
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di balik rindangnya bayangan flyover Martadinata, apakah geliat usaha warga ini akan tumbuh menjadi ruang ekonomi rakyat yang tertata? Dan, apakah itu perlahan menggerus fungsi ruang publik yang semestinya kita jaga bersama?
Sebuah foto segelas kopi yang saya unggah di grup WhatsApp Stroke Survivor memancing pertanyaan ringan dari salah satu anggota: “Ngopi kok nggak ajak-ajak. Di kafe mana? Kok ada kereta?”
Di foto itu terlihat segelas kopi kecil dengan latar kereta yang melintas. Saya tidak sedang berada di kafe kekinian, apalagi coffee shop dengan ambience estetik.
Saya duduk di sebuah lapak kopi pinggir jalan, persis di dekat rel kereta, di bawah flyover Martadinata, Kota Bogor.
Dari tempat duduk sederhana itu, rangkaian Commuter Line terlihat melintas, mengangkut penumpang dari Stasiun Bogor menuju Stasiun Kota Jakarta dan sebaliknya.
Kereta panjang itu bergerak teratur di atas rel besi, menjadi pemandangan sehari-hari yang menemani aktivitas warga termasuk para pedagang kaki lima.
Lapak kopi dan lontong sayur berdiri di atas trotoar yang sejatinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Saya duduk di tembok pembatas taman, sementara kopi disajikan di atas meja kayu sederhana yang dilapisi terpal plastik.
Meski matahari kian meninggi, panasnya tak terlalu terasa. Struktur beton flyover yang menjulang tinggi menjadi atap raksasa yang menahan terik.
Flyover Martadinata diresmikan pada Januari 2020 untuk mengurai kemacetan di perlintasan kereta Jl. RE Martadinata. Sebelum ada jalan layang, titik ini dikenal sebagai salah satu “kerajaan macet” di Kota Bogor.
Kini, selain menjadi jalur bebas hambatan, ruang di bawahnya juga menghadirkan suasana teduh dan rupanya, peluang ekonomi.
Ngopi di bawah flyover terasa adem, baik di badan maupun di kantong. Harga kopi seduh hanya lima ribu rupiah. Selain kopi, tersedia lontong sayur untuk sarapan.
Sedangkan di trotoar lain, berderet gerobak makanan: baso aci (baslok), gado-gado, gorengan, nasi ayam penyet, angkringan, mie ayam, siomay pikulan, bakso gerobak, dan beberapa lainnya.
Tidak semua pedagang beroperasi bersamaan. Penjual kopi dan gado-gado biasanya mulai sejak pagi.
Gerobak baslok sempat “cuti”. Pedagang lain baru membuka lapak siang hingga sore hari. Menurut penjual kopi, yang paling ramai justru pedagang bakso dorong. Mulai beroperasi sekitar pukul setengah sebelas, antrean pembeli kerap mengular.
Saya teringat kunjungan tahun lalu. Saat itu, jumlah pedagang masih terbatas—hanya kopi, lontong sayur, dan mie ayam.