Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Baru pada sekitar tahun 2021, rumah ini mulai direnovasi perlahan untuk kembali menjadi ruang baca sekaligus tempat penyimpanan buku. Di sela pekerjaan utamanya, sang bapak tetap aktif menjual buku preloved secara daring.
Sebuah saran sederhana kemudian mengubah arah: mengapa tidak membuka kafe buku? Ide itu mereka realisasikan perlahan, dari merenovasi rumah, membeli rak buku, hingga menata koleksi yang ada.
Awalnya hanya ruang baca, hingga pengunjung menyarankan agar tersedia minuman dan makanan ringan. Dari sanalah kafe buku rumahan ini tumbuh secara organik.
Saat berkunjung, saya memesan kopi V60 Japanese Puntang tanpa gula, seporsi mixed platter, dan beruntung bisa mencicipi brownies buatan Ibu Imelda yang baru selesai dipanggang.
Brownies-nya lembut, cokelatnya terasa, dan tidak berlebihan. Kopinya pun pas bagi pencinta rasa asam yang bersih, dengan harga yang sangat bersahabat.
Sambil menikmati sajian, saya menelusuri rak demi rak. Ada karya Pramoedya Ananta Toer, George Orwell, Andrea Hirata, serial Lima Sekawan, Harry Potter, hingga buku-buku Trinity.
Bahkan, saya menemukan buku karya rekan sesama blogger yang bisa dibaca langsung di tempat. Suasananya seperti berkunjung ke rumah seorang teman: tenang, akrab, dan membuat waktu berjalan tanpa terasa.
Pemiliknya tidak pernah memaksa pengunjung untuk membeli. Bagi mereka, tempat ini adalah ruang kedua untuk berkumpul bersama keluarga, membaca, dan menyiapkan pesanan buku. Prinsip kejujuran dijaga betul, termasuk saat menjual buku preloved.
Setiap kekurangan dijelaskan dengan rinci, lengkap dengan dokumentasi foto. Pengemasan pun dilakukan dengan rapi dan penuh perhatian.
Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Langit mulai mendung, dan saya baru menyadari betapa betahnya berada di sana.
Sebelum pulang, saya memutuskan membeli satu buku Trinity yang belum saya miliki, sebuah pilihan yang dibuat dengan pertimbangan panjang, mengingat tumpukan buku yang belum terbaca di rumah.
Bagi siapa pun yang menyukai buku, ingin menikmati kopi dengan harga terjangkau, atau sekadar mencari ruang yang hangat dan jujur, kafe buku rumahan ini layak disambangi. Di tempat sederhana seperti inilah, kecintaan pada literasi menemukan bentuknya yang paling manusiawi.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Kafe Buku Rumahan dan Pemilik yang Mencintai Literasi"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya