Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Noer Ashari
Penulis di Kompasiana

Blogger Kompasiana bernama Noer Ashari adalah seorang yang berprofesi sebagai Operator. Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Beban Ekonomi Guru dan Tantangan Pendidikan

Kompas.com, 8 Februari 2026, 09:29 WIB

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Bagaimana mungkin pendidikan diminta melahirkan generasi unggul jika para gurunya harus membagi energi antara ruang kelas dan pekerjaan lain demi memenuhi kebutuhan hidup?

Setiap pagi, jutaan guru berdiri di depan kelas, menyampaikan pelajaran dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi. Mereka hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing, teladan, dan penjaga nilai.

Namun ketika bel pulang berbunyi, tidak semua dari mereka benar-benar pulang untuk beristirahat atau menyiapkan materi pembelajaran esok hari.

Sebagian guru justru berganti peran. Ada yang mengenakan jaket pengemudi ojek daring, membuka lapak kecil untuk berdagang, mengajar les privat hingga larut malam, atau menekuni pekerjaan sampingan lain demi menutup kebutuhan hidup. Aktivitas ini bukan dilakukan karena pilihan, melainkan karena keharusan.

Realitas tersebut bukan kisah segelintir individu, melainkan potret kondisi sistem pendidikan yang masih menempatkan gurunya dalam posisi rentan secara ekonomi. Di satu sisi, pendidikan dituntut melahirkan generasi yang unggul, kreatif, dan siap bersaing di tingkat global.

Di sisi lain, para pendidik yang memikul tanggung jawab besar itu belum sepenuhnya mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai untuk fokus pada tugas utamanya: mendidik.

Penting untuk ditegaskan bahwa fenomena guru yang harus bekerja sampingan bukanlah persoalan kurangnya dedikasi atau profesionalisme individu. Justru sebaliknya, ini adalah persoalan struktural yang berkaitan dengan bagaimana negara dan masyarakat memosisikan profesi guru.

Ketika penghasilan dari mengajar belum cukup untuk hidup layak, maka fokus, energi, dan kualitas pengajaran berisiko terkikis secara perlahan.

Di titik inilah, pendidikan sesungguhnya sedang dipertaruhkan.

Pendidikan sulit berkembang secara optimal jika guru tidak memiliki ruang untuk sepenuhnya berkonsentrasi pada proses belajar-mengajar. Ketika gaji yang diterima belum mampu memenuhi kebutuhan dasar, guru terpaksa mencari sumber penghasilan tambahan di luar profesinya.

Dari kondisi inilah lahir keharusan untuk menjalani double job, yang pada gilirannya memunculkan kelelahan fisik dan mental, keterbatasan waktu, serta berkurangnya ruang refleksi profesional.

Hubungan antara tekanan ekonomi dan kualitas pendidikan bersifat langsung dan sistemik. Semakin besar beban ekonomi yang ditanggung guru, semakin terbatas pula energi dan perhatian yang dapat mereka curahkan kepada siswa. Inilah akar persoalan yang kerap luput dari sorotan ketika mutu pendidikan dipersoalkan.

Dampak Double Job terhadap Kualitas Pembelajaran

Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, melainkan kerja intelektual dan emosional yang menuntut kesiapan utuh.

Guru dituntut untuk memahami kebutuhan siswa, merancang pembelajaran yang bermakna, serta terus mengevaluasi pendekatan pengajaran.

Halaman:

Video Pilihan Video Lainnya >

Terkini Lainnya
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Ketika Kesibukan Tidak Lagi Cukup
Kata Netizen
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Ketika Liburan Usai, Mengubah Rasa Enggan Jadi Kesiapan
Kata Netizen
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Efisiensi BBM di Tengah Kemacetan Sekolah, Apa Solusinya?
Kata Netizen
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Potret Remaja Perempuan di Wilayah 3T
Kata Netizen
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Lulusan D3 dan Akses Beasiswa, Mengapa Masih Terbatas?
Kata Netizen
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Menjelajah Pasar Papringan Temanggung
Kata Netizen
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kisah di Balik Barang Kenangan, dari Koleksi Lama ke Ruang Baru
Kata Netizen
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Ruang Hijau yang Hilang, Kenyamanan yang Ikut Pergi
Kata Netizen
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Di Balik Kesederhanaannya, Tutug Oncom Simpan Gizi dan Tradisi
Kata Netizen
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Arus Urbanisasi Pascalebaran, antara Harapan dan Keterbatasan Desa
Kata Netizen
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
WFH dan Krisis BBM, Seberapa Efektif Menekan Konsumsi Energi?
Kata Netizen
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kisah Tumpukan Setrikaan saat Lebaran Usai
Kata Netizen
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
THR dan Realitas Finansial, Saatnya Lebih Jujur pada Diri Sendiri
Kata Netizen
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Jejak Rasa Sederhana, Kisah Pumpuk dari Belitung
Kata Netizen
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Ini Rasanya ke Negara Blok M Setelah Lebaran
Kata Netizen
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau