuat saya benar-benar menyadari adanya kejanggalan. Suatu ketika, saya hendak menonton film horor populer—sebut saja film A.
Saat membuka aplikasi pemesanan tiket, denah studio tampak nyaris penuh. Kursi berwarna merah mendominasi layar, menyisakan satu kursi di pojok. Sebagai penonton yang terbiasa datang sendiri, saya pun mengambil kursi terakhir itu.
Namun, kenyataan di dalam studio jauh berbeda. Hingga film dimulai, bahkan sampai lampu kembali menyala saat kredit akhir bergulir, jumlah penonton tak sampai setengah kapasitas. Kursi-kursi yang secara sistem tercatat terisi, nyatanya kosong melompong.