
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Dalam konteks ini, waktu dan energi guru digunakan untuk hal-hal yang secara langsung meningkatkan kualitas pendidikan: refleksi pembelajaran, kolaborasi antarpendidik, riset pendidikan sederhana, serta pengembangan profesional berkelanjutan.
Pendidikan tidak diperlakukan sebagai pekerjaan sambilan, melainkan sebagai profesi intelektual yang terus diasah.
Laporan OECD melalui Education at a Glance secara konsisten menunjukkan bahwa negara yang berinvestasi besar pada kesejahteraan guru cenderung memiliki sistem pendidikan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Hal ini menegaskan bahwa kesejahteraan guru bukanlah beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang bagi mutu pendidikan dan masa depan bangsa.
Meluruskan Sejumlah Anggapan
Di tengah realitas guru yang harus bekerja sampingan, muncul sejumlah anggapan yang perlu diluruskan. Salah satunya adalah pandangan bahwa guru dengan double job merupakan sosok yang patut dipuji karena dianggap rajin dan pantang menyerah.
Kerja keras tentu layak dihargai, namun ketika pekerjaan tambahan dilakukan karena penghasilan utama tidak mencukupi, hal tersebut justru menandakan kegagalan sistem dalam menjamin kesejahteraan profesi pendidik. Kerajinan individu tidak seharusnya menjadi penutup bagi persoalan struktural.
Anggapan lain yang kerap muncul adalah kekhawatiran bahwa gaji layak akan memanjakan guru. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa kesejahteraan justru menjadi dasar untuk menuntut profesionalisme yang lebih tinggi.
Negara-negara yang membayar guru secara layak tidak menurunkan standar, melainkan memperketat seleksi, memperkuat evaluasi kinerja, dan meningkatkan tuntutan mutu pembelajaran.
Fokus penuh dalam mengajar hanya mungkin terwujud ketika kebutuhan dasar guru terpenuhi. Dalam kondisi tersebut, negara memiliki legitimasi moral dan profesional untuk menuntut kualitas, disiplin, serta inovasi yang tinggi. Tanpa kesejahteraan, tuntutan mutu berisiko menjadi beban sepihak.
Pada akhirnya, persoalan guru yang harus bekerja sampingan bukanlah isu personal, melainkan cerminan cara sebuah negara memandang pendidikan.
Selama guru dipaksa membagi energi antara ruang kelas dan pekerjaan lain demi bertahan hidup, maka fokus, kualitas, dan martabat pendidikan ikut dipertaruhkan.
Pendidikan bukan semata soal kurikulum, gedung sekolah, atau capaian angka-angka akademik. Ia adalah proses manusiawi yang sangat bergantung pada mereka yang berada di garis depan pengajaran.
Masa depan pendidikan ditentukan oleh bagaimana negara memperlakukan gurunya: apakah sebagai pilar utama pembangunan manusia, atau sekadar pelaksana kebijakan yang dibiarkan berjuang sendiri.
Selama guru masih dipaksa bertahan hidup alih-alih diberi ruang untuk bertumbuh dan fokus mendidik, pendidikan akan sulit melompat jauh.
Jika pendidikan benar-benar ingin diprioritaskan, maka langkah paling mendasar adalah memastikan guru dapat hidup layak dari profesinya tanpa harus meninggalkan ruang kelas demi mencari nafkah tambahan.
Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Guru Harus Double Job, Pendidikan Sedang Dipertaruhkan"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang