Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ada sebuah tempat sederhana membuat kita merasa pulang, sekaligus diingatkan bahwa kecintaan pada literasi bisa tumbuh dari ruang paling personal? Ada.
Beberapa waktu lalu, saya melihat unggahan Instagram Story seorang kenalan saat mengikuti walking tour stasiun tempo doeloe. Dari sanalah perhatian saya tertuju pada sebuah kafe buku rumahan yang baru mereka buka.
Kami pernah bertemu singkat dalam kegiatan tersebut, bertukar akun Instagram, lalu saling mengikuti. Dari unggahan-unggahan itulah saya tahu bahwa sang pemilik telah lama menjual buku preloved, bahkan memiliki lapak daring di berbagai platform.
Saat mereka membuka kafe buku, saya langsung membatin, “Suatu hari harus mampir ke sana.” Dan akhirnya, niat itu terwujud.
Saya mengunjungi Sumber Books, sebuah kafe buku rumahan yang beralamat di Jalan Mirah 3 No. 22 Blok L2, Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok. Stasiun terdekatnya adalah Stasiun Citayam, berjarak sekitar 1,8 kilometer dari lokasi.
Rutenya terbilang mudah, meski pengalaman menuju ke sana sempat diwarnai sedikit kendala teknis di sekitar stasiun. Namun perjalanan itu terbayar lunas begitu saya tiba dan disambut langsung oleh pemiliknya. Suasana hangat dan ramah terasa sejak langkah pertama.
Tempatnya tidak luas, tetapi tertata dengan baik dan terasa sangat memadai. Ada lima rak buku di dalamnya. Tiga rak diperuntukkan bagi buku yang boleh dibaca di tempat, sementara dua rak lainnya berisi buku preloved yang dijual.
Koleksinya beragam dan terkurasi dengan baik, dari penulis klasik hingga kontemporer. Sang pemilik, memang telah lama menjadikan jual-beli buku sebagai kegiatan sampingan yang berangkat dari hobi. Kejelian mereka terhadap keaslian buku membuat pengunjung merasa aman dan percaya.
Cerita di Balik Kafe Buku yang Homey
Kunjungan ini tak hanya soal membaca atau ngopi, tetapi juga tentang mendengarkan kisah di baliknya.
Dalam obrolan santai, Ibu Imelda—salah satu pemilik—bercerita bahwa rumah ini dulunya adalah ruang baca terbuka bagi anak-anak di sekitar lingkungan mereka.
Saat kedua anak mereka masih kecil, ruang baca tersebut menjadi sarana untuk menumbuhkan kegemaran membaca sejak dini.
Tak sekadar menyediakan buku, mereka juga mengadakan berbagai kegiatan, seperti lomba storytelling dari buku yang telah dibaca hingga kunjungan ke museum. Semua dijalankan secara swadaya, dengan dukungan kecil dari rekan kerja dan sponsor yang peduli.
“Kalau hanya memberi contoh, rasanya belum cukup. Perlu ada pemantik supaya anak-anak senang membaca,” tutur Ibu Imelda. Upaya tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran dan cinta pada literasi, tanpa pamrih.
Seiring waktu, ketika anak-anak mereka semakin besar dan sibuk dengan aktivitas sekolah, kegiatan ruang baca sempat vakum.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya