Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Mutia Ramadhani
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Mutia Ramadhani adalah seorang yang berprofesi sebagai Freelancer. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Buah-buahan Tropis, Kekayaan yang Sering Kita Lupakan

Kompas.com, 19 Januari 2026, 10:39 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Mengapa buah-buahan tropis yang di negara lain dianggap mewah justru hadir begitu dekat dan terjangkau dalam keseharian kita di Indonesia?

Ada satu bentuk “kemewahan” yang sering luput kita sadari di Indonesia. Ia hadir tanpa pengumuman, tanpa kemasan istimewa, dan tanpa label harga fantastis.

Kemewahan itu muncul begitu saja setiap musim hujan tiba, ketika di pinggir jalan mendadak berderet gunungan buah musiman: manggis, rambutan, dan duku.

Beberapa waktu lalu, sepulang menjemput anak dari sekolah, saya refleks berhenti di lapak buah pinggir jalan. Tak banyak berpikir, saya membawa pulang dua kilogram manggis, dua kilogram duku, dan tiga ikat rambutan. Total belanja tak sampai Rp100 ribu.

Di momen-momen seperti itulah selalu muncul rasa heran yang sama: kok bisa semurah ini? Padahal, buah-buah yang sama, ketika menyeberangi samudra dan mendarat di negara lain, mendadak naik kasta. Dari buah pasar menjadi buah pesta.

Musim hujan di Indonesia sejatinya bukan hanya identik dengan genangan air atau payung yang selalu siaga, melainkan juga musim buah.

Berbeda dengan negara empat musim yang kalender pangannya tertata rapi—stroberi di musim panas, apel di musim gugur, jeruk di musim dingin—Indonesia punya ritme yang lebih organik.

Ketika hujan datang, buah-buah tropis favorit seolah muncul bersamaan. Alam tropis bekerja dengan caranya sendiri: sinar matahari yang relatif konsisten, siklus air yang terjaga, dan keanekaragaman hayati yang luar biasa memungkinkan manggis, rambutan, dan duku hadir di waktu yang sama.

Padahal di banyak negara lain, buah-buah ini sudah masuk kategori exotic specialty, bukan konsumsi harian.

Di situlah letak privilege kita sebagai orang Indonesia. Kita bisa menikmati “kemewahan tropis” ini dengan harga yang terasa biasa saja. Manggis, misalnya, kerap dijual di kisaran Rp14 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Harga yang di luar negeri mungkin hanya bisa kita temukan dalam mimpi.

Manggis, Si Ungu yang Lembut

Manggis (Garcinia mangostana) mungkin tampak kurang menarik dari luar. Kulitnya tebal, berwarna ungu tua, dan sekilas terlihat keras.

Namun begitu dibelah, kontras langsung terasa. Dagingnya putih bersih, lembut, dengan rasa manis dan sedikit asam yang halus.

Secara botani, manggis adalah tanaman asli Asia Tenggara. Di luar negeri, ia kerap dijuluki “buah sultan”. Bukan semata karena gengsi, melainkan karena sifatnya yang rapuh. Manggis memiliki masa konsumsi yang singkat. Ia sensitif terhadap benturan, suhu, dan perlakuan kasar.

Tak heran jika urusan ekspor manggis menjadi cerita panjang. Mulai dari proses sortir yang sangat ketat, pengaturan suhu dan kelembapan, pengemasan khusus, pengiriman cepat, hingga standar karantina dan phytosanitary yang rumit.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Ketika Cinta Jadi Konten, Menimbang Ulang Romantisme di Media Sosial
Kata Netizen
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Antara Daun Talas, Ikan, Air Tawar, dan Ekosistem
Kata Netizen
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Dari Buku Harian ke Linimasa, Pergeseran Cara Kita Berbagi
Kata Netizen
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Makna Hadir untuk Anak: Bukan Soal Waktu, tetapi Rasa
Kata Netizen
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Hemat yang Keliru dan Pelajaran tentang Kualitas
Kata Netizen
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Filosofi Bayam Brazil: Menanam Sekali, Memanen Berulang Kali
Kata Netizen
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Buku Perang Dunia, Ketika Anak Memilih Bacaan yang Tak Terduga
Kata Netizen
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Ketika Ulangan Lisan Kembali Menjadi Pilihan
Kata Netizen
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
People Pleaser yang Sulit Berkata Tidak
Kata Netizen
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Gentengisasi, Atap Rumah, dan Tantangan Geografis Indonesia
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau