Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
agus hendrawan
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama agus hendrawan adalah seorang yang berprofesi sebagai Guru. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Bel Sekolah Otomatis dan Pelajaran Berharga dari Guru Berani Mencoba

Kompas.com, 9 Februari 2026, 15:00 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah dorongan agar sekolah semakin terdigitalisasi, tidak semua pendidik dan tenaga kependidikan merasa berada di posisi yang sama.

Teknologi sering disebut sebagai solusi untuk berbagai persoalan, namun di saat yang bersamaan, ia juga bisa menjadi sumber kecanggungan bagi sebagian orang mereka yang merasa tertinggal, ragu untuk mencoba, atau akhirnya hanya menjadi pengguna pasif dari sistem yang dibuat oleh pihak lain.

Terus terang, saya termasuk dalam kelompok tersebut.

Saya bukan berlatar belakang teknologi informasi. Pendidikan saya adalah guru IPS. Bahkan, jika boleh jujur, saya kerap merasa kurang akrab dengan dunia teknologi.

Meski pernah mengikuti kursus komputer di era DOS Prompt, setelah itu saya lebih sering menggunakan apa yang sudah tersedia daripada mencoba membuat sesuatu sendiri.

Di sekolah, kami menggunakan sistem bel sekolah otomatis. Selama ini, bel tersebut mengandalkan aplikasi buatan pihak ketiga ada yang gratis, ada pula yang berbayar.

Bertahun-tahun saya menganggap itu sebagai sesuatu yang wajar. “Memang beginilah caranya,” pikir saya saat itu.

Namun, seiring waktu, muncul berbagai kendala. Aplikasi tidak selalu mudah diubah sesuai kebutuhan sekolah. Ketergantungan pada pihak lain terasa cukup besar. Ketika terjadi gangguan, pilihan kami terbatas: menunggu atau kembali mengeluarkan biaya.

Di sisi lain, guru piket tetap harus siaga setiap hari. Jika bel tidak berbunyi, maka bel manual harus dijalankan. Dalam praktiknya, kondisi ini melelahkan dan rawan terlewat, terutama di tengah aktivitas sekolah yang padat.

Dari situlah muncul keinginan untuk mencoba sesuatu yang berbeda.

Awal Mula Mencoba, dengan Banyak Keraguan

Suatu hari, saya memberanikan diri untuk bereksperimen. Bukan karena merasa mampu, melainkan karena rasa penasaran.

Saya mulai membaca dan mendengar tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang katanya dapat membantu banyak hal. Awalnya ragu, apakah mungkin saya yang bukan orang IT bisa memanfaatkannya? Ternyata, dengan pendekatan yang sederhana, hal itu tidak sepenuhnya mustahil.

Saya mencoba membuat sistem bel otomatis sederhana menggunakan komputer sekolah yang sudah terhubung dengan perangkat audio.

Prosesnya jauh dari kata lancar. Script sering kali mengalami error, bel tidak berbunyi sesuai jadwal, dan beberapa perintah tidak berjalan sebagaimana mestinya. Beberapa kali muncul keinginan untuk menyerah dan kembali menggunakan sistem lama.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Beasiswa dan Tanggung Jawab Berkontribusi untuk Negeri
Kata Netizen
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Ketika Media Sosial Terlalu Bising bagi Pikiran Kita
Kata Netizen
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Menjaga Kebahagiaan di Era Oversharing
Kata Netizen
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Berburu Takjil Membawa Wadah Sendiri, Langkah Kecil untuk Bumi
Kata Netizen
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Catatan Kali Pertama Banjir di Rumah Kami Setelah 19 Tahun
Kata Netizen
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Cara Mengelola Keuangan THR dengan Budget Map
Kata Netizen
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
LPDP dan Makna Kontribusi di Era Jaringan Global
Kata Netizen
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kekuatan Sederhana dari Senyum Seorang Guru
Kata Netizen
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kasih Sayang Ibu yang Tidak Selalu Terucap
Kata Netizen
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Seni Memilih, Apa yang Disimpan dan Mana yang Dilepas?
Kata Netizen
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Tentang Ibu yang Baru Kita Pahami Setelah Dewasa
Kata Netizen
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Sepiring Lauk Warteg dan Rindu yang Tak Pernah Usai dari Masakan Ibu
Kata Netizen
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Menimbang Perjodohan, antara Restu, Ragu, dan Rasa
Kata Netizen
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Hubungan Autophagy dengan Puasa
Kata Netizen
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kakak adalah Buku Kehidupan bagi Si Bungsu
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau