
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Selama lebih dari empat jam, saya membimbing mereka satu per satu untuk merefleksikan kesalahan yang pernah mereka buat serta hal-hal yang telah mereka pelajari selama menulis jurnal.
Hasilnya cukup menggembirakan. Mereka memahami grammar dengan cara yang lebih praktis dan reflektif, bukan sekadar menghafal teori di dalam kelas.
Lantas, apakah bentuk kontribusi harus selalu sama? Tentu tidak.
Saya juga pernah memperoleh beasiswa dari sebuah universitas di Taiwan. Berbeda dengan beberapa program beasiswa lainnya, program tersebut tidak mensyaratkan penerima beasiswa untuk kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi. Artinya, saya memiliki kesempatan untuk tetap tinggal dan bekerja di sana jika menginginkannya.
Namun, saya memilih untuk kembali ke kampung halaman.
Meskipun dana studi saya tidak berasal dari pemerintah Indonesia, saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berbagi ilmu yang telah saya dapatkan. Saya kembali mengajar di salah satu perguruan tinggi dan membimbing ratusan mahasiswa.
Ilmu yang saya pelajari di Taiwan saya gunakan secara langsung, terutama ketika membimbing mahasiswa dalam penulisan skripsi. Saya mengarahkan mereka untuk memahami metodologi penelitian dengan baik serta menulis karya ilmiah secara sistematis.
Mahasiswa saya ajak untuk belajar menganalisis jurnal akademik, mencari referensi yang relevan, serta mengolah data penelitian sesuai kebutuhan studi mereka.
Selain mengajar di kampus, saya juga memimpin sebuah lembaga bahasa Inggris. Di sana, saya merancang berbagai program pembelajaran serta menginisiasi kerja sama pelatihan bagi guru bahasa Inggris.
Pelatihan tersebut menghadirkan penutur asli dari Amerika Serikat sebagai pemateri. Mereka berkunjung ke berbagai sekolah untuk berbagi pengalaman dan teknik mengajar bahasa Inggris. Para guru mendapatkan banyak wawasan baru dari sesi pelatihan tersebut.
Bentuk kontribusi lain yang kami lakukan adalah membuka kelas TOEFL gratis bagi mahasiswa yang kurang mampu. Pada saat itu, saya mengajar langsung tanpa menerima bayaran.
Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya semakin yakin bahwa setiap penerima beasiswa dapat berkontribusi dengan cara yang berbeda.
Kontribusi tidak harus selalu terlihat besar atau spektakuler. Yang terpenting adalah melakukan sesuatu yang mungkin dilakukan, sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.
Seorang guru dapat berkontribusi melalui pendidikan. Dokter dapat menyelenggarakan pelatihan kesehatan bagi masyarakat. Arsitek dapat membantu merancang rumah yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Semua itu bisa dilakukan secara individu maupun kolektif.
Kontribusi juga tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Justru sering kali langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak yang berarti.