Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noer Ashari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Noer Ashari adalah seorang yang berprofesi sebagai Operator. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan

Kompas.com, 8 Februari 2026, 09:29 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Dalam konteks ini, waktu dan energi guru digunakan untuk hal-hal yang secara langsung meningkatkan kualitas pendidikan: refleksi pembelajaran, kolaborasi antarpendidik, riset pendidikan sederhana, serta pengembangan profesional berkelanjutan.

Pendidikan tidak diperlakukan sebagai pekerjaan sambilan, melainkan sebagai profesi intelektual yang terus diasah.

Laporan OECD melalui Education at a Glance secara konsisten menunjukkan bahwa negara yang berinvestasi besar pada kesejahteraan guru cenderung memiliki sistem pendidikan yang lebih stabil dan berkelanjutan.

Hal ini menegaskan bahwa kesejahteraan guru bukanlah beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang bagi mutu pendidikan dan masa depan bangsa.

Meluruskan Sejumlah Anggapan

Di tengah realitas guru yang harus bekerja sampingan, muncul sejumlah anggapan yang perlu diluruskan. Salah satunya adalah pandangan bahwa guru dengan double job merupakan sosok yang patut dipuji karena dianggap rajin dan pantang menyerah.

Kerja keras tentu layak dihargai, namun ketika pekerjaan tambahan dilakukan karena penghasilan utama tidak mencukupi, hal tersebut justru menandakan kegagalan sistem dalam menjamin kesejahteraan profesi pendidik. Kerajinan individu tidak seharusnya menjadi penutup bagi persoalan struktural.

Anggapan lain yang kerap muncul adalah kekhawatiran bahwa gaji layak akan memanjakan guru. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa kesejahteraan justru menjadi dasar untuk menuntut profesionalisme yang lebih tinggi.

Negara-negara yang membayar guru secara layak tidak menurunkan standar, melainkan memperketat seleksi, memperkuat evaluasi kinerja, dan meningkatkan tuntutan mutu pembelajaran.

Fokus penuh dalam mengajar hanya mungkin terwujud ketika kebutuhan dasar guru terpenuhi. Dalam kondisi tersebut, negara memiliki legitimasi moral dan profesional untuk menuntut kualitas, disiplin, serta inovasi yang tinggi. Tanpa kesejahteraan, tuntutan mutu berisiko menjadi beban sepihak.

Pada akhirnya, persoalan guru yang harus bekerja sampingan bukanlah isu personal, melainkan cerminan cara sebuah negara memandang pendidikan.

Selama guru dipaksa membagi energi antara ruang kelas dan pekerjaan lain demi bertahan hidup, maka fokus, kualitas, dan martabat pendidikan ikut dipertaruhkan.

Pendidikan bukan semata soal kurikulum, gedung sekolah, atau capaian angka-angka akademik. Ia adalah proses manusiawi yang sangat bergantung pada mereka yang berada di garis depan pengajaran.

Masa depan pendidikan ditentukan oleh bagaimana negara memperlakukan gurunya: apakah sebagai pilar utama pembangunan manusia, atau sekadar pelaksana kebijakan yang dibiarkan berjuang sendiri.

Selama guru masih dipaksa bertahan hidup alih-alih diberi ruang untuk bertumbuh dan fokus mendidik, pendidikan akan sulit melompat jauh.

Jika pendidikan benar-benar ingin diprioritaskan, maka langkah paling mendasar adalah memastikan guru dapat hidup layak dari profesinya tanpa harus meninggalkan ruang kelas demi mencari nafkah tambahan.

Konten ini merupakan opini/laporan buatan blogger dan telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Ketika Guru Harus Double Job, Pendidikan Sedang Dipertaruhkan"

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau