
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Apakah pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekadar gejolak pasar jangka pendek, atau justru sinyal dari persoalan yang lebih mendasar dalam perekonomian Indonesia? Selain itu, apa dampaknya bagi kehidupan masyarakat sehari-hari?
Hingga penutupan perdagangan sesi I pada Senin, 2 Februari 2026, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum sejalan dengan optimisme pemerintah.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keyakinannya bahwa pasar akan bergerak positif.
Namun, data perdagangan menunjukkan arah yang berbeda. Berdasarkan pantauan Stockbit, menjelang penutupan sesi I pukul 11.59 WIB, IHSG justru turun tajam 5,31 persen atau melemah 442,44 poin ke level 7.887,16.
Tekanan jual meluas, terutama pada saham-saham berkapitalisasi besar, sehingga mayoritas sektor bergerak di zona merah.
Sejumlah analis menilai tekanan ini tidak berdiri sendiri. IDX Channel mencatat bahwa pasar masih dibayangi kekhawatiran pasca-peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait isu investability dan transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Meski otoritas pasar telah berupaya meredam kekhawatiran tersebut, sentimen investor global terlanjur terpengaruh.
Faktor eksternal turut memperberat situasi. Dari Amerika Serikat, Presiden Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Gubernur The Federal Reserve menggantikan Jerome Powell.
Bagi pasar global, langkah ini dipersepsikan sebagai sinyal bahwa penurunan suku bunga acuan AS akan berlangsung lebih lambat, sehingga mendorong penguatan dolar AS dan menarik kembali likuiditas dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Ketika Kepercayaan Investor Global Mulai Melemah
Pelemahan tajam pasar saham Indonesia dinilai sebagian kalangan sebagai refleksi dari menurunnya kepercayaan institusi global. Peringatan dari MSCI menjadi pemicu utama perubahan sikap sejumlah pengelola dana besar.
Nomura, pengelola aset terbesar di Jepang dengan nilai kelolaan mencapai sekitar US$153 triliun, menurunkan rekomendasi saham Indonesia menjadi netral dari sebelumnya overweight. Langkah ini mengikuti keputusan Goldman Sachs dan UBS yang lebih dulu mengurangi eksposur mereka terhadap pasar saham Indonesia.
Goldman Sachs bahkan menurunkan rekomendasi menjadi underweight sejak akhir Januari 2026, tak lama setelah MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham.
Kekhawatiran utama para investor global adalah potensi penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market, sebuah perubahan yang berimplikasi besar terhadap aliran dana internasional.
Bloomberg mengutip pernyataan Chetan Seth, strategis dari Nomura, yang mengakui bahwa peringatan MSCI datang di luar perkiraan.
Sebelumnya, Indonesia dipandang memiliki valuasi menarik dan prospek pertumbuhan yang relatif stabil. Namun, ketidakpastian regulasi dan keterbatasan transparansi menjadi faktor yang memaksa investor mengambil sikap lebih berhati-hati.