Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Budi Susilo
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata

Kompas.com, 8 Februari 2026, 16:17 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di balik rindangnya bayangan flyover Martadinata, apakah geliat usaha warga ini akan tumbuh menjadi ruang ekonomi rakyat yang tertata? Dan, apakah itu perlahan menggerus fungsi ruang publik yang semestinya kita jaga bersama?

Sebuah foto segelas kopi yang saya unggah di grup WhatsApp Stroke Survivor memancing pertanyaan ringan dari salah satu anggota: “Ngopi kok nggak ajak-ajak. Di kafe mana? Kok ada kereta?”

Di foto itu terlihat segelas kopi kecil dengan latar kereta yang melintas. Saya tidak sedang berada di kafe kekinian, apalagi coffee shop dengan ambience estetik.

Saya duduk di sebuah lapak kopi pinggir jalan, persis di dekat rel kereta, di bawah flyover Martadinata, Kota Bogor.

Dari tempat duduk sederhana itu, rangkaian Commuter Line terlihat melintas, mengangkut penumpang dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Kota Jakarta dan sebaliknya.

Kereta panjang itu bergerak teratur di atas rel besi, menjadi pemandangan sehari-hari yang menemani aktivitas warga termasuk para pedagang kaki lima.

Lapak kopi dan lontong sayur berdiri di atas trotoar yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Saya duduk di tembok pembatas taman, sementara kopi disajikan di atas meja kayu sederhana yang dilapisi terpal plastik.

Meski matahari kian meninggi, panasnya tak terlalu terasa. Struktur beton flyover yang menjulang tinggi menjadi atap raksasa yang menahan terik.

Flyover Martadinata diresmikan pada Januari 2020 untuk mengurai kemacetan di perlintasan kereta Jl. RE Martadinata. Sebelum ada jalan layang, titik ini dikenal sebagai salah satu “kerajaan macet” di Kota Bogor.

Kini, selain menjadi jalur bebas hambatan, ruang di bawahnya juga menghadirkan suasana teduh dan rupanya, peluang ekonomi.

Ngopi di bawah flyover terasa adem, baik di badan maupun di kantong. Harga kopi seduh hanya lima ribu rupiah. Selain kopi, tersedia lontong sayur untuk sarapan.

Sedangkan di trotoar lain, berderet gerobak makanan: baso aci (baslok), gado-gado, gorengan, nasi ayam penyet, angkringan, mie ayam, siomay pikulan, bakso gerobak, dan beberapa lainnya.

Tidak semua pedagang beroperasi bersamaan. Penjual kopi dan gado-gado biasanya mulai sejak pagi.

Gerobak baslok sempat “cuti”. Pedagang lain baru membuka lapak siang hingga sore hari. Menurut penjual kopi, yang paling ramai justru pedagang bakso dorong. Mulai beroperasi sekitar pukul setengah sebelas, antrean pembeli kerap mengular.

Saya teringat kunjungan tahun lalu. Saat itu, jumlah pedagang masih terbatas—hanya kopi, lontong sayur, dan mie ayam.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Savana Baluran Musim Hujan: Keindahan, Tantangan, dan Harapan
Kata Netizen
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Ini Cerita dan Potret Usaha Mikro di Bawah Flyover Martadinata
Kata Netizen
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Ruang Tamu yang Sunyi di Tengah Riuhnya Budaya Ngopi
Kata Netizen
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kecuk dan Perjalanan Panjang Menjaga Nada Tradisi
Kata Netizen
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Ketika Pasar Saham Bergejolak, Apa Artinya bagi Ekonomi Masyarakat?
Kata Netizen
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan
Kata Netizen
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Lebih dari Soal Alat Tulis dan Rapuhnya Jaring Pengaman Sosial
Kata Netizen
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Ketika Pertanyaan Anak Menjadi Cermin Cara Dewasa Berpikir
Kata Netizen
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Alasan-alasan Kita Jarang Bertamu ke Rumah Tetangga
Kata Netizen
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Satu Batik, Banyak Fungsi, dan Busana Lokal yang Tak Pernah Keliru
Kata Netizen
Rawon, Lodeh, dan Kenangan: Kisah Depot Asri Bu Saerun Sejak 1950an
Rawon, Lodeh, dan Kenangan: Kisah Depot Asri Bu Saerun Sejak 1950an
Kata Netizen
Banjir Datang, Aktivitas Tak Mesti Ikut Terhenti
Banjir Datang, Aktivitas Tak Mesti Ikut Terhenti
Kata Netizen
Ketika Rumah, Buku, dan Kopi Menjadi Ruang Literasi
Ketika Rumah, Buku, dan Kopi Menjadi Ruang Literasi
Kata Netizen
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Batu Angus, Jejak Lava dan Cerita Gunung Gamalama
Kata Netizen
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Menyusuri Jepara Lewat Tiga Sajian Khas Daerah
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau