
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Mengapa buah-buahan tropis yang di negara lain dianggap mewah justru hadir begitu dekat dan terjangkau dalam keseharian kita di Indonesia?
Ada satu bentuk “kemewahan” yang sering luput kita sadari di Indonesia. Ia hadir tanpa pengumuman, tanpa kemasan istimewa, dan tanpa label harga fantastis.
Kemewahan itu muncul begitu saja setiap musim hujan tiba, ketika di pinggir jalan mendadak berderet gunungan buah musiman: manggis, rambutan, dan duku.
Beberapa waktu lalu, sepulang menjemput anak dari sekolah, saya refleks berhenti di lapak buah pinggir jalan. Tak banyak berpikir, saya membawa pulang dua kilogram manggis, dua kilogram duku, dan tiga ikat rambutan. Total belanja tak sampai Rp100 ribu.
Di momen-momen seperti itulah selalu muncul rasa heran yang sama: kok bisa semurah ini? Padahal, buah-buah yang sama, ketika menyeberangi samudra dan mendarat di negara lain, mendadak naik kasta. Dari buah pasar menjadi buah pesta.
Musim hujan di Indonesia sejatinya bukan hanya identik dengan genangan air atau payung yang selalu siaga, melainkan juga musim buah.
Berbeda dengan negara empat musim yang kalender pangannya tertata rapi—stroberi di musim panas, apel di musim gugur, jeruk di musim dingin—Indonesia punya ritme yang lebih organik.
Ketika hujan datang, buah-buah tropis favorit seolah muncul bersamaan. Alam tropis bekerja dengan caranya sendiri: sinar matahari yang relatif konsisten, siklus air yang terjaga, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa memungkinkan manggis, rambutan, dan duku hadir di waktu yang sama.
Padahal di banyak negara lain, buah-buah ini sudah masuk kategori exotic specialty, bukan konsumsi harian.
Di situlah letak privilege kita sebagai orang Indonesia. Kita bisa menikmati “kemewahan tropis” ini dengan harga yang terasa biasa saja. Manggis, misalnya, kerap dijual di kisaran Rp14 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Harga yang di luar negeri mungkin hanya bisa kita temukan dalam mimpi.
Manggis, Si Ungu yang Lembut
Manggis (Garcinia mangostana) mungkin tampak kurang menarik dari luar. Kulitnya tebal, berwarna ungu tua, dan sekilas terlihat keras.
Namun begitu dibelah, kontras langsung terasa. Dagingnya putih bersih, lembut, dengan rasa manis dan sedikit asam yang halus.
Secara botani, manggis adalah tanaman asli Asia Tenggara. Di luar negeri, ia kerap dijuluki “buah sultan”. Bukan semata karena gengsi, melainkan karena sifatnya yang rapuh. Manggis memiliki masa konsumsi yang singkat. Ia sensitif terhadap benturan, suhu, dan perlakuan kasar.
Tak heran jika urusan ekspor manggis menjadi cerita panjang. Mulai dari proses sortir yang sangat ketat, pengaturan suhu dan kelembapan, pengemasan khusus, pengiriman cepat, hingga standar karantina dan phytosanitary yang rumit.