
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Ketika setelah jam sekolah guru masih harus bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup, kelelahan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.
Kondisi ini berdampak pada minimnya waktu persiapan pembelajaran. Guru datang ke kelas dengan sumber daya yang terbatas, bukan karena kurang kompeten, tetapi karena waktu dan energi mereka telah terpotong oleh tuntutan ekonomi.
Ruang untuk refleksi, inovasi metode, dan pengembangan diri menjadi semakin sempit. Padahal, kualitas pendidikan justru tumbuh dari proses berpikir yang tenang, berkelanjutan, dan didukung oleh kondisi kerja yang layak.
Dalam jangka panjang, tekanan ini berpotensi memicu kelelahan berkepanjangan atau burnout. Mengajar berisiko bergeser dari panggilan profesi menjadi rutinitas administratif semata.
Pembelajaran dijalankan sekadar memenuhi kewajiban, bukan sebagai proses membangun pemahaman, karakter, dan daya kritis siswa. Ketika kondisi ini terjadi secara luas, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga oleh seluruh ekosistem pendidikan.
Profesi Guru dan Menurunnya Daya Tarik Talenta Terbaik
Ketika profesi guru tidak mampu menjanjikan kesejahteraan yang layak, daya tariknya perlahan memudar di mata generasi muda berprestasi. Banyak lulusan terbaik memilih menyalurkan kemampuan mereka ke sektor lain yang menawarkan kepastian ekonomi dan pengakuan sosial yang lebih tinggi.
Akibatnya, dunia pendidikan kehilangan sumber daya manusia berkualitas sejak dari hulu, sebuah kerugian yang dampaknya baru terasa dalam jangka panjang, namun sangat menentukan masa depan pendidikan.
Kondisi ini kontras dengan yang terjadi di sejumlah negara maju. Di sana, menjadi guru adalah profesi prestisius dengan proses seleksi yang ketat. Tidak semua orang dapat masuk, dan justru karena itulah tuntutan profesionalismenya tinggi.
Gaji yang layak bukan dimaksudkan untuk memanjakan, melainkan menjadi fondasi agar negara dapat menuntut kinerja, dedikasi, dan kualitas terbaik dari para pendidiknya.
Pengalaman berbagai negara menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan berjalan seiring dengan cara negara tersebut memperlakukan gurunya. Singapura, Jerman, Swiss, Luksemburg, dan Finlandia kerap dijadikan rujukan karena menempatkan profesi guru sebagai pilar strategis pembangunan manusia.
Sedangkan di negara-negara tersebut, kesejahteraan guru dijamin sehingga mereka tidak perlu mencari penghasilan tambahan di luar profesinya.
Finlandia, misalnya, meski tidak selalu berada di puncak peringkat tes internasional terbaru, tetap dipandang sebagai contoh sistem pendidikan yang sehat.
Guru diberikan kepercayaan tinggi, otonomi profesional, serta jaminan kesejahteraan yang memungkinkan mereka fokus sepenuhnya pada proses belajar-mengajar.
Pola serupa juga terlihat di Singapura dan Jerman, di mana kesejahteraan menjadi dasar untuk menuntut standar profesionalisme yang tinggi.