
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Bagaimana mungkin pendidikan diminta melahirkan generasi unggul jika para gurunya harus membagi energi antara ruang kelas dan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan hidup?
Setiap pagi, jutaan guru berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Mereka hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, teladan, dan penjaga nilai.
Namun ketika bel pulang berbunyi, tidak semua dari mereka benar-benar pulang untuk beristirahat atau menyiapkan materi pembelajaran esok hari.
Sebagian guru justru berganti peran. Ada yang mengenakan jaket pengemudi ojek daring, membuka lapak kecil untuk berdagang, mengajar les privat hingga larut malam, atau menekuni pekerjaan sampingan lain demi menutup kebutuhan hidup. Aktivitas ini bukan dilakukan karena pilihan, melainkan karena keharusan.
Realitas tersebut bukan kisah segelintir individu, melainkan potret kondisi sistem pendidikan yang masih menempatkan gurunya dalam posisi rentan secara ekonomi. Di satu sisi, pendidikan dituntut melahirkan generasi yang unggul, kreatif, dan siap bersaing di tingkat global.
Di sisi lain, para pendidik yang memikul tanggung jawab besar itu belum sepenuhnya mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai untuk fokus pada tugas utamanya: mendidik.
Penting untuk ditegaskan bahwa fenomena guru yang harus bekerja sampingan bukanlah persoalan kurangnya dedikasi atau profesionalisme individu. Justru sebaliknya, ini adalah persoalan struktural yang berkaitan dengan bagaimana negara dan masyarakat memosisikan profesi guru.
Ketika penghasilan dari mengajar belum cukup untuk hidup layak, maka fokus, energi, dan kualitas pengajaran berisiko terkikis secara perlahan.
Di titik inilah, pendidikan sesungguhnya sedang dipertaruhkan.
Pendidikan sulit berkembang secara optimal jika guru tidak memiliki ruang untuk sepenuhnya berkonsentrasi pada proses belajar-mengajar. Ketika gaji yang diterima belum mampu memenuhi kebutuhan dasar, guru terpaksa mencari sumber penghasilan tambahan di luar profesinya.
Dari kondisi inilah lahir keharusan untuk menjalani double job, yang pada gilirannya memunculkan kelelahan fisik dan mental, keterbatasan waktu, serta berkurangnya ruang refleksi profesional.
Hubungan antara tekanan ekonomi dan kualitas pendidikan bersifat langsung dan sistemik. Semakin besar beban ekonomi yang ditanggung guru, semakin terbatas pula energi dan perhatian yang dapat mereka curahkan kepada siswa. Inilah akar persoalan yang kerap luput dari sorotan ketika mutu pendidikan dipersoalkan.
Dampak Double Job terhadap Kualitas Pembelajaran
Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan kerja intelektual dan emosional yang menuntut kesiapan utuh.
Guru dituntut untuk memahami kebutuhan siswa, merancang pembelajaran yang bermakna, serta terus mengevaluasi pendekatan pengajaran.